Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Kebakaran Maut Hong Kong Diduga Menyebar Cepat karena Perancah Bambu

Thalatie K Yani
27/11/2025 11:36
Kebakaran Maut Hong Kong Diduga Menyebar Cepat karena Perancah Bambu
Kebakaran di Wang Fuk Court, Hong Kong, menewaskan puluhan orang. Perancah bambu dan jaring konstruksi diduga mempercepat penyebaran api.(Media Sosial X)

KEBAKARAN mematikan di sebuah kompleks apartemen di Hong Kong  diduga menyebar cepat karena bangunan diselimuti perancah bambu. Bambu menjadi material tradisional yang belakangan mulai dihentikan penggunaannya oleh otoritas setempat karena alasan keamanan.

Insiden di kompleks hunian Wang Fuk Court, Tai Po, New Territories, menjadi kebakaran paling mematikan di Hong Kong dalam beberapa dekade. Api melalap delapan menara hunian berlantai 31 yang menampung sekitar 2.000 unit apartemen dan dihuni sekitar 4.800 orang.

Penyebab pasti kebakaran belum diketahui. Namun perancah bambu dan jaring konstruksi berwarna hijau yang membungkus bangunan diduga berkontribusi mempercepat penjalaran api di antara unit apartemen.

Hong Kong merupakan salah satu dari sedikit wilayah di dunia yang masih menggunakan bambu secara luas untuk konstruksi. Lintasan bambu yang terikat dengan rapi menggunakan ikatan plastik dan melingkupi gedung-gedung tinggi telah menjadi pemandangan ikonik kota tersebut.

Bambu dihargai karena lebih ringan dan lebih murah dibandingkan bahan logam. Penggunaannya juga dianggap sebagai seni tersendiri, bahkan menara bambu pernah digambarkan dalam gulungan lukisan Dinasti Han ribuan tahun lalu. Tanaman ini melimpah di wilayah selatan Tiongkok, meski sebagian besar lokasi konstruksi di daratan kini telah beralih memakai perancah metal.

Hentikan Penggunaan Bambu

Pada Maret lalu, pemerintah Hong Kong mengumumkan rencana untuk mulai menghentikan penggunaan bambu dan beralih ke baja tahan api. Sebanyak 50% proyek konstruksi publik diwajibkan beralih ke rangka logam. Selain lebih tahan terhadap api, baja juga lebih kuat menahan kelembapan tinggi yang menjadi karakteristik cuaca Hong Kong.

Data resmi mencatat 23 orang meninggal sejak 2018 akibat kecelakaan industri yang melibatkan perancah bambu.

Namun Hong Kong and Kowloon Bamboo Scaffolding Workers Union menyatakan keberatan atas rencana penghentian tersebut. Serikat pekerja menyebut keunikan ukuran dan bentuk batang bambu menuntut keahlian khusus dari para “ahli bambu” dalam merangkai struktur yang aman. Mereka khawatir mata pencaharian akan hilang jika penggunaan rangka baja diterapkan sepenuhnya. (The Guardian/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya