Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Diterjang Cuaca Ekstrem, Pengungsi Gaza Hadapi Ancaman Hipotermia dan Bangunan Runtuh

Thalatie K Yani
18/12/2025 05:56
Diterjang Cuaca Ekstrem, Pengungsi Gaza Hadapi Ancaman Hipotermia dan Bangunan Runtuh
Hujan deras dan angin kencang memperparah krisis kemanusiaan di Gaza. Puluhan ribu tenda rusak, bangunan runtuh, dan suhu dingin mulai memakan korban jiwa.(Media Sosial X)

KONDISI ratusan ribu warga Palestina yang mengungsi di Jalur Gaza kini semakin memprihatinkan. Hujan deras dan angin kencang yang melanda selama sepekan terakhir telah memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah tersebut, menyebabkan jatuhnya korban jiwa akibat suhu dingin ekstrem dan runtuhnya bangunan yang rusak akibat perang.

Juru bicara Unicef, Jonathan Crickx, menggambarkan situasi di lapangan sangat mengerikan. Ia melaporkan genangan air mencapai 15 cm di sekitar kantornya akibat intensitas hujan yang luar biasa.

"Tadi malam benar-benar mengerikan bagi keluarga-keluarga di sini. Hujan sangat deras dan angin bertiup sangat kencang," ujar Crickx kepada program Today BBC, Rabu (18/12). "Saat saya berkendara pagi ini, saya melihat banyak orang berusaha membuang air dengan ember."

Ancaman Nyata bagi Anak-Anak Kekhawatiran terbesar saat ini adalah keselamatan anak-anak yang tinggal di tenda-tenda darurat dengan pakaian yang basah kuyup. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan seorang bayi berusia dua minggu, Mohammed Abu al-Khair, meninggal dunia akibat hipotermia setelah sempat menjalani perawatan intensif.

"Kami sangat khawatir anak-anak akan jatuh sakit atau bahkan lebih buruk lagi, meninggal karena hipotermia," tambah Crickx, seraya mencatat suhu di malam hari merosot hingga 7-8 derajat Celsius.

Selain cuaca dingin, infrastruktur yang rapuh menjadi ancaman mematikan. Setidaknya 11 orang dilaporkan tewas akibat bangunan yang rusak terkena serangan perang runtuh diterjang badai. Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Bassal, bahkan menyebut angka kematian mencapai 17 orang, termasuk empat anak-anak. Data mereka menunjukkan 17 bangunan tempat tinggal runtuh total dan 90 lainnya rusak sebagian.

Bantuan Kemanusiaan Terhambat

Bantuan Masih Terhambat PBB dan mitra kemanusiaan memperkirakan hampir 55.000 keluarga terdampak hujan ini, dengan tempat berlindung dan harta benda mereka rusak atau hancur. Meskipun jeda kemanusiaan telah memungkinkan masuknya bantuan, termasuk 250.000 paket pakaian musim dingin dan 600.000 selimut dari Unicef, jumlah tersebut masih jauh dari mencukupi untuk memenuhi kebutuhan satu juta orang di pengungsian.

Di sisi lain, COGAT, badan militer Israel yang mengontrol perbatasan, membantah adanya pembatasan bantuan. Mereka mengklaim sekitar 600 hingga 800 truk bantuan masuk setiap hari ke Gaza. Namun, badan-badan PBB menegaskan skala kebutuhan di lapangan jauh melampaui bantuan yang berhasil didistribusikan.

"Kami bekerja tanpa henti untuk menyalurkan bantuan, namun skala kebutuhannya begitu besar sehingga masih ada ribuan orang dan anak-anak yang benar-benar menderita setiap malam," tegas Crickx.

Kini, warga Gaza hanya bisa berharap pada percepatan rekonstruksi wilayah. "Kami menyerukan kepada dunia untuk menyelesaikan masalah kami dan membangun kembali wilayah ini agar orang-orang memiliki rumah, bukan terlunta-lunta di jalanan," ujar Ahmed al-Hosari, seorang warga yang kerabatnya tewas tertimpa reruntuhan di kamp pengungsi Shati. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya