Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

AS Picu Perang dengan NATO jika Ngotot Kuasai Greenland

Ferdian Ananda Majni
19/1/2026 12:24
AS Picu Perang dengan NATO jika Ngotot Kuasai Greenland
Ilustrasi(Antara)

Pemerintahan Presiden Amerika  Serikat (AS) Donald Trump mendapat peringatan keras terkait wacana intervensi militer untuk mengambil alih Greenland, wilayah otonom yang berada di bawah Denmark. Langkah tersebut dinilai berisiko memicu konflik langsung dengan NATO, mengingat Denmark merupakan anggota aliansi pertahanan tersebut. Peringatan itu disampaikan oleh anggota Parlemen AS dari Partai Republik, Michael McCaul, dalam program This Week yang disiarkan ABC pada Minggu (18/1) waktu setempat. 

McCaul mengatakan, jika Amerika Serikat sampai menggunakan kekuatan militer terhadap Greenland, konsekuensinya bisa sangat serius bagi masa depan NATO. Ia mengakui bahwa Greenland memiliki nilai strategis yang tinggi. Namun, Amerika Serikat saat ini telah memiliki perjanjian yang memberikan akses penuh untuk kepentingan pertahanan, sehingga tidak ada alasan untuk melakukan invasi.

"Faktanya, presiden memiliki akses militer penuh ke Greenland untuk melindungi kita dari ancaman apa pun. Jika dia ingin membeli Greenland, itu lain cerita. Namun, jika dia melakukan invasi militer, itu akan membalikkan Pasal 5 NATO. Intinya memicu perang dengan NATO itu sendiri. Itu akan berakhir dengan menghapus NATO seperti yang kita kenal," ujarnya.

McCaul menambahkan bahwa penambahan kehadiran militer dapat dilakukan tanpa harus menyerang wilayah tersebut.

"Jika kita ingin menempatkan lebih banyak militer di sana, kita bisa; kita tidak perlu menginvasinya. Jika dia ingin membelinya, itu tidak masalah. Tetapi saya tidak melihat penjual yang bersedia saat ini," ujarnya 

Pandangan serupa disampaikan Senator Partai Demokrat Chris Van Hollen, yang juga menjadi narasumber dalam program This Week. Ia menuding Presiden Trump tidak jujur ketika mengaitkan rencana penguasaan Greenland dengan alasan keamanan nasional.

"Denmark dan Greenland sama-sama mengatakan kepada Amerika Serikat, anda dapat mengambil tindakan apa pun yang Anda perlukan untuk melindungi keamanan Amerika Serikat dan, tentu saja, aliansi NATO," kata Van Hollen.

Dia menekankan bahwa AS sudah memiliki kehadiran militer di wilayah tersebut. "Kita sudah memiliki pangkalan di sana, dan kita dapat memperluas pangkalan itu," ucapnya.

Menurut Van Hollen, motif di balik wacana penguasaan Greenland bukanlah soal pertahanan ataupun keamanan. Itu adalah tentang perebutan tanah.

"Donald Trump ingin menguasai mineral dan sumber daya lain di Greenland, sama seperti alasan sebenarnya dia masuk ke Venezuela tidak ada hubungannya dengan menghentikan masuknya narkoba," sebutnya.

Ketika ditanya apakah Kongres dapat mencegah Trump menggunakan kekuatan militer untuk mengambil alih Greenland, Van Hollen mendorong penerapan Resolusi Kekuatan Perang (War Powers Resolution).

"Kita bisa, misalnya, memotong dana apa pun yang dapat digunakan untuk tujuan militer sehubungan dengan Greenland; kita bisa mengambil tindakan berdasarkan Resolusi Kekuatan Perang," katanya.

Namun, ia juga mengkritik sikap sebagian anggota Partai Republik. "Banyak kolega Republikan kita berbicara besar sampai tiba saatnya untuk memberikan suara," sebutnya.

"Kita melihat itu minggu lalu, di mana dua senator Republikan yang telah memilih untuk melanjutkan Resolusi Kekuatan Perang tentang Venezuela mundur. Jadi mereka harus berhenti memberi Donald Trump cek kosong," terangnya.

Selain isu Greenland, Van Hollen turut menyinggung ancaman Trump untuk melakukan intervensi militer di Iran, di tengah laporan ribuan demonstran tewas dalam aksi protes terhadap rezim Teheran.

"Saya tidak percaya kita harus menggunakan kekuatan militer Amerika untuk mencoba memaksakan demokrasi di Iran. Kita harus mendukung para demonstran," lanjutnya. 

"Tetapi presiden Amerika Serikat tidak boleh menyarankan bahwa kita akan datang ke sana dan memberikan dukungan militer untuk menyingkirkan rezim tersebut." (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik