Headline
Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH investigasi awal militer Amerika Serikat mengungkapkan fakta memilukan di balik serangan udara fatal yang menghantam Sekolah Dasar Shajareh Tayyiba di Minab, Iran selatan. Insiden pada 28 Februari tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 168 anak-anak dan 14 guru.
Menurut sumber yang mengetahui temuan awal investigasi, serangan ini terjadi akibat penggunaan data intelijen usang oleh Komando Pusat AS (USCENTCOM). Rudal yang seharusnya menargetkan fasilitas pangkalan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di dekatnya, justru menghantam gedung sekolah.
Investigasi menemukan koordinat target dibuat berdasarkan informasi dari Badan Intelijen Pertahanan (DIA) yang tidak diperbarui. Citra satelit tahun 2013 menunjukkan sekolah dan pangkalan IRGC berada dalam satu kompleks yang sama. Namun, data terbaru tahun 2016 memperlihatkan pagar pemisah telah dibangun, lengkap dengan pintu masuk sekolah yang berbeda. Bahkan, citra satelit Desember 2025 menunjukkan puluhan orang masih beraktivitas di halaman sekolah tersebut.
Menanggapi temuan ini, juru bicara DIA menyatakan, "Insiden ini sedang diselidiki; kami menyerahkan komentar lebih lanjut kepada Pentagon." Pihak USCENTCOM juga menolak memberikan pernyataan resmi selama proses investigasi berlangsung.
Meski Presiden Donald Trump sebelumnya sempat menepis keterlibatan AS dan mengklaim Iran mungkin memiliki rudal serupa, bukti di lapangan menunjukkan hal berbeda. Analisis video dan serpihan rudal oleh para ahli konsisten dengan karakteristik rudal jelajah BGM/UGM-109 Tomahawk, senjata presisi buatan Raytheon yang hanya dimiliki oleh AS dan segelintir sekutu dekatnya.
"Saya tidak tahu tentang itu," ujar Trump saat ditanya mengenai laporan investigasi yang menyebut AS bertanggung jawab. Sebelumnya, Trump juga berdalih bahwa ia belum memiliki cukup informasi mengenai keterlibatan administrasinya dalam insiden tersebut.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menekankan penyelidikan masih berjalan. Sementara itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menegaskan pihaknya akan mengusut tuntas insiden ini.
"Kami telah berupaya dengan segala cara yang mungkin untuk menghindari korban sipil," ujar Hegseth pada Selasa waktu setempat. Ia juga sempat menuding balik pihak Iran yang menurutnya kerap menargetkan warga sipil secara membabi buta.
Kini, tekanan internasional meningkat seiring dengan munculnya bukti-bukti visual yang menunjukkan reruntuhan sekolah berserakan dengan fragmen rudal Amerika. Investigasi lanjutan diharapkan dapat mengungkap siapa yang paling bertanggung jawab atas kegagalan intelijen yang berujung pada tragedi kemanusiaan ini. (CNN/Z-2)
Gedung Putih mengonfirmasi Pentagon akan merilis laporan terkait serangan rudal di sekolah perempuan Iran Selatan.
Video terbaru menunjukkan rudal yang konsisten dengan Tomahawk AS menghantam pangkalan IRGC dekat sekolah di Minab. Temuan ini membantah klaim Presiden Donald Trump.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyerukan agar negara sekutu tak lembek terhadap Rusia setelah kunjunganya ke Amerika Serikat tak membuahkan hasil pengiriman rudal jarak jauh tomahawk
Presiden AS Donald Trump menolak permintaan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy untuk mengirim rudal Tomahawk.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky gagal memperoleh kepastian dukungan Tomahawk dari Donald Trump dalam pertemuan di Gedung Putih.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved