Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendapat peringatan keras terkait wacana intervensi militer untuk mengambil alih Greenland, wilayah otonom yang berada di bawah Denmark. Langkah tersebut dinilai berisiko memicu konflik langsung dengan NATO, mengingat Denmark merupakan anggota aliansi pertahanan tersebut. Peringatan itu disampaikan oleh anggota Parlemen AS dari Partai Republik, Michael McCaul, dalam program This Week yang disiarkan ABC pada Minggu (18/1) waktu setempat.
McCaul mengatakan, jika Amerika Serikat sampai menggunakan kekuatan militer terhadap Greenland, konsekuensinya bisa sangat serius bagi masa depan NATO. Ia mengakui bahwa Greenland memiliki nilai strategis yang tinggi. Namun, Amerika Serikat saat ini telah memiliki perjanjian yang memberikan akses penuh untuk kepentingan pertahanan, sehingga tidak ada alasan untuk melakukan invasi.
"Faktanya, presiden memiliki akses militer penuh ke Greenland untuk melindungi kita dari ancaman apa pun. Jika dia ingin membeli Greenland, itu lain cerita. Namun, jika dia melakukan invasi militer, itu akan membalikkan Pasal 5 NATO. Intinya memicu perang dengan NATO itu sendiri. Itu akan berakhir dengan menghapus NATO seperti yang kita kenal," ujarnya.
McCaul menambahkan bahwa penambahan kehadiran militer dapat dilakukan tanpa harus menyerang wilayah tersebut.
"Jika kita ingin menempatkan lebih banyak militer di sana, kita bisa; kita tidak perlu menginvasinya. Jika dia ingin membelinya, itu tidak masalah. Tetapi saya tidak melihat penjual yang bersedia saat ini," ujarnya
Pandangan serupa disampaikan Senator Partai Demokrat Chris Van Hollen, yang juga menjadi narasumber dalam program This Week. Ia menuding Presiden Trump tidak jujur ketika mengaitkan rencana penguasaan Greenland dengan alasan keamanan nasional.
"Denmark dan Greenland sama-sama mengatakan kepada Amerika Serikat, anda dapat mengambil tindakan apa pun yang Anda perlukan untuk melindungi keamanan Amerika Serikat dan, tentu saja, aliansi NATO," kata Van Hollen.
Dia menekankan bahwa AS sudah memiliki kehadiran militer di wilayah tersebut. "Kita sudah memiliki pangkalan di sana, dan kita dapat memperluas pangkalan itu," ucapnya.
Menurut Van Hollen, motif di balik wacana penguasaan Greenland bukanlah soal pertahanan ataupun keamanan. Itu adalah tentang perebutan tanah.
"Donald Trump ingin menguasai mineral dan sumber daya lain di Greenland, sama seperti alasan sebenarnya dia masuk ke Venezuela tidak ada hubungannya dengan menghentikan masuknya narkoba," sebutnya.
Ketika ditanya apakah Kongres dapat mencegah Trump menggunakan kekuatan militer untuk mengambil alih Greenland, Van Hollen mendorong penerapan Resolusi Kekuatan Perang (War Powers Resolution).
"Kita bisa, misalnya, memotong dana apa pun yang dapat digunakan untuk tujuan militer sehubungan dengan Greenland; kita bisa mengambil tindakan berdasarkan Resolusi Kekuatan Perang," katanya.
Namun, ia juga mengkritik sikap sebagian anggota Partai Republik. "Banyak kolega Republikan kita berbicara besar sampai tiba saatnya untuk memberikan suara," sebutnya.
"Kita melihat itu minggu lalu, di mana dua senator Republikan yang telah memilih untuk melanjutkan Resolusi Kekuatan Perang tentang Venezuela mundur. Jadi mereka harus berhenti memberi Donald Trump cek kosong," terangnya.
Selain isu Greenland, Van Hollen turut menyinggung ancaman Trump untuk melakukan intervensi militer di Iran, di tengah laporan ribuan demonstran tewas dalam aksi protes terhadap rezim Teheran.
"Saya tidak percaya kita harus menggunakan kekuatan militer Amerika untuk mencoba memaksakan demokrasi di Iran. Kita harus mendukung para demonstran," lanjutnya.
"Tetapi presiden Amerika Serikat tidak boleh menyarankan bahwa kita akan datang ke sana dan memberikan dukungan militer untuk menyingkirkan rezim tersebut." (E-3)
SERUAN Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang kian gencar agar AS merebut atau memperoleh Greenland memicu gelombang kritik baru, termasuk dari kalangan Partai Republik sendiri.
UNI Eropa mulai mempertimbangkan langkah balasan keras terhadap Amerika Serikat (AS) menyusul ancaman Presiden Donald Trump untuk memberlakukan tarif tinggi dan tekanan terkait Greenland.
Hari ke-1425 perang Rusia-Ukraina: Korban jiwa jatuh di Kharkiv & Kherson. Negosiasi keamanan digelar di Miami, sementara isu Greenland picu keretakan AS-Eropa yang untungkan posisi Rusia.
Ketegangan memuncak antara AS dan Eropa setelah Donald Trump mengancam tarif impor demi menguasai Greenland. PM Denmark Mette Frederiksen tegaskan kedaulatan.
Sebuah temuan ilmiah terbaru dari University of California, San Diego (UCSD) pada awal 2026 mengungkap ancaman serius tersembunyi di bawah lapisan es Greenland
SERUAN Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang kian gencar agar AS merebut atau memperoleh Greenland memicu gelombang kritik baru, termasuk dari kalangan Partai Republik sendiri.
PENTAGON di bawah Donald Trump menginstruksikan sekitar 1.500 personel militer aktif yang bermarkas di Alaska untuk bersiaga menghadapi kemungkinan penugasan ke Minnesota,
UNI Eropa mulai mempertimbangkan langkah balasan keras terhadap Amerika Serikat (AS) menyusul ancaman Presiden Donald Trump untuk memberlakukan tarif tinggi dan tekanan terkait Greenland.
Wacana boikot penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2026 di Amerika Serikat dinilai bisa menjadi bentuk tekanan politik paling ekstrem terhadap klaim Washington atas Greenland.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman pengenaan tarif impor tambahan terhadap negara-negara yang menolak mendukung langkah mengambil alih Greenland.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved