Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Risiko Besar Operasi AS Tangkap Maduro yang Trump Banggakan

Wisnu Arto Subari
08/1/2026 14:40
Risiko Besar Operasi AS Tangkap Maduro yang Trump Banggakan
Nicolas Maduro.(Al Jazeera)

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump menggambarkan operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro sebagai demonstrasi kekuatan militer Amerika yang dilaksanakan dengan sempurna.

Namun, uraian Trump tentang serangan berani tersebut mengabaikan detail-detail penting tentang risiko yang dihadapi pasukan AS saat mendekati kompleks pertahanan Maduro. Operasi berisiko tinggi itu bahkan dekat dengan kemungkinan kegagalan.

Pada dini hari Sabtu (3/1), helikopter Angkatan Darat AS terbang rendah 100 kaki di atas laut dan kemudian di atas Caracas, ibu kota Venezuela, menuju target mereka. Jalur penerbangan mereka yang senyap telah dibersihkan serangan siber Amerika yang membuat kota itu gelap. Ditambah lagi, jet tempur AS membombardir pertahanan udara Venezuela buatan Rusia untuk menghindari radar.

Awalnya, helikopter-helikopter tersebut, yang membawa puluhan komando Delta Force Angkatan Darat, terbang tanpa terdeteksi. Namun, saat mendekati sarang Maduro, pesawat-pesawat itu ditembaki dan membalas tembakan. 

Helikopter pertama dalam serangan itu, yakni helikopter raksasa MH-47 Chinook bermesin ganda, terkena tembakan tetapi masih bisa terbang. Komandan penerbangan, yang juga merencanakan misi dan mengemudikan Chinook, terkena tiga tembakan di kaki. Demikian kata para pejabat AS saat ini dan mantan pejabat AS yang berbicara dengan syarat anonim untuk membahas masalah sensitif.

Helikopter yang rusak itu berjuang untuk tetap terbang dan mengantarkan pasukannya ke target. Operasi Absolute Resolve yang melibatkan lebih dari 150 pesawat yang diluncurkan dari 20 pangkalan darat dan laut di wilayah tersebut berada dalam keadaan genting.

Pada masa jabatan keduanya, Trump semakin percaya diri dalam mengirimkan militer dalam misi berisiko tinggi untuk mencapai tujuan kebijakan luar negeri yang kompleks. Ketika ditanya apa yang akan dia lakukan jika Delcy Rodríguez, pemimpin sementara Venezuela, menolak arahan pemerintahannya, Trump mengancam akan melakukan serangan lain.

"Dia akan menghadapi situasi yang mungkin lebih buruk daripada Maduro," kata Trump kepada wartawan di Air Force One minggu ini.

Namun, serangkaian keberhasilan militer Trump di tempat-tempat seperti Iran, Suriah, dan Venezuela, ditambah dengan kecenderungannya untuk mengambil risiko besar--diwarnai awal kariernya di bidang real estat dan beberapa kali kebangkrutan--mengaburkan sisi negatif dari penggunaan kekuatan dengan cara yang semakin mendefinisikan kebijakan luar negerinya.

"Anda beroperasi di atas kawat yang sangat rapuh dan risiko kegagalannya sangat besar," kata Seth G. Jones, seorang ahli keamanan nasional senior di Center for Strategic and International Studies. "Terkadang ada faktor-faktor di luar kendali Anda."

Risiko dari potensi hasil dahsyat itu sangat terlihat di Venezuela ketika para pilot Chinook yang rusak--salah satunya terluka parah--berjuang menyelesaikan misi mereka. Akankah para operator dari Resimen Penerbangan Operasi Khusus ke-160 Angkatan Darat ini beradaptasi dan berhasil, seperti yang dilakukan anggota SEAL Team 6 dalam serangan untuk menangkap Osama bin Laden di Pakistan pada 2011 setelah salah satu helikopter mereka menabrak tembok dan jatuh?

Atau akankah Chinook jatuh ke kota musuh dan menjadi gema mematikan dari helikopter Black Hawk yang ditembak jatuh di Mogadishu, Somalia, pada 1993 dan memicu pertempuran sengit yang menewaskan 18 tentara AS dan melukai 73 lain. Saat itu merupakan pertempuran tunggal paling mematikan bagi pasukan Amerika sejak Perang Vietnam.

"Kegagalan satu komponen dari mesin yang terawat dengan baik ini akan membahayakan seluruh misi," kata Jenderal Dan Caine, ketua Kepala Staf Gabungan, hanya beberapa jam setelah misi selesai.

Chinook tidak jatuh. Pemimpin penerbangan, dengan bantuan seorang kopilot, berhasil mendarat, menurunkan pasukan komando di dalamnya dan memandu pesawat kembali ke kapal perang Iwo Jima di lepas pantai Venezuela. Tm pencarian dan penyelamatan serta pasukan reaksi cepat di luar negeri siap bergerak cepat jika diperlukan.

Pada pukul 02.01 di Caracas, lebih dari 80 komando Angkatan Darat keluar dari helikopter, termasuk Chinook yang rusak. Setelah baku tembak sengit dengan pengawal keamanan Kuba milik Maduro, para tentara meledakkan pintu yang menuju kamar tidur Maduro, tempat mereka menangkap Maduro dan istrinya saat mereka mencoba melarikan diri ke ruangan yang diperkuat baja.

Gelombang helikopter baru membawa para komando dan tahanan mereka keluar dari kompleks tersebut, berjuang melewati tembakan musuh dalam perjalanan keluar. Pada pukul 04.29, pesawat-pesawat itu kembali ke atas perairan dan kemudian mengantarkan Maduro serta istrinya kepada pihak berwenang di Iwo Jima.

Pemimpin penerbangan, yang identitasnya dirahasiakan Pentagon karena alasan keamanan, mengalami cedera serius, tetapi sedang pulih di rumah sakit di Texas bersama satu tentara lain, kata militer pada Selasa (6/1). Lima anggota militer lain dirawat karena cedera dan kemudian dipulangkan. Pejabat militer menggambarkan tindakan pemimpin penerbangan malam itu sebagai heroik.

Misi tersebut juga mengakibatkan kematian sekitar 40 warga Venezuela, selain 32 warga Kuba yang membantu menjaga Maduro, menurut pejabat Venezuela dan Kuba.

"Ini salah satu demonstrasi kekuatan militer Amerika yang paling menakjubkan, efektif, dan dahsyat. Kompetensi tertinggi dalam sejarah Amerika," seru Trump setelah semua pasukan kembali ke rumah.

Pada Rabu (7/1), Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyinggung bahaya yang dihadapi oleh pasukan komando AS. "Itu serangan yang penuh tantangan, bahkan dengan kecanggihan yang ada di dalamnya," katanya kepada The Charlie Kirk Show. "Baru setelah kami melihat pesawat-pesawat itu terbang keluar, kami semua bisa bernapas lega."

"Tidak ada satu pun peralatan militer yang hilang," katanya. "Yang lebih penting, tidak ada satu pun anggota militer yang tewas."

Dalam konferensi persnya yang mengumumkan penangkapan Maduro, Trump sedikit merayakan kemenangan, menyebutkan keberhasilan militernya baru-baru ini. Ia menyebutkan pembunuhan pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi oleh komando Delta Force pada 2019; kematian Mayor Jenderal Qassim Suleimani, komandan keamanan dan intelijen utama Iran, pada 2020 akibat serangan pesawat tak berawak AS; dan penargetan program nuklir Iran oleh pesawat pengebom B-2 pada 2025.

"Semua dieksekusi dan dilakukan dengan sempurna," kata Trump. Bagi Trump, kegagalan militer di masa lalu adalah produk dari kepemimpinan presiden yang kurang baik. 

Dalam konferensi persnya, ia menyinggung penarikan pasukan AS yang gagal dari Afghanistan pada 2021 dan upaya Presiden Jimmy Carter yang gagal pada 1980 untuk menyelamatkan sandera AS yang ditahan di Iran, sehingga delapan tentara AS tewas.

"Anda melihat beberapa serangan di negara ini yang tidak berjalan dengan baik," katanya. "Mereka memalukan."

Yang secara mencolok tidak ada dalam daftar Trump ialah kematian William Ryan Owens, seorang anggota Navy SEAL, dalam serangan terhadap kelompok sempalan Al Qaeda yang beroperasi di Yaman selatan pada 2017. Setelah misi tersebut, beberapa orang mempertanyakan apakah itu perlu. 

Pada saat itu, Trump tampaknya mengalihkan kesalahan kepada para pemimpin militer seniornya. Ini, "Sesuatu yang ingin mereka lakukan," katanya. "Mereka datang menemui saya, mereka menjelaskan apa yang ingin mereka lakukan, para jenderal yang sangat dihormati, jenderal-jenderal saya adalah yang paling dihormati yang pernah kita miliki dalam beberapa dekade, saya percaya. Dan mereka kehilangan Ryan."

Trump dengan cepat merasa tidak senang dengan banyak pemimpin militer dari masa jabatan pertamanya. "Saya telah bekerja dengan banyak jenderal," katanya setelah serangan di Venezuela. "Saya bekerja dengan beberapa yang tidak saya sukai. Saya bekerja dengan beberapa yang tidak saya hormati."

Sebaliknya, ia menggambarkan Jenderal Caine dengan sangat positif. "Orang ini fantastis," kata Trump.

Dibandingkan dengan diplomasi, yang menghasilkan hasil yang lambat dan tidak memuaskan bagi Trump di tempat-tempat seperti Ukraina, aksi militer sering menghasilkan hasil yang cepat.

Pertanyaan besar bagi militer adalah bagaimana Trump yang semakin percaya diri akan bereaksi jika kehilangan pasukan dalam pertempuran.

Elliot Ackerman, seorang veteran Marinir yang bertugas di divisi aktivitas khusus CIA, menegaskan kembali bahwa unit-unit elit militer AS memiliki kemampuan yang tidak dapat ditandingi oleh negara lain. "Mereka berlatih dengan cermat dan melaksanakan operasi yang sangat tepat," katanya.

Namun, bahkan operasi militer yang direncanakan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya pun bergantung pada ketidakpastian dan dapat berakhir buruk, dengan konsekuensi jangka panjang.

"egitu seorang tentara AS terbunuh atau ditangkap, itu mengubah perhitungan politik," kata Ackerman. "Jadi sangat berisiko untuk mendasarkan kebijakan luar negeri pada jenis operasi ini. Anda tidak bisa terus-menerus datang ke meja dadu dan berharap tidak pernah mengalami kekalahan." (The New York Times/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya