Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Fakta tentang Kebakaran Dahsyat di Hong Kong yang Tewaskan 44 Orang

Thalatie K Yani
27/11/2025 08:48
Fakta tentang Kebakaran Dahsyat di Hong Kong yang Tewaskan 44 Orang
Kebakaran besar melanda kompleks Wang Fuk Court di Tai Po, Hong Kong, menewaskan sedikitnya 44 orang, ratusan lainnya dilaporkan hilang, dan ribuan warga dievakuasi. (China Daily)

KEBAKARAN dahsyat melanda beberapa blok hunian bertingkat tinggi di Hong Kong dan menewaskan sedikitnya 44 orang. Lebih dari 270 warga dilaporkan hilang, sementara ribuan lainnya mengungsi ke sejumlah pusat evakuasi yang disiapkan pemerintah.

Gambar dari lokasi menunjukkan sejumlah gedung terbakar hebat, dengan asap pekat membumbung dan menyelimuti langit kota. Hingga malam hari, api masih menyala meski ratusan petugas telah dikerahkan.

Laporan media lokal menyebut tiga orang telah ditangkap terkait dugaan pembunuhan tidak berencana. Pemerintah juga telah membuka penyelidikan atas insiden ini. Presiden Tiongkok Xi Jinping menyampaikan belasungkawa kepada para korban, termasuk kepada keluarga seorang “petugas pemadam yang gugur dalam tugas”.

Api Bermula di Kompleks Wang Fuk Court

Kebakaran mulai terjadi di Wang Fuk Court, kompleks hunian di distrik Tai Po, pada pukul 14.51 waktu setempat, Rabu. Kompleks tersebut memiliki delapan menara apartemen setinggi 31 lantai, dan tujuh di antaranya terdampak, menurut keterangan pejabat distrik Mui Siu-fung.

Sensus 2021 mencatat kompleks itu dihuni sekitar 4.600 orang dalam 1.984 unit apartemen. Seluruh bangunan sedang menjalani renovasi dan tertutup perancah bambu serta jaring konstruksi. Rekaman video menunjukkan api menyebar cepat melalui perancah tersebut.

Beberapa warga mengatakan kepada media lokal bahwa alarm kebakaran tidak berbunyi. Penyelidikan awal menemukan penyebaran api yang tidak biasa, diduga dipicu penggunaan polystyrene yang mudah terbakar di area jendela.

Level Kebakaran Tertinggi

Dinas pemadam kebakaran Hong Kong menetapkan insiden ini sebagai kebakaran level lima, tingkat tertinggi. Hanya 40 menit setelah laporan awal, status kebakaran dinaikkan ke level empat, dan kembali meningkat menjadi level lima beberapa jam kemudian. Kebakaran level lima terakhir terjadi 17 tahun lalu.

Ledakan dilaporkan terdengar dari dalam gedung, sementara selang pemadam sulit mencapai lantai-lantai tinggi. Panas ekstrem menghambat upaya masuk petugas. “Reruntuhan dan perancah dari bangunan terdampak berjatuhan, menimbulkan bahaya tambahan bagi petugas kami,” ujar deputi direktur layanan pemadam, Derek Armstrong Chan.

Lebih dari 760 petugas pemadam, 128 mobil pemadam, 57 ambulans, dan sekitar 400 polisi dikerahkan untuk menangani situasi.

Korban Tewas dan Warga Hilang

Jumlah korban tewas melonjak dari 13 menjadi 36 pada Kamis dini hari. Kepala Eksekutif Hong Kong John Lee mengonfirmasi bahwa 279 orang masih hilang. Beberapa jam kemudian, angka korban meninggal kembali meningkat menjadi 44.

Di antara korban terdapat petugas pemadam Ho Wai-ho, 37, yang dinyatakan meninggal setelah ditemukan tak sadarkan diri. “Saya sangat berduka atas kehilangan petugas yang berdedikasi dan pemberani ini,” ujar direktur dinas pemadam, Andy Yeung.

Evakuasi Massal dan Penutupan Sekolah

Pemerintah membuka sejumlah pusat penampungan, namun beberapa di antaranya penuh atau dinilai tidak aman. Warga lanjut usia terlihat tiba menggunakan kursi roda dan tongkat, sebelum dipindahkan ke pusat evakuasi lain.

Enam sekolah di Tai Po ditutup sementara. Pemerintah juga mengaktifkan pusat monitoring darurat untuk menangani dampak kebakaran. Polisi membuka hotline publik di +852 1878 999 bagi keluarga yang mencari informasi anggota keluarganya.

Bambu

Sementara itu, penggunaan perancah bambu kembali menjadi sorotan. Meski telah lama menjadi ciri khas konstruksi Hong Kong, pemerintah sebelumnya telah mempertimbangkan pengurangan penggunaannya karena aspek keamanan. Otoritas menyatakan api terlihat cepat merambat melalui perancah bambu dan menyebar ke gedung-gedung sekitar. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya