Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Selat Hormuz Memanas, Berdampak pada Gangguan Pasokan Minyak Global

Ferdian Ananda Majni
01/3/2026 10:25
Selat Hormuz Memanas, Berdampak pada Gangguan Pasokan Minyak Global
Selat Hormuz Memanas.(Dok. AFP)

SELAT Hormuz kembali menjadi sorotan utama dalam dinamika geopolitik internasional seiring meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Jalur perairan sempit ini dinilai sebagai titik paling rentan dalam distribusi energi global, di mana gangguan kecil saja dapat memicu guncangan ekonomi dunia.

Eskalasi Ketegangan Iran dan Amerika Serikat di Awal 2026

Pada akhir Januari 2026, seorang komandan senior angkatan laut Garda Revolusi Iran mengeluarkan ancaman keras untuk menutup Selat Hormuz jika fasilitas militer mereka terus menjadi target serangan.

Pernyataan ini muncul sebagai respons atas sikap tegas Presiden AS, Donald Trump, yang menginstruksikan operasi militer gabungan bersama Israel terhadap situs-situs strategis di Iran.

Meskipun Iran secara historis jarang melakukan blokade total, tindakan membatasi akses di sebagian wilayah selat dengan alasan latihan militer sering kali dilakukan untuk menunjukkan kekuatan tawar (bargaining power) Teheran di mata internasional.

Profil Strategis Selat Hormuz: Gerbang Energi Dunia

Secara geografis, Selat Hormuz terletak di antara Iran dan wilayah eksklave Oman, Musandam. Berikut adalah fakta-fakta kunci yang menjadikannya jalur paling sensitif secara militer dan ekonomi:

  • Dimensi Perairan: Memiliki lebar sekitar 50 kilometer dengan kedalaman tidak lebih dari 60 meter, menjadikannya sulit dinavigasi bagi kapal-kapal besar jika terjadi konflik terbuka.
  • Pulau Strategis: Iran menguasai pulau-pulau kunci seperti Hormuz, Qeshm, dan Larak, serta mengendalikan pulau sengketa Greater Tunb, Lesser Tunb, dan Abu Musa.
  • Volume Transit: Menurut data Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA), sekitar 20 juta barel minyak per hari atau seperlima konsumsi minyak dunia melintasi jalur ini.

Data Vital Pasokan Energi (EIA 2024)

Komoditas Volume / Persentase
Minyak Mentah & Petroleum 20 Juta Barel / Hari
Gas Alam Cair (LNG) 20% Perdagangan Global
Tujuan Ekspor Utama Pasar Asia (>80%)

Kehadiran Militer dan Risiko Keamanan Maritim

Garda Revolusi Iran memegang kendali penuh atas operasi angkatan laut di Teluk Persia. Kehadiran Armada Kelima AS di Bahrain serta pangkalan militer AS di Qatar sering kali menjadi titik gesekan diplomatik.

Sejarah mencatat bahwa perairan ini telah menjadi saksi bisu berbagai insiden berdarah, mulai dari "Perang Tanker" tahun 1984 hingga jatuhnya pesawat sipil Iran Air rute Bandar Abbas-Dubai pada 1988 oleh rudal kapal perang AS.

Memasuki tahun 2026, risiko penyitaan kapal komersial kembali meningkat. Pada April 2024, Garda Revolusi menyita kapal kontainer MSC Aries, dan pada awal Februari 2026, sebuah kapal tanker berbendera AS dihadang oleh kapal perang Iran, menambah daftar panjang insiden maritim di kawasan tersebut.

Dampak Terhadap Ekonomi Global

Ketergantungan dunia pada Selat Hormuz sangat sulit digantikan. Meskipun Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah membangun infrastruktur pipa alternatif, kapasitasnya hanya sekitar 2,6 juta barel per hari. Angka ini tidak cukup untuk menutup celah jika jalur utama benar-benar terganggu.

Bagi pasar Asia, khususnya Tiongkok yang mengimpor 90% minyak dari Iran, stabilitas Selat Hormuz adalah harga mati. Gangguan pada jalur ini dipastikan akan memicu lonjakan inflasi energi global yang berdampak pada kenaikan harga komoditas di berbagai negara, termasuk di pasar domestik. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya