Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Rusia Sebut Narasi Ancaman NATO terhadap Greenland sebagai Mitos

Wisnu Arto Subari
15/1/2026 20:48
Rusia Sebut Narasi Ancaman NATO terhadap Greenland sebagai Mitos
Greenland.(Al Jazeera)

PADA Kamis (15/1), Rusia menolak klaim NATO bahwa Moskow dan Beijing menimbulkan ancaman yang semakin besar bagi Greenland. Negara Beruang itu menyebut narasi tersebut sebagai mitos yang bertujuan memicu ketakutan yang tidak perlu dan membenarkan yang digambarkan sebagai peningkatan konfrontasi militer yang berbahaya di Arktik.

Komentar Moskow muncul di tengah pernyataan yang semakin blak-blakan dari Presiden AS Donald Trump. Ia mengatakan Washington harus mengambil kendali atas Greenland karena alasan keamanan nasional. Amerika Serikat sudah memiliki fasilitas militer di pulau itu, wilayah seberang laut Denmark yang menempati posisi strategis penting di Arktik.

Trump berpendapat bahwa Denmark gagal dalam tanggung jawabnya untuk membela Greenland. Pernyataan ini ditolak keras oleh Kopenhagen. Denmark menyatakan bahwa mereka mampu memastikan keamanan pulau itu dan mengkritik saran bahwa kedaulatan atas wilayah tersebut harus berpindah tangan dengan dalih masalah pertahanan.

Ketegangan semakin meningkat karena beberapa negara Eropa, termasuk Prancis, Jerman, Norwegia, dan Swedia, mulai mengerahkan pasukan ke Greenland. Pengerahan pasukan tersebut dipresentasikan sebagai isyarat dukungan untuk Nuuk, ibu kota Greenland, dan Kopenhagen, seiring Denmark bersiap mengadakan latihan militer di pulau tersebut. Pergerakan pasukan ini menambah suasana tegang di Arktik, lokasi persaingan strategis bergejolak dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam pernyataan yang mencerminkan meningkatnya kekhawatiran, Rusia mengatakan pihaknya mengamati perkembangan di sekitar Greenland dengan keprihatinan serius. Rusia menekankan perlu menjaga perdamaian dan stabilitas di wilayah Arktik yang lebih luas. 

Moskow memperingatkan bahwa langkah-langkah yang diambil oleh NATO berisiko merusak stabilitas tersebut dan dapat mendorong kawasan tersebut menuju konfrontasi yang lebih tinggi.

"NATO memulai percepatan militerisasi di Utara, membangun kehadiran militernya di sana dengan dalih fiktif tentang ancaman yang semakin besar dari Moskow dan Beijing," kata kedutaan Rusia di Belgia dalam pernyataan kepada surat kabar Izvestia. Belgia menjadi tuan rumah markas NATO, menjadikannya titik fokus untuk pesan diplomatik yang ditujukan kepada aliansi tersebut.

Rusia membingkai tindakan NATO sebagai bagian dari strategi Barat lebih luas yang melebih-lebihkan ancaman eksternal untuk membenarkan perluasan jejak militer yang lebih dekat ke wilayah Rusia. Rusia berpendapat bahwa penggambaran Rusia dan Tiongkok sebagai ancaman bagi Greenland lebih bertujuan politik daripada mencerminkan realitas keamanan sebenarnya di Arktik.

Pada saat yang sama, Moskow menyoroti kontradiksi dalam kritik Barat. Rusia sendiri, dalam beberapa tahun terakhir, berupaya membuka kembali dan memodernisasi jaringan luas pangkalan militer di seluruh Arktik, dengan alasan melindungi kepentingan nasional dan infrastrukturnya di wilayah yang semakin mudah diakses karena mencairnya es. Negara-negara Barat sering menunjuk langkah-langkah ini sebagai bukti militerisasi Rusia.

Dengan menolak narasi NATO, Rusia berupaya menggarisbawahi posisinya bahwa Arktik harus tetap menjadi zona kerja sama daripada konflik. Rusia memperingatkan bahwa peningkatan militer yang berkelanjutan dan retorika yang tajam berisiko menciptakan spiral ketegangan yang terwujud dengan sendirinya di wilayah kepentingan kekuatan besar semakin beririsan.

"Kita dapat melihat bahwa aliansi tersebut menggunakan pernyataan-pernyataan penting dari Washington mengenai isu Greenland semata-mata untuk mempromosikan agenda anti-Rusia dan anti-Tiongkok," kata pernyataan itu sambil menyebutkan pernyataan-pernyataan Eropa baru-baru ini tentang pertahanan Greenland.

"Para penghasut rencana-rencana agresif ini mengacu pada tantangan-tantangan fiktif yang mereka ciptakan sendiri," kata kedutaan. Ia mencatat bahwa bahkan para diplomat Barat yang memiliki akses ke pengarahan intelijen NATO yang dikutip di media mengakui bahwa tidak ada kapal selam Rusia atau Tiongkok yang terlihat di dekat Greenland dalam beberapa tahun terakhir.

"Ini menunjukkan kepalsuan histeria yang sedang dikobarkan," katanya. Namun, pernyataan itu tidak secara langsung mengkritik Trump, pada saat ia tetap menjadi juru bicara utama Moskow dalam upaya mencapai kesepakatan perdamaian di Ukraina. 

Sebaliknya, pernyataan itu mengarahkan kritiknya pada NATO sebagai institusi dan pada negara-negara anggota Eropa yang juga dituduh menghalangi upaya perdamaian di Ukraina. "Kami menganggap kebijakan aliansi untuk meningkatkan konfrontasi di Arktik sebagai hal kontraproduktif dan sangat berbahaya," kata kedutaan. (Firstpost/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik