Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Ketegangan AS-Iran Meningkat, Teheran Batasi Wilayah Udara di Selat Hormuz

Ferdian Ananda Majni
28/1/2026 15:16
Ketegangan AS-Iran Meningkat, Teheran Batasi Wilayah Udara di Selat Hormuz
Area Selat Hormuz, yang jadi area pusat ketegangan AS-Iran.(Dok. Google Maps)

IRAN mengeluarkan peringatan penerbangan atau Notice to Airmen (NOTAM) terkait latihan tembakan langsung di wilayah udara sekitar Selat Hormuz, menandai peningkatan kesiapsiagaan militer di tengah memanasnya ketegangan dengan Amerika Serikat (AS) dan bertambahnya pengerahan militer AS di Timur Tengah.

Berdasarkan NOTAM tersebut, militer Iran akan menggelar latihan tembakan langsung pada 27 hingga 29 Januari di area dengan radius lima mil laut di sekitar Selat Hormuz yang memiliki nilai strategis tinggi. Dalam pemberitahuan itu disebutkan bahwa wilayah udara dari permukaan hingga ketinggian 25.000 kaki akan dibatasi dan dinyatakan berbahaya selama latihan berlangsung.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia. Sekitar 21 juta barel minyak mentah melintasi selat ini setiap hari, atau setara hampir 37 persen dari total perdagangan minyak global melalui jalur laut, berdasarkan data energi dan pengiriman yang dikutip media Iran.

Latihan Militer AS 

Peringatan wilayah udara yang dikeluarkan Iran bertepatan dengan pengumuman Komando Pusat Angkatan Udara Amerika Serikat (AFCENT) mengenai pelaksanaan latihan kesiapan militer selama beberapa hari di seluruh wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS.

Latihan tersebut disebut bertujuan untuk menunjukkan kemampuan pengerahan cepat dan dukungan logistik di tengah kondisi yang oleh pejabat AS digambarkan sebagai meningkatnya ketidakstabilan regional.

Dalam waktu bersamaan, Amerika Serikat dilaporkan telah memperluas kehadiran militernya secara signifikan di kawasan Timur Tengah. 

Kapal induk USS Abraham Lincoln, yang dikawal sejumlah kapal perusak rudal berpemandu dengan kemampuan peluncuran rudal jelajah Tomahawk, dilaporkan telah memasuki perairan kawasan tersebut, menurut laporan media Amerika Serikat dan Israel.

Pejabat AS juga mengonfirmasi pengerahan jet tempur F-15E ke pangkalan militer di Yordania, bersamaan dengan pemindahan sistem pertahanan udara Patriot dan THAAD. Langkah ini dimaksudkan untuk melindungi pasukan AS dan instalasi sekutunya dari potensi serangan balasan.

Washington kembali menegaskan bahwa semua opsi tetap terbuka dalam menghadapi Teheran, seiring Amerika Serikat dan Israel secara terbuka terus membahas berbagai upaya untuk menekan atau bahkan mengubah sistem pemerintahan Iran.

Iran Siap 

Menanggapi situasi tersebut, para pejabat Iran menekankan kesiapan penuh militer mereka, meskipun tetap menyatakan bahwa jalur diplomasi masih menjadi pilihan utama. 

Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani mengatakan pada Selasa bahwa negaranya berada dalam kondisi siap sepenuhnya untuk menghadapi potensi konflik.

"Ini bukan pertama kalinya kita menghadapi ancaman seperti itu. Kita sebelumnya telah mengalami perang multi-tahap," kata Mohajerani dalam konferensi pers di Teheran, merujuk pada pengalaman Iran menghadapi konflik regional dan tekanan internasional di masa lalu.

Dia mengakui meningkatnya ketegangan yang dipicu oleh pemberitaan media asing dan pergerakan militer di kawasan. Namun demikian, Mohajerani menegaskan bahwa pemerintah Iran tetap berupaya menyelesaikan tantangan internal maupun eksternal melalui dialog.

"Kami percaya krisis ini harus diselesaikan dengan berdialog dengan rakyat dan mengakui tuntutan sah mereka," sebutnya.

Dia menambahkan bahwa pemerintah telah mengambil pendekatan berbeda dalam merespons protes yang terjadi baru-baru ini, termasuk dengan melibatkan demonstran damai dan melakukan penyelidikan terhadap insiden kekerasan.

Mohajerani juga menyinggung pembatasan akses internet yang masih diberlakukan. Dia menjelaskan bahwa keputusan terkait ancaman keamanan berada di bawah kewenangan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

Menurutnya, meskipun Presiden Iran Masoud Pezeshkian mendukung pelonggaran pembatasan tersebut, pertimbangan keamanan nasional saat ini tetap menjadi dasar utama dalam pengambilan kebijakan. (CNN/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya