Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

AS Setujui Korea Selatan Bangun Kapal Selam Nuklir di Tengah Meningkatnya Ketegangan Semenanjung Korea

Thalatie K Yani
16/11/2025 06:52
AS Setujui Korea Selatan Bangun Kapal Selam Nuklir di Tengah Meningkatnya Ketegangan Semenanjung Korea
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung(Media Sosial X)

PEMERINTAH Korea Selatan mengumumkan telah merampungkan kesepakatan dengan Amerika Serikat untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir. Persetujuan itu mencakup dukungan AS terhadap pembuatan “kapal selam serang” serta kerja sama dalam pengadaan bahan bakar, sebagaimana tercantum dalam lembar fakta yang dirilis Gedung Putih.

Kesepakatan ini menjadi langkah penting dalam hubungan pertahanan kedua negara, terjadi di saat kawasan dilanda ketegangan yang meningkat akibat program nuklir Korea Utara dan ekspansi militer Tiongkok.

Isi Kesepakatan

Persetujuan tersebut mengikuti perjanjian dagang yang disepakati bulan lalu, di mana kedua negara menurunkan tarif timbal balik dari 25% menjadi 15%. Penurunan tarif dilakukan setelah Seoul menyatakan komitmen investasi senilai US$350 miliar di Amerika Serikat.

Dalam pernyataan resmi, AS mengonfirmasi telah “memberi persetujuan kepada Republik Korea untuk membangun kapal selam serang bertenaga nuklir… [dan akan] bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan proyek ini, termasuk jalur pengadaan bahan bakar.”

Di platform Truth Social, Presiden Donald Trump menambahkan kapal selam tersebut akan dibangun di galangan kapal di Philadelphia yang dioperasikan konglomerat Korea Selatan, Hanwha.

Saat ini hanya enam negara memiliki kapal selam bertenaga nuklir. Korea Selatan memiliki sekitar 20 kapal selam diesel, yang harus sering muncul ke permukaan dan memiliki jangkauan lebih terbatas. Trump menulis, “Saya telah memberi mereka persetujuan untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir, bukan kapal selam diesel yang jauh lebih lamban.”

Korea Selatan memang memiliki industri nuklir sipil yang kuat, tetapi kemampuannya memperkaya uranium dibatasi oleh AS karena ketergantungan pada impor.

Mengapa Korea Selatan Membutuhkannya?

Program kapal selam nuklir ini diarahkan untuk menghadapi ancaman Korea Utara, yang baru-baru ini mengungkapkan pengembangan kapal selam nuklirnya sendiri. Presiden Lee Jae Myung menyampaikan kebutuhan tersebut kepada Trump dalam KTT APEC bulan lalu.

Menteri Pertahanan Ahn Gyu-back menyebut kapal selam nuklir sebagai “pencapaian membanggakan” dan peningkatan signifikan bagi pertahanan Korea Selatan. Ia menekankan bahwa kemampuan stealth kapal selam tersebut akan membuat Kim Jong Un “tetap terjaga pada malam hari.”

Program Nuklir Korea Utara

Korea Utara juga mengembangkan kapal selam nuklir, diduga dengan dukungan Rusia. Pada 2025, Pyongyang merilis foto kapal selam bertenaga nuklir yang masih dibangun. Para analis memperkirakan Korea Utara dapat mengoperasikannya dalam beberapa tahun ke depan. Pyongyang juga diperkirakan memiliki sekitar 50 senjata nuklir.

Peneliti Sejong Institute, Jo Bee-yun, menilai langkah Seoul ini sebagai bagian dari dinamika perlombaan senjata di Asia Timur. “Senjata nuklir Korea Utara adalah fakta yang sudah mapan,” ujarnya kepada BBC.

Dampak Terhadap Situasi Regional

Sebagian pakar menilai kapal selam nuklir tidak akan mengubah keseimbangan kekuatan secara drastis, tetapi lebih sebagai upaya meyakinkan publik Korea Selatan bahwa pemerintah merespons ancaman dari Utara. Dr Yang Uk dari Asan Institute mengatakan, “Korea Selatan tidak dapat mengembangkan senjata nuklirnya sendiri… jadi kapal selam nuklir adalah opsi yang bisa mereka lakukan.”

Namun, menurut Dr Yang, langkah ini bisa digunakan Korea Utara untuk membenarkan keberadaan senjata nuklirnya.

Jo Bee-yun menilai kesepakatan ini sebagai “perubahan besar” yang menjadikan Korea Selatan pemain regional yang lebih kuat, terutama karena kapal selam nuklir mampu beroperasi lebih cepat dan jauh.

Kepentingan AS

Bagi Washington, dukungan terhadap program kapal selam nuklir Seoul bertujuan menekan Korea Utara dan Tiongkok. Dr Yang menyebut AS ingin Korea Selatan memperluas anggaran pertahanannya dan berperan sebagai mitra strategis dalam menghadapi Beijing. Tiongkok, menurutnya, kemungkinan “sangat marah” dengan kesepakatan tersebut.

Duta Besar Tiongkok untuk Korea Selatan, Dai Bing, berharap Seoul “menangani isu ini secara hati-hati,” mengingat situasi keamanan kawasan yang “kompleks dan sensitif.”

Langkah Selanjutnya

Meski Trump mengatakan kapal selam akan dibangun di Philadelphia, pejabat Korea Selatan menegaskan pembangunan harus dilakukan di dalam negeri untuk mempercepat penyelesaian. Perdana Menteri Kim Min-seok sebelumnya mengatakan galangan kapal milik Hanwha di AS “tidak memiliki kemampuan” untuk membangun kapal selam nuklir.

Setelah kesepakatan dicapai, tahap berikutnya adalah menyesuaikan perjanjian nuklir antara kedua negara agar memungkinkan penyediaan bahan bakar nuklir untuk penggunaan militer. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya