Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
KETEGANGAN antara Amerika Serikat dengan Rusia semakin meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan dua kapal selam nuklir dikerahkan ke dekat ke Negara Beruang Merah itu.
Ancaman Trump tidak membuat Rusia gentar. Salah satu anggota Parlemen Rusia, Viktor Vodolatsky, bahkan menyatakan bahwa negaranya memiliki lebih banyak kapal selam nuklir yang aktif di lautan dunia dibandingkan Amerika.
Vodolatsky, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Pertama Komite Duma Negara untuk Urusan CIS dan Hubungan Internasional menyebut bahwa kapal selam yang disebut Trump sebenarnya telah lama berada dalam pengawasan Rusia.
Dia juga menyatakan bahwa Moskow tidak perlu memberi reaksi berlebihan atas pernyataan Trump. "Kapal selam (nuklir) kami jauh lebih banyak di lautan dunia, memiliki senjata terkuat dan terdahsyat. Inilah sebabnya, biarkan dua kapal (Trump) berlayar, mereka sudah lama berada di bawah todongan senjata. Kami tidak bisa memberikan jawaban, karena kami tahu betul siapa Donald Trump," kata Vodolatsky seperti dikutip kantor berita TASS, Minggu (3/8).
Langkah Trump mengerahkan dua kapal selam nuklir, diumumkan pada Jumat (1/8) melalui platform Truth Social. Trump beralasan bahwa pernyataan mantan presiden Rusia, Dmitry Medvedev, yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Keamanan Federasi Rusia, yang sangat provokatif. Sebab itu ia memerintahkan penempatan dua kapal selam nuklir lebih dekat ke Rusia.
"Kata-kata sangatlah penting dan seringkali dapat menyebabkan konsekuensi yang tidak diinginkan, saya harap ini tidak termasuk. Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini," sebut Trump. Namun Trump tidak menjelaskan secara rinci jenis atau lokasi kapal selam tersebut.
Sementara itu, Vodolatsky menyarankan agar AS lebih fokus pada dialog dan kerja sama yang konstruktif, termasuk membentuk kelompok negosiasi dan menyusun perjanjian penting antara kedua negara demi mencegah pecahnya Perang Dunia III.
Pertikaian AS-Rusia memanas setelah Dmitry Medvedev mengkritik Trump atas ultimatum gencatan senjata terkait perang di Ukraina. "Trump sedang memainkan permainan ultimatum dengan Rusia: 50 hari atau 10 hari. Dia harus mengingat 2 hal: 1. Rusia bukanlah Israel atau bahkan Iran. 2. Setiap ultimatum baru merupakan ancaman dan langkah menuju perang. Bukan antara Rusia dan Ukraina, melainkan dengan negaranya sendiri. Jangan terjebak dalam situasi seperti Sleepy Joe!," tulis Medvedev di X.
Pada Kamis (30/7), Medvedev kembali menyindir Trump terkait ucapannya soal ekonomi Rusia dan India. "Tentang ekonomi mati India dan Rusia dan memasuki wilayah berbahaya, baiklah, biarkan dia mengingat film favoritnya tentang mayat hidup, dan betapa berbahayanya Dead Hand yang legendaris," tulisnya merujuk pada sistem pertahanan nuklir otomatis Rusia. (M-1)
PERLOMBAAN senjata antara Korea Utara dan Korea Selatan kian mendalam ke bawah laut. Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un mengunjungi pabrik kapal selam nuklir, Kamis (25/12).
KOREA Utara kembali memicu perhatian internasional setelah merilis foto-foto terbaru yang diklaim menampilkan kapal selam bertenaga nuklir pertamanya, Kamis (25/12).
Presiden AS Donald Trump memberikan lampu hijau bagi Korea Selatan untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir.
Pemerintah Korea Selatan mengumumkan kesepakatan dengan Amerika Serikat untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir.
Rusia berkomitmen penuh pada nonproliferasi nuklir, dan kami yakin semua pihak harus menahan diri sepenuhnya terkait retorika nuklir.
Dmitry Medvedev menilai langkah pemerintahan Donald Trump tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional yang nyata, meski di sisi lain menunjukkan konsistensi politik Washington.
RUSIA bereaksi keras terhadap langkah Amerika Serikat (AS) yang menjatuhkan sanksi terhadap dua raksasa minyaknya, Rosneft dan Lukoil.
Trump sebelumnya menyampaikan telah memerintahkan pengerahan dua kapal selam bertenaga nuklir sebagai tanggapan atas komentar Medvedev.
AMERIKA Serikat (AS) dan Rusia kembali berada di titik paling berbahaya sejak Perang Dingin.
KETEGANGAN antara Amerika Serikat dan Rusia kembali meningkat dipicu oleh saling serang antara Presiden AS Donald Trump dan Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, di media sosial.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved