Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAT Hormuz kembali menjadi sorotan utama dalam dinamika geopolitik internasional seiring meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Jalur perairan sempit ini dinilai sebagai titik paling rentan dalam distribusi energi global, di mana gangguan kecil saja dapat memicu guncangan ekonomi dunia.
Pada akhir Januari 2026, seorang komandan senior angkatan laut Garda Revolusi Iran mengeluarkan ancaman keras untuk menutup Selat Hormuz jika fasilitas militer mereka terus menjadi target serangan.
Pernyataan ini muncul sebagai respons atas sikap tegas Presiden AS, Donald Trump, yang menginstruksikan operasi militer gabungan bersama Israel terhadap situs-situs strategis di Iran.
Meskipun Iran secara historis jarang melakukan blokade total, tindakan membatasi akses di sebagian wilayah selat dengan alasan latihan militer sering kali dilakukan untuk menunjukkan kekuatan tawar (bargaining power) Teheran di mata internasional.
Secara geografis, Selat Hormuz terletak di antara Iran dan wilayah eksklave Oman, Musandam. Berikut adalah fakta-fakta kunci yang menjadikannya jalur paling sensitif secara militer dan ekonomi:
| Komoditas | Volume / Persentase |
|---|---|
| Minyak Mentah & Petroleum | 20 Juta Barel / Hari |
| Gas Alam Cair (LNG) | 20% Perdagangan Global |
| Tujuan Ekspor Utama | Pasar Asia (>80%) |
Garda Revolusi Iran memegang kendali penuh atas operasi angkatan laut di Teluk Persia. Kehadiran Armada Kelima AS di Bahrain serta pangkalan militer AS di Qatar sering kali menjadi titik gesekan diplomatik.
Sejarah mencatat bahwa perairan ini telah menjadi saksi bisu berbagai insiden berdarah, mulai dari "Perang Tanker" tahun 1984 hingga jatuhnya pesawat sipil Iran Air rute Bandar Abbas-Dubai pada 1988 oleh rudal kapal perang AS.
Memasuki tahun 2026, risiko penyitaan kapal komersial kembali meningkat. Pada April 2024, Garda Revolusi menyita kapal kontainer MSC Aries, dan pada awal Februari 2026, sebuah kapal tanker berbendera AS dihadang oleh kapal perang Iran, menambah daftar panjang insiden maritim di kawasan tersebut.
Ketergantungan dunia pada Selat Hormuz sangat sulit digantikan. Meskipun Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah membangun infrastruktur pipa alternatif, kapasitasnya hanya sekitar 2,6 juta barel per hari. Angka ini tidak cukup untuk menutup celah jika jalur utama benar-benar terganggu.
Bagi pasar Asia, khususnya Tiongkok yang mengimpor 90% minyak dari Iran, stabilitas Selat Hormuz adalah harga mati. Gangguan pada jalur ini dipastikan akan memicu lonjakan inflasi energi global yang berdampak pada kenaikan harga komoditas di berbagai negara, termasuk di pasar domestik. (Z-10)
Swis resmi bekukan ekspor senjata baru ke AS demi jaga netralitas di tengah perang Iran. Bern juga tutup ruang udara bagi penerbangan militer Washington ke Timur Tengah.
AS setujui syarat Iran untuk fokuskan negosiasi hanya pada program nuklir. Mediasi negara Teluk berhasil tekan Washington guna hindari konflik regional lebih luas.
Iran bantah klaim Trump soal negosiasi & ancam negara sekutu AS. Simak update terkini kondisi Pulau Kharg hingga dampak tewasnya Ali Khamenei di sini
IRGC klaim tangkap 178 mata-mata AS dan Israel sejak akhir Februari. Para agen dituduh membocorkan koordinat militer dan medis di tengah eskalasi konflik di Iran.
Iran melancarkan serangan balasan dengan menargetkan infrastruktur energi di negara-negara Teluk sekutu AS, setelah fasilitas gas Iran di South Pars diserang
TIM perencana militer dari Inggris dilaporkan tengah bekerja sama dengan militer Amerika Serikat (AS) untuk menyusun langkah membuka kembali Selat Hormuz.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved