Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
JAKSA mengklaim Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol, yang digantung jabatannya, memberi perintah kepada militer untuk menggunakan senjata saat berusaha mengusir anggota parlemen dari gedung DPR yang sedang menolak dekrit darurat militernya.
Pada 3 Desember, Yoon Suk Yeol memberi wewenang kepada tentara untuk "merusak pintu dan menyeret mereka [politisi] keluar, bahkan jika itu berarti menembakkan senjata", menurut dakwaan dalam rangka proses pemakzulan terhadap dirinya.
Perintah tersebut dikatakan diberikan kepada seorang jenderal yang ditugaskan untuk memblokade Gedung Majelis Nasional selama deklarasi darurat militer Yoon yang berlangsung singkat, yang ditolak anggota parlemen setelah 190 orang berhasil memasuki gedung.
Kabinet Yoon kemudian mencabut dekritnya. Anggota parlemen sejak itu telah memilih untuk memakzulkan dirinya.
Proses pemakzulan di Korea Selatan berarti Yoon telah digantung dari tugasnya sementara pengadilan konstitusi memutuskan apakah akan mengonfirmasi pemakzulannya. Jika dikonfirmasi, ia akan diberhentikan secara permanen dari jabatannya.
Keputusan Yoon untuk mendeklarasikan kekuasaan militer dipandang sebagian orang sebagai upaya untuk mengatasi kebuntuan politik, setelah oposisi menang telak pada pemilu April.
Setelah pidato larut malam yang mengumumkan dekrit tersebut, anggota parlemen dari oposisi dan para demonstran berkumpul di Gedung Majelis Nasional, namun mereka dihadang oleh polisi dan personel militer yang memblokade gedung.
Saat anggota parlemen berhasil memaksa masuk, jaksa mengatakan bahwa Yoon memberi perintah kepada kepala komando pertahanan ibu kota, Lee Jin-woo, bahwa pasukan militer bisa menembak jika perlu untuk memasuki Gedung Majelis Nasional.
"Beritahu [pasukan Anda] untuk menuju ruang pemungutan suara, empat orang untuk setiap [anggota parlemen] dan membawa mereka keluar," kata Yoon yang diduga mengatakan kepada Jenderal Lee.
"Apa yang kalian lakukan? Merusak pintu dan menyeret mereka keluar."
Setelah anggota parlemen memilih untuk mencabut darurat militer, Yoon dikatakan memberi perintah kepada Jenderal Lee untuk "teruskan" karena ia bisa mendeklarasikan darurat militer berkali-kali, menurut dakwaan tersebut.
Jaksa mengatakan dakwaan ini didasarkan pada bukti dari mantan menteri pertahanan Kim Yong-hyun, yang juga didakwa pada Jumat karena diduga mengatakan kepada Jenderal Lee untuk mengikuti perintah Yoon berkali-kali pada 3 Desember.
Ia juga diduga memerintahkan komandan untuk merebut gedung Komisi Pemilihan Nasional dan menangkap pegawainya, menggunakan kabel ties, masker mata, tali, tongkat bisbol, dan palu yang telah disiapkan oleh militer.
Kim akan tetap ditahan menunggu persidangan, kata penyelidik dalam rilis pers.
Dekrit darurat militer telah menyebabkan Korea Selatan terjerumus dalam kekacauan politik yang berlangsung berminggu-minggu.
Politisi oposisi segera menyebut deklarasi Yoon ilegal dan inkonstitusional. Pemimpin partainya sendiri—Partai Kekuatan Rakyat yang konservatif—juga menyebut tindakan Yoon "langkah yang salah".
Mantan menteri pertahanan Kim Yong-hyun juga didakwa pada hari yang sama, menurut Pusat Investigasi Khusus, yang didirikan di layanan kejaksaan negara tersebut.
Pada hari yang sama, Majelis Nasional juga memilih untuk memakzulkan presiden sementara, Han Duck-soo.
Han seharusnya memimpin negara keluar dari ketidakstabilan politiknya, tetapi anggota parlemen oposisi berargumen bahwa ia menolak tuntutan untuk menyelesaikan proses pemakzulan Yoon.
Dia setuju untuk mundur, yang berarti menteri keuangan negara, Choi Sang-mok, akan menjadi presiden sementara.
Ribuan demonstran telah mengadakan aksi unjuk rasa yang saling bertentangan di Korea Selatan, dengan beberapa dari mereka menuntut penangkapan Yoon.
Menghadiri unjuk rasa di Seoul pada hari Sabtu, Kwon Jung-hee mengatakan kepada BBC bahwa pemakzulan Han terasa seperti "satu gunung kecil" telah didaki.
"Tetapi masih ada terlalu banyak gunung yang harus didaki, jadi saya tidak bisa hanya tinggal di rumah—saya keluar dengan sikap melindungi negara," katanya.
Ketidakpastian politik ini juga menyebabkan ekonomi menderita.
Mata uang negara ini telah terjun ke level terendahnya terhadap dolar sejak krisis keuangan global 16 tahun yang lalu. (BBC/Z-3)
Mantan Presiden Korsel Yoon Suk-yeol dijatuhi hukuman 5 tahun penjara.
Di drakor ini, Kim Seon-ho memerankan karakter bernama Joo Ho-jin. Ho-jin merupakan penerjemah multibahasa yang ditugaskan sebagai penerjemah untuk bintang top Cha Mu-hee (Go Youn-jung).
Pengadilan Seoul akan membacakan vonis terhadap mantan Presiden Yoon Suk Yeol atas tuduhan menghalangi penyidikan terkait deklarasi darurat militer 2024.
Korea Selatan dilanda tren "Dubai Chewy Cookie". Terinspirasi dari cokelat viral Dubai, hidangan penutup ini laku keras berkat pengaruh K-Pop dan visual yang menggoda.
Jaksa khusus menuntut hukuman mati bagi mantan Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol terkait upaya pemberontakan melalui deklarasi darurat militer yang gagal.
PT Bank KEB Hana Indonesia (Hana Bank) menyalurkan beasiswa senilai Rp100 juta kepada Jakarta Indonesia Korean School (JIKS).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved