Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Kebakaran Mematikan di Hong Kong Tewaskan 146 Orang, Ratusan Masih Hilang

Thalatie K Yani
01/12/2025 05:00
Kebakaran Mematikan di Hong Kong Tewaskan 146 Orang, Ratusan Masih Hilang
Sedikitnya 146 orang tewas dalam kebakaran besar di kompleks Wang Fuk Court, Hong Kong. Lebih dari 150 orang masih hilang, dan penyelidikan korupsi terkait renovasi gedung berlanjut.(AFP)

JUMLAH korban tewas akibat kebakaran hebat yang melanda gedung-gedung tinggi di Hong Kong bertambah menjadi sedikitnya 146 orang. Polisi mengumumkan pembaruan data tersebut pada Minggu, sambil menekankan mereka “tidak dapat menutup kemungkinan adanya korban tambahan”. Lebih dari 150 orang masih dinyatakan hilang, sementara 79 orang mengalami luka-luka.

Kebakaran cepat menyebar ke tujuh dari delapan blok menara di kompleks perumahan Wang Fuk Court, distrik Tai Po. Tuduhan mengenai penggunaan material konstruksi mudah terbakar memicu kemarahan publik.

Hong Kong memasuki tiga hari masa berkabung nasional sejak Sabtu. Ribuan warga berdatangan ke lokasi untuk menyampaikan duka cita, dengan antrean yang mengular hingga sekitar dua kilometer. Banyak yang meletakkan bunga dan pesan-pesan dukacita.

Pekerja asal Indonesia, Romlah Rosidah, mengatakan ia “sangat terkejut” melihat banyaknya warga yang datang berdoa bagi para korban. “Acara ini hanya tersebar di media sosial, tetapi ternyata hati mereka tersentuh,” ujarnya kepada Reuters. Seorang pekerja Filipina mengatakan mereka hadir untuk menunjukkan bahwa “kami satu dengan komunitas Hong Kong dalam situasi ini”.

Upacara hening cipta tiga menit dilakukan untuk membuka masa berkabung. Sementara bendera Hong Kong dan Tiongkok dikibarkan setengah tiang.

Kebakaran ini menjadi yang paling mematikan di Hong Kong dalam lebih dari 70 tahun. Tim penyelamat terus menemukan korban baru setiap harinya ketika proses identifikasi masih berlangsung. Penyebab kebakaran belum dipastikan, namun delapan orang telah ditangkap terkait dugaan korupsi dalam proyek renovasi bangunan, dan tiga lainnya ditahan atas tuduhan pembunuhan.

Api, yang menjalar cepat ke atas dan antarblok bangunan, baru berhasil dipadamkan sepenuhnya pada Jumat pagi, sekitar 40 jam sejak munculnya kobaran, dengan lebih dari 2.000 petugas pemadam dikerahkan. Polisi mulai memasuki gedung pada hari yang sama untuk mengumpulkan bukti. Investigasi diperkirakan berlangsung tiga hingga empat minggu. Hingga Minggu, pencarian di empat blok telah rampung.

Konsulat Indonesia di Hong Kong mengonfirmasi sedikitnya tujuh warganya tewas, sementara konsulat Filipina melaporkan seorang korban dari negaranya. Salah satu korban adalah petugas pemadam kebakaran, Ho Wai-ho, 37, yang ditemukan meninggal setelah hilang kontak selama sekitar 30 menit.

Departemen pemadam kebakaran melaporkan suhu puncak api mencapai 500°C. Sebanyak 12 petugas mengalami cedera. Api disebut menyebar cepat melalui jaring plastik dan material mudah terbakar lain pada bagian luar gedung, serta diperparah perancah bambu yang umum digunakan dalam konstruksi di Hong Kong.

Beberapa warga mengatakan mereka tidak mendengar alarm kebakaran saat insiden terjadi. Otoritas menemukan sistem alarm di seluruh delapan blok tidak berfungsi dengan baik.

Komisi Independen Pemberantasan Korupsi (ICAC) menyebut mereka yang ditangkap termasuk direktur perusahaan teknik dan subkontraktor perancah. Seorang juru bicara polisi sebelumnya mengatakan pihaknya yakin “mereka yang bertanggung jawab bersikap sangat lalai”, yang menyebabkan api “menyebar tanpa terkendali”.

Departemen bangunan Hong Kong telah menangguhkan sementara pekerjaan pada 30 proyek properti swasta.

Secara terpisah, seorang pria 24 tahun ditahan pada Sabtu atas dugaan hasutan setelah ikut mengajukan petisi untuk investigasi independen terkait kebakaran.

Wang Fuk Court dibangun pada 1983 dan menyediakan 1.984 unit untuk sekitar 4.600 warga. Hampir 40% penghuninya berusia di atas 65 tahun, dan sebagian telah tinggal di perumahan subsidi itu sejak awal berdiri. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya