Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Restu Trump dan Ambisi Korea Selatan Kuasai Teknologi Kapal Selam Nuklir, Terobosan atau Risiko Geopolitik?

Thalatie K Yani
21/12/2025 09:30
Restu Trump dan Ambisi Korea Selatan Kuasai Teknologi Kapal Selam Nuklir, Terobosan atau Risiko Geopolitik?
Korea Selatan membangun kapal selam bertenaga nuklir. (South Korea Navy)

PETA kekuatan maritim di kawasan Indo-Pasifik berpotensi berubah drastis setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan dukungannya bagi Korea Selatan untuk memiliki kapal selam bertenaga nuklir (SSN). Langkah ini akan menjadikan Seoul negara ketujuh di dunia yang mengoperasikan alutsista canggih tersebut, menyusul AS, Rusia, Tiongkok, Prancis, Inggris, dan India.

Melalui platform Truth Social, Trump menyatakan persetujuannya terhadap permohonan Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung. "Saya telah memberi mereka persetujuan untuk membangun Kapal Selam Bertenaga Nuklir, daripada kapal selam bertenaga diesel kuno dan jauh kurang lincah yang mereka miliki sekarang," tulis Trump.

Keunggulan Strategis dan Ekonomi

Bagi Seoul, memiliki SSN adalah "game-changer" dalam menghadapi ancaman bawah laut dari Korea Utara dan Tiongkok. Berbeda dengan kapal selam diesel yang harus muncul ke permukaan untuk mengisi daya baterai, kapal selam nuklir dapat tetap menyelam selama bertahun-tahun, bergerak lebih cepat, dan jauh lebih senyap.

“Ini akan mengubah peran Korea Selatan dalam aliansi menjadi penyedia keamanan yang lebih mumpuni,” ujar Yu Jihoon, peneliti dari Korea Institute for Defense Analyses.

Dari sisi ekonomi, proyek ini diproyeksikan membuka ribuan lapangan kerja manufaktur bergaji tinggi di kedua negara. Trump mengisyaratkan pembangunan akan dilakukan di Philadelphia Shipyard, galangan kapal yang baru saja diakuisisi oleh raksasa pertahanan Korea Selatan, Hanwha.

Perdebatan Lokasi Pembangunan dan Alih Teknologi

Meskipun restu telah diberikan, tantangan teknis dan politis masih menghadang. Muncul perdebatan mengenai lokasi pembangunan: apakah di AS atau Korea Selatan?

Penasihat Keamanan Nasional Korea Selatan, Wi Sung-lac, menyatakan diskusi didasarkan pada premis kapal akan dibangun di dalam negeri. Namun, pakar militer Kim Dong-yeob memperingatkan membangun di Philadelphia berarti kehilangan potensi transfer teknologi. "Membangun di Philadelphia sama saja dengan membeli senjata buatan AS," tegasnya.

Di sisi lain, Hanwha Ocean menekankan investasi di AS justru akan mempererat kemitraan dan kemakmuran bersama. Mengingat infrastruktur nuklir Korea Selatan yang masih terbatas perjanjian nuklir lama dengan AS, beberapa ahli menduga modul kapal akan dibuat di Korea, namun sistem propulsi nuklirnya akan dikerjakan di Amerika Serikat.

Risiko Ketegangan Kawasan

Langkah ambisius ini memicu reaksi keras dari negara tetangga. Korea Utara menyebut pengejaran SSN oleh Seoul sebagai "langkah strategis menuju persenjataan nuklir sendiri" yang dapat memicu efek domino nuklir di kawasan. Tiongkok juga mendesak AS dan Korea Selatan untuk menahan diri demi stabilitas regional.

Selain risiko perlombaan senjata, Korea Selatan juga harus menghadapi potensi pembalasan ekonomi dari Tiongkok. Kepemilikan SSN secara tidak langsung menempatkan Seoul di garis depan strategi AS dalam membendung kekuatan Tiongkok di Laut China Selatan dan perairan Taiwan.

Proses pengadaan ini diperkirakan memakan waktu setidaknya 10 tahun untuk terealisasi. Namun restu dari Gedung Putih telah menjadi langkah awal yang sangat signifikan dalam sejarah aliansi kedua negara. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya