Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Donald Trump kembali memicu kontroversi dalam pidato panjangnya di hadapan para konglomerat dan pejabat pemerintah di Forum Ekonomi Dunia (WEF) Davos, Swiss. Alih-alih meredakan ketegangan, pernyataan Trump justru mempertegas keretakan hubungan antara Amerika Serikat dan aliansi Barat.
Dalam pidatonya, Trump melontarkan berbagai keluhan, mulai dari merasa AS "dimanfaatkan" oleh Eropa hingga keheranannya mengapa ambisinya mengambil alih Greenland mendapat penolakan keras. Ia bahkan menyebut para pemimpin Eropa telah membuat benua mereka "tidak lagi dikenali" akibat kebijakan migrasi dan ekonomi radikal.
Meski dipenuhi retorika tajam, ada satu poin yang sedikit melegakan para pejabat Eropa. Trump menegaskan tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk merebut Greenland.
"Saya tidak akan menggunakan kekuatan," ujarnya singkat, pernyataan yang meredam kekhawatiran akan terjadinya konfrontasi fisik. Tak lama setelah pidato tersebut, Trump melalui platform Truth Social mengklaim telah mencapai "kerangka kesepakatan masa depan" terkait Greenland setelah bertemu Sekretaris Jenderal NATO. Ia juga membatalkan ancaman tarif yang sedianya berlaku bulan depan.
“Solusi ini, jika tuntas, akan menjadi hal yang luar biasa bagi Amerika Serikat dan seluruh negara NATO,” tulis Trump tanpa memberikan rincian teknis. Saat ditanya apakah kesepakatan itu memenuhi keinginannya memiliki Greenland sepenuhnya, Trump hanya menjawab, "Ini adalah kesepakatan jangka panjang."
Dalam argumennya, Trump bersikeras Greenland adalah bagian dari Amerika Utara dan seharusnya menjadi wilayah AS. Ia bahkan sempat melakukan blunder dengan menyebut Greenland sebagai "Islandia" sebanyak empat kali.
Trump juga menyerang Denmark sebagai negara yang "tidak tahu berterima kasih" karena menolak menyerahkan Greenland. Ia mengungkit sejarah Perang Dunia II, di mana Denmark jatuh ke tangan Jerman hanya dalam waktu enam jam.
"Kita (AS) terpaksa mengamankannya (Greenland) saat itu. Betapa bodohnya kita mengembalikannya? Sekarang, lihat betapa tidak bersyukurnya mereka," cetus Trump.
Tidak hanya Denmark, sejumlah negara dan tokoh juga menjadi sasaran kritik pedas sang Presiden:
Awalnya, ruangan dipenuhi penonton yang berdesakan demi mendengar Trump. Namun, seiring pidato yang melantur hingga satu jam suasana berubah menjadi canggung. Banyak hadirin hanya terdiam atau menggelengkan kepala saat Trump menyatakan, "Tanpa kami (AS), kalian semua sekarang mungkin akan bicara bahasa Jerman dan sedikit bahasa Jepang."
Menutup pidatonya yang eksentrik tersebut, Trump hanya berujar santai, "Sampai jumpa di sekitar." Pernyataan ini meninggalkan tanda tanya besar bagi masa depan aliansi transatlantik yang kini berada di titik nadir. (CNN/Z-2)
PM Kanada Mark Carney membantah klaim Gedung Putih bahwa dirinya menarik kembali kritik terhadap Trump. Simak polemik tarif 100% dan perdagangan dengan Tiongkok.
DI Davos, musim dingin seperti mengajari dunia untuk berhenti sejenak. Ia menurunkan tempo, meredam kebisingan, dan memaksa manusia kembali ke hal-hal yang paling mendasar.
Dewan Perdamaian Trump
Kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, Swis, bukan sekadar seremoni diplomatik.
PRESIDEN Prabowo Subianto berpidato di Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, Swiss, Kamis (22/1).
Presiden Prabowo Subianto tiba di Zurich untuk menghadiri WEF Annual Meeting 2026 di Davos dan dijadwalkan memaparkan konsep Prabowonomics.
LEMBAGA think tank GIF menilai kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS) menunjukkan kecenderungan yang semakin agresif dan koersif dalam merespons dinamika geopolitik global.
Megatsunami Greenland menjadi salah satu fenomena alam paling mengejutkan dalam beberapa tahun terakhir. Peristiwa ini bukan tsunami biasa.
PARA menteri luar negeri Uni Eropa untuk pertama kali dalam pertemuan pada Kamis (29/1) menyebut Amerika Serikat sebagai ancaman bagi benua tersebut.
Peristiwa ini bermula pada September 2023, namun detail penyebabnya baru terungkap melalui laporan penelitian internasional yang dirilis pada akhir 2024.
Menlu Sugiono menegaskan menjaga kepentingan nasional harus tetap menjadi prioritas utama dalam setiap langkah kebijakan luar negeri Indonesia.
Menlu Sugiono menegaskan Indonesia akan terus mendorong terciptanya perdamaian serta stabilitas internasional melalui jalur diplomasi dan penguatan kerja sama global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved