Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Ketegangan Memuncak, Trump Akui Berbicara dengan Maduro

Thalatie K Yani
01/12/2025 07:54
Ketegangan Memuncak, Trump Akui Berbicara dengan Maduro
Donald Trump mengonfirmasi komunikasi dengan Nicolás Maduro saat AS meningkatkan tekanan militer terhadap Venezuela. (White House)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi ia baru-baru ini berbicara dengan Presiden Venezuela Nicolás Maduro, di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Caracas. Di saat yang sama, pemerintah Venezuela menuduh AS tengah mempersiapkan serangan militer.

AS terus meningkatkan tekanan terhadap Venezuela, termasuk pengerahan militer besar-besaran di kawasan Karibia, penetapan kelompok yang disebut terkait perdagangan narkoba dan dipimpin Maduro sebagai organisasi teroris, serta peringatan Trump bahwa wilayah udara Venezuela kini “ditutup.”

Washington menyebut operasi militer yang dimulai pada September itu bertujuan menekan penyelundupan narkoba. Namun Caracas menilai langkah tersebut bertujuan menggulingkan pemerintahan Maduro.

“Saya tidak akan mengatakan itu berjalan baik atau buruk. Itu hanya sebuah panggilan telepon,” ujar Trump kepada wartawan di dalam Air Force One.

The New York Times sebelumnya melaporkan Trump dan Maduro sempat membahas kemungkinan pertemuan. Sementara itu, The Wall Street Journal memberitakan pembicaraan tersebut juga menyentuh soal kemungkinan amnesti jika Maduro bersedia mundur.

Senator Partai Republik Markwayne Mullin mengatakan dalam program “State of the Union” di CNN bahwa AS telah menawarkan Maduro kesempatan untuk meninggalkan Venezuela menuju Rusia atau negara lain.

AS menuduh Maduro, yang dianggap sebagai penerus politik mendiang Hugo Chávez, memimpin organisasi yang disebut “Kartel Matahari.” Pemerintah AS bahkan menawarkan hadiah US$50 juta untuk penangkapannya. Namun Venezuela dan negara-negara pendukungnya menegaskan bahwa organisasi tersebut tidak ada. Sejumlah pakar Venezuela menyebut istilah itu merujuk pada dugaan korupsi pejabat tinggi oleh kelompok kriminal.

AS juga tidak mengakui kemenangan Maduro dalam pemilihan presiden tahun lalu. Kendati Trump tidak mengancam penggunaan kekuatan secara terbuka, ia menyatakan upaya menghentikan perdagangan narkoba oleh Venezuela “di darat” akan dimulai “segera.”

Venezuela Minta Bantuan OPEC

Venezuela menyatakan telah meminta bantuan OPEC, organisasi yang menaunginya, untuk menghentikan apa yang disebut sebagai “agresi AS.” Permintaan itu disampaikan melalui surat Maduro yang dibacakan Wakil Presiden sekaligus Menteri Energi Delcy Rodríguez dalam pertemuan virtual para menteri OPEC.

Washington “berusaha merebut cadangan minyak Venezuela yang sangat besar dengan menggunakan kekuatan militer,” tulis Maduro dalam surat tersebut.

Sejak September, serangan udara AS menargetkan kapal yang diduga membawa narkoba di Laut Karibia dan Pasifik timur, menewaskan sedikitnya 83 orang. Pemerintahan Trump belum memberikan bukti konkret terkait tuduhannya, dan sejumlah pakar mempertanyakan legalitas operasi tersebut.

Laporan media AS menyebut salah satu serangan pada September mencakup serangan lanjutan yang menewaskan penyintas serangan pertama. The Washington Post dan CNN melaporkan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memerintahkan untuk “membunuh semua orang,” namun Trump mengatakan Hegseth membantah memberikan perintah itu.

“Kami akan menelusurinya, tetapi tidak, saya tidak menginginkan itu, terutama serangan kedua,” kata Trump. “Pete mengatakan ia tidak memerintahkan kematian dua orang itu.”

Ketua legislatif Venezuela, Jorge Rodríguez, mengatakan ia bertemu keluarga korban serangan udara tersebut. Terkait laporan soal perintah Hegseth, ia menilai, “Jika perang telah dinyatakan dan menyebabkan pembunuhan seperti itu, kita akan membicarakan kejahatan perang. Mengingat tidak ada perang yang dinyatakan, apa yang terjadi… hanya dapat dikategorikan sebagai pembunuhan atau eksekusi di luar hukum.”

Sementara itu, pengerahan militer AS terus meningkat, termasuk kehadiran kapal induk terbesar di dunia di perairan Karibia serta penerbangan jet tempur dan pembom di dekat pantai Venezuela. Enam maskapai telah menghentikan layanan ke negara itu, namun pada Minggu, bandara Caracas masih beroperasi seperti biasa. (AFP/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik