Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Menteri Israel Mengaku Agennya Beroperasi di Protes Iran

Wisnu Arto Subari
13/1/2026 18:22
Menteri Israel Mengaku Agennya Beroperasi di Protes Iran
Protes di Iran.(Al Jazeera)

MENTERI Warisan Budaya sayap kanan Israel, Amichai Eliyahu, mengeklaim pada Kamis (8/1) bahwa agen-agen Israel beroperasi di lapangan di Iran di tengah protes yang dipicu runtuhnya rial Iran dan krisis ekonomi yang parah.

Berbicara kepada Radio Angkatan Darat Israel, Eliyahu mengatakan Israel menggunakan agen-agen di lapangan selama perang 12 hari dengan Iran pada Juni tahun lalu. Ia menambahkan bahwa agen-agen serupa aktif selama krisis yang sedang dialami negara tersebut.

"Ketika kami menyerang Iran selama 'Rising Lion', kami berada di wilayahnya dan tahu bagaimana mempersiapkan serangan. Saya dapat meyakinkan Anda bahwa kami memiliki beberapa orang kami yang beroperasi di sana saat ini," katanya.

Menteri tersebut menambahkan bahwa agen-agen tersebut, meskipun tidak bekerja untuk perubahan rezim, melemahkan kemampuan Iran.

"Apakah mereka sekarang bertindak langsung untuk menggulingkan rezim? Tidak. Apakah mereka bertindak untuk memastikan bahwa Iran tidak dapat mengancam kita dari semua aspek lain? Ya," kata Eliyahu.

Penggunaan agen intelijen Israel di Iran selama perang 12 hari juga diakui oleh Teheran yang melakukan beberapa penangkapan sejak saat itu. Iran mengeksekusi setidaknya 10 orang yang dihukum karena memata-matai untuk badan intelijen Mossad Israel sejak Juni.

Pernyataan Eliyahu menambah bahan bakar pada tuduhan campur tangan eksternal di Iran oleh Israel serta Amerika Serikat. Ini narasi yang didorong oleh pejabat Iran dan media pemerintah.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada Jumat (9/1) menunjukkan sikap menantang dalam menghadapi protes. Ia mengatakan bahwa tangan Presiden AS Donald Trump berlumuran darah lebih dari seribu warga Iran yang merujuk pada serangan Israel yang didukung AS terhadap Iran tahun lalu.

Khamenei mengatakan pemimpin AS yang arogan itu akan digulingkan seperti dinasti kekaisaran yang memerintah Iran hingga revolusi 1979.

"Semalam di Teheran, sekelompok perusak datang dan menghancurkan bangunan milik mereka untuk menyenangkan presiden AS," katanya dalam pidato kepada para pendukungnya. Para pria dan perempuan di antara hadirin meneriakkan kata, "Matilah Amerika."

"Semua orang tahu bahwa Republik Islam berkuasa dengan darah ratusan ribu orang terhormat. Ia tidak akan mundur menghadapi para perusak."

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan pernyataan serupa pada Jumat. Ia menuduh AS dan Israel melakukan campur tangan.

"Inilah yang dinyatakan oleh Amerika dan Israel bahwa mereka secara langsung campur tangan dalam protes di Iran," kata Araghchi selama kunjungannya ke Libanon.

"Mereka mencoba mengubah protes damai menjadi protes yang memecah belah dan penuh kekerasan," katanya. "Mengenai kemungkinan intervensi militer terhadap Iran, kami percaya kemungkinannya rendah karena upaya mereka sebelumnya gagal total."

Trump--yang tampaknya semakin bersemangat setelah penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro baru-baru ini--mengancam akan melakukan tindakan militer terhadap Iran untuk melawan setiap tindakan keras pemerintah terhadap protes.

Kepala hak asasi manusia PBB, Volker Turk, mengatakan dalam suatu pernyataan bahwa badan dunia tersebut sangat prihatin dengan laporan kekerasan dan menyerukan penyelidikan. "Mereka yang bertanggung jawab atas pelanggaran apa pun harus dimintai pertanggungjawaban sesuai dengan norma dan standar internasional," kata Turk. (New Arab/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya