Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
DERITA kelaparan yang melanda Jalur Gaza kian parah. Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) memperingatkan bahwa Israel tengah membiarkan warga sipil kelaparan di wilayah tersebut, termasuk satu juta anak-anak.
Dikutip dari Al Jazeera, pernyataan itu disampaikan UNRWA melalui akun X, sambil mendesak Israel mengakhiri blokade dan mengizinkan distribusi bantuan kemanusiaan, terutama makanan dan obat-obatan.
"Pemerintah Israel sedang membiarkan warga sipil di Gaza kelaparan. Di antara mereka terdapat 1 juta anak-anak," tulis UNRWA pada akun X mereka.
"Buka blokade: izinkan UNRWA untuk memasok makanan dan obat-obatan."
Namun, kenyataan di lapangan memperlihatkan penderitaan yang terus memburuk. Distribusi bantuan yang kini diambil alih oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF), lembaga yang didukung Amerika Serikat dan Israel, hanya berlangsung di empat titik di Gaza.
Ironisnya, warga yang mendatangi lokasi bantuan justru kerap menjadi sasaran tembakan. Sejak GHF mulai beroperasi pada akhir Mei, hampir 900 orang dilaporkan tewas di sekitar titik distribusi, menurut catatan lembaga kemanusiaan yang dikutip oleh Al Jazeera.
Di tengah krisis itu, kisah tragis datang dari Gaza City dan Deir el-Balah. Seorang bayi berusia 35 hari dan seorang balita empat bulan meninggal dunia akibat malnutrisi di Rumah Sakit Al-Aqsa Martyrs.
Seorang ibu hanya mampu memeluk jenazah bayinya sambil berbisik, “Maafkan ibu… Ibu tak mampu memberimu makan. Ibu tak punya pilihan selain melihatmu mati di depan mata,” kutip Al Jazeera.
Menurut keterangan tim medis di rumah sakit tersebut, kasus malnutrisi berdatangan hampir setiap jam dalam 72 jam terakhir. Para orang tua di Gaza dihadapkan pada pilihan getir: menantang bahaya ditembaki saat mengantre bantuan atau membiarkan anak-anak mereka kelaparan di rumah.
Kondisi pasar pun tidak memberi harapan, sebab harga bahan pokok melonjak tajam, bahkan ketika mereka punya uang, stok makanan sering kali kosong.
“Kami sendiri kelaparan. Kami tak mampu membeli makanan untuk anak-anak,” keluh sejumlah orang tua kepada Al Jazeera. Seorang ibu bahkan mengaku terpaksa memberi air putih kepada anak-anaknya agar perut mereka terasa kenyang. “Saat kami punya uang, tepungnya justru tidak ada,” katanya lirih.
Penderitaan warga Gaza kian memuncak ketika sedikitnya 39 orang tewas dan lebih dari 100 lainnya luka-luka setelah ditembak di dekat dua titik distribusi bantuan di Gaza selatan pada Sabtu (19/7).
Menurut AFP, Otoritas Pertahanan Sipil Gaza menyebut insiden tersebut sebagai bagian dari serangkaian penembakan oleh tentara Israel terhadap warga yang tengah mengantre bantuan. “Korban tewas terjadi di dekat lokasi penyaluran di barat daya Khan Younis dan di barat laut Rafah,” kata juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmud Bassal dikutip dari AFP.
Seorang saksi mata, Abdul Aziz Abed (37), mengaku kepada AFP bahwa ia berangkat ke kawasan Al-Tina bersama lima kerabatnya sebelum fajar demi mencari makanan, namun malah disambut peluru.
"Setiap hari kami ke sana, dan yang kami dapatkan hanyalah peluru dan kelelahan, bukan makanan," keluhnya. Tiga saksi lain juga menuturkan bahwa tembakan berasal dari pasukan Israel.
Militer Israel membantah telah menargetkan warga sipil. Dalam pernyataan resmi, mereka mengklaim telah mendapati sekelompok orang yang dianggap sebagai ancaman dan sudah memberi peringatan agar mundur. “Setelah mereka tidak mematuhi, tentara melepaskan tembakan peringatan,” sebut pihak militer.
Mereka menegaskan, tembakan dilepaskan sekitar satu kilometer dari pusat distribusi dan terjadi pada malam hari saat lokasi itu tidak aktif.
GHF pun membantah laporan tentang korban di dekat titik distribusinya. Lewat akun X, lembaga itu menyatakan telah berulang kali mengimbau warga agar tidak mendatangi pusat bantuan pada malam atau dini hari.
Namun, kekerasan tak kunjung berhenti. Otoritas Pertahanan Sipil Gaza juga melaporkan serangan udara Israel di dekat Nuseirat yang menewaskan 12 orang.
Kondisi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk sejak serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 yang kemudian memicu agresi besar-besaran Israel. Lebih dari dua juta warga kini terpaksa hidup mengungsi, dan kelaparan serta krisis kesehatan mental kian merajalela.
World Food Programme (WFP) memperingatkan bahwa hampir sepertiga warga Gaza tidak makan selama berhari-hari, dan ribuan orang kini berada di ambang kelaparan total.
UNRWA menyebut, meski memiliki cadangan makanan yang cukup untuk tiga bulan, mereka tidak bisa mendistribusikannya karena blokade Israel. Pembukaan jalur bantuan kini menjadi salah satu syarat utama yang diajukan Hamas dalam negosiasi tidak langsung terkait gencatan senjata selama 60 hari, termasuk tuntutan penarikan pasukan Israel.
Namun, pengelolaan bantuan oleh GHF tetap menuai kontroversi. GHF, yang menggantikan peran badan-badan PBB sejak Mei, dituding hanya melayani kepentingan Israel.
Untuk pertama kalinya, GHF mengakui ada 20 orang tewas di titik distribusi mereka di Khan Younis pada Rabu lalu, namun mereka menyalahkan “provokator bersenjata yang berafiliasi dengan Hamas” yang disebut menciptakan kekacauan di lokasi dan menembaki warga yang sedang mencari bantuan.
PBB mencatat sedikitnya 875 warga Gaza tewas saat mencoba mendapatkan bantuan makanan, termasuk 674 orang di sekitar titik distribusi GHF. Sejak pecahnya perang, korban jiwa di Gaza terus bertambah.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, hingga kini sebanyak 58.765 warga Palestina--mayoritas warga sipil--telah tewas akibat serangan militer Israel, sementara serangan Hamas pada 2023 di Israel menyebabkan 1.219 orang tewas, sebagian besar juga warga sipil. (Ndf/I-1)
Serangan Israel di Khan Younis tewaskan satu warga & lukai anak kecil. Pelanggaran gencatan senjata ini menambah daftar korban tewas menjadi 636 jiwa di Jalur Gaza.
Otoritas Israel batalkan salat Jumat di Masjid Al-Aqsa dengan dalih konflik Iran. Imam Besar Al-Aqsa mengecam penutupan yang dianggap tidak berdasar tersebut.
Pasukan Israel serbu belasan desa di Ramallah, tahan satu pemuda, aniaya warga, hingga sita rumah dan uang tunai penduduk dalam operasi militer Kamis malam.
Bantuan ini merupakan aksi kolaborasi antara sektor swasta dan lembaga filantropi Islam dalam merespons krisis kemanusiaan di Palestina.
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) terus menunjukkan komitmennya dalam misi kemanusiaan global dengan menyalurkan bantuan paket makanan siap saji bagi warga terdampak konflik di Palestina.
Baznas kembali menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina yang terdampak konflik. Kali ini, bantuan yang disalurkan berupa pakaian dengan total 2.400 paket.
MENTERI Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menegaskan bahwa krisis di Gaza memiliki karakteristik yang sangat berbeda dibanding konflik lain.
Donald Trump meluncurkan Board of Peace untuk rekonstruksi Gaza. Meski menjanjikan dana US$5 miliar, inisiatif ini dihujani kritik dan diboikot negara-negara Eropa.
Hujan deras dan angin kencang memperparah krisis kemanusiaan di Gaza. Puluhan ribu tenda rusak, bangunan runtuh, dan suhu dingin mulai memakan korban jiwa.
Armada kapal bantuan menuju Gaza menunda keberangkatan dari Minggu (7/9) ke Rabu (10/9). Kapal-kapal akan resmi berlayar dari Pelabuhan Sidi Bou Said, Tunis.
Sekjen PBB Antonio Guterres menyebut krisis Gaza sebagai mimpi buruk yang tak kunjung usai dalam pidato di sesi Debat Umum pada Sidang ke-79 Majelis Umum PBB di New York, AS, Selasa (24/9).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved