Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Serangan Udara Israel di Gaza Tewaskan 32 Orang

Thalatie K Yani
01/2/2026 08:41
Serangan Udara Israel di Gaza Tewaskan 32 Orang
Gelombang serangan udara Israel di Gaza menewaskan sedikitnya 32 orang, termasuk perempuan dan anak-anak. Gencatan senjata yang dimediasi AS berada di ambang kolaps.(Time of Gaza)

SEDIKITNYA 32 orang dilaporkan tewas dalam gelombang serangan udara Israel di seluruh Jalur Gaza, Sabtu (31/1/2026). Otoritas pertahanan sipil setempat menyatakan korban jiwa mencakup perempuan dan anak-anak, menandai eskalasi paling mematikan sejak fase kedua gencatan senjata diberlakukan awal bulan ini.

Warga Palestina menggambarkan serangan kali ini sebagai yang terberat sejak kesepakatan gencatan senjata, yang dimediasi oleh Presiden AS Donald Trump pada Oktober tahun lalu, mulai berjalan. Salah satu serangan paling mematikan dilaporkan menghantam tenda pengungsi di Khan Younis menggunakan helikopter tempur.

Saling Tuding Pelanggaran Gencatan Senjata

Militer Israel (IDF) mengonfirmasi serangan tersebut sebagai respons atas dugaan pelanggaran kesepakatan Hamas, Jumat. Dalam pernyataannya, IDF menyebut telah mengidentifikasi delapan milisi yang keluar dari infrastruktur terowongan di Rafah timur.

Selain itu, IDF mengklaim serangan tersebut menargetkan empat komandan Hamas, fasilitas penyimpanan senjata, serta situs peluncuran roket di Gaza tengah. Sebaliknya, Hamas mengutuk keras aksi tersebut dan menuduh pemerintah Israel terus melanjutkan "perang genosida yang brutal" meski sedang dalam masa gencatan senjata.

Di Rumah Sakit Shifa, Kota Gaza, petugas medis melaporkan lima korban tewas dari satu apartemen, termasuk tiga anak-anak. Pihak keluarga korban meluapkan kesedihan mereka atas insiden ini.

"Kami menemukan tiga keponakan kecil saya di jalanan. Mereka bilang 'gencatan senjata' dan sebagainya. Apa salah anak-anak itu? Apa yang telah kami lakukan?" ujar Samer al-Atbash, paman dari anak-anak yang tewas tersebut.

Upaya Mediasi dan Krisis Kemanusiaan

Eskalasi ini memicu kecaman internasional. Mesir mendesak semua pihak untuk menahan diri. Sementara Qatar, sebagai salah satu mediator utama, mengecam pelanggaran berulang yang dilakukan Israel.

Gencatan senjata ini sebenarnya telah memasuki fase kedua sejak awal Januari 2026 di bawah pengawasan utusan khusus AS, Steve Witkoff. Fase ini direncanakan untuk membentuk pemerintahan teknokratis di Gaza, memulai rekonstruksi, dan melakukan demiliterisasi penuh.

Perang yang meletus sejak 7 Oktober 2023 ini telah memakan korban jiwa yang sangat besar. Berdasarkan data kementerian kesehatan di Gaza yang diakui oleh PBB, lebih dari 71.660 warga Palestina telah tewas sejak awal konflik. Sebanyak 509 di antaranya tewas setelah gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober 2025.

Serangan terbaru ini terjadi tepat sebelum pintu perlintasan Rafah direncanakan dibuka kembali pada hari Minggu, menyusul penemuan jenazah sandera terakhir Israel awal pekan ini. Kini, masa depan proses perdamaian di Gaza kembali berada dalam ketidakpastian besar. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya