Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
PEKAN pertama operasi militer Amerika Serikat melawan Iran dilaporkan telah menelan biaya fantastis sebesar US$11,3 miliar atau setara lebih dari Rp177 triliun. Angka yang terungkap dalam pengarahan tertutup Pentagon kepada Kongres ini menunjukkan betapa cepatnya konflik di Timur Tengah menguras sumber daya dan persenjataan Washington.
Laporan The New York Times menyebutkan angka tersebut bahkan belum mencakup biaya persiapan logistik sebelum serangan dimulai. Artinya, total tagihan yang harus dibayar pembayar pajak AS untuk tujuh hari pertama pertempuran diprediksi akan melonjak jauh lebih tinggi.
Data internal menunjukkan tingkat pengeluaran (burn rate) amunisi yang sangat mengkhawatirkan. Hanya dalam dua hari pertama, AS telah menghabiskan munisi senilai US$5,6 miliar. Sebagai perbandingan, rudal interseptor yang digunakan untuk menjatuhkan proyektil Iran dihargai jutaan dolar per unitnya.
Beberapa sumber di Capitol Hill bahkan membisikkan kekhawatiran bahwa pengeluaran nyata bisa mencapai US$2 miliar (Rp31 triliun) per hari, jauh melampaui perkiraan publik sebelumnya.
Lonjakan biaya perang ini menjadi amunisi politik bagi Partai Demokrat. Pemimpin Minoritas DPR, Hakeem Jeffries, mengkritik keras Presiden Donald Trump yang dinilai menjerumuskan Amerika ke dalam konflik tak berujung di Timur Tengah.
"Mereka menghabiskan miliaran dolar untuk membom Iran, tapi tidak bisa menemukan satu sen pun untuk mempermudah warga Amerika pergi ke dokter, membeli rumah pertama, atau menurunkan tagihan belanjaan," ujar Jeffries dalam konferensi pers di Capitol Hill.
Kondisi ini ironis mengingat Trump memenangkan Pilpres 2024 lewat janji menurunkan biaya hidup. Kini, jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan popularitas Trump merosot tajam sesaat setelah serangan 28 Februari diluncurkan.
Analis dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) mencatat bahwa mayoritas dana yang dihabiskan, sekitar US$3,5 miliar dari pengeluaran awal, merupakan anggaran yang tidak direncanakan. Pentagon kini tengah menyiapkan permintaan anggaran tambahan sebesar US$50 miliar kepada Kongres untuk mengganti stok rudal Tomahawk dan Patriot yang terkuras.
John Phillips, pakar risiko keamanan, menilai tantangan terbesar Washington bukan hanya soal uang, melainkan ketersediaan fisik senjata. "Kendala utamanya bukan uang, tapi stok interseptor. AS bisa menanggung biaya finansial selama bertahun-tahun, tapi penipisan munisi bisa menjadi hambatan serius dalam hitungan bulan," jelasnya.
Dengan pemilu paruh waktu yang kian dekat, beban ekonomi akibat perang ini diprediksi akan menjadi batu sandungan besar bagi administrasi Trump di mata pemilih yang kini mulai skeptis terhadap urgensi konflik di Iran. (AFP/Al Jazeera/Z-2)
F-15 AS ditembak jatuh di Iran. Satu pilot selamat, satu masih dicari. Dua Black Hawk rusak ditembaki saat misi evakuasi di tengah eskalasi perang.
Iran tembak jatuh jet F-15 AS dan tawarkan imbalan US$60.000 untuk tangkap pilot. AS kerahkan misi penyelamatan di tengah penolakan gencatan senjata oleh Teheran.
Pendeta Franklin Graham memicu kontroversi di Gedung Putih setelah mengklaim Iran ingin memusnahkan Yahudi dan menyebut Donald Trump dipilih Tuhan.
Penilaian tersebut juga menunjukkan bahwa Iran masih menyimpan banyak rudal serta rudal jelajah pertahanan pesisir dalam jumlah yang signifikan.
Menurut sumber tersebut, Trump tiba di kediamannya di Mar-a-Lago pada 27 Februari, di mana para ajudannya berkumpul di pusat operasi sementara.
Medvedev menyebut pernyataan Trump itu hanya sekadar “gertakan”.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved