Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
Pada Mei 1954, pertempuran sengit terjadi di Kota Dien Bien Phu, barat laut Vietnam. Pasukan Vietnam yang dipimpin Jenderal Vo Nguyen Giap berupaya mati-matian menghadapi gempuran tentara Prancis. Ribuan orang gugur dalam palagan paling mematikan dalam sejarah Vietnam itu dan masing terpatri dalam ingatan para pelakunya.
Salah satunya adalah Hoang Vinh. Pria yang kini berusia 96 tahun itu memamerkan lencana bergambar seorang tentara komunis memegang senapan, sebuah pengingat akan pertempuran yang ia lakukan di Dien Bien Phu, sekitar 70 tahun silam.
Vinh adalah salah satu dari sedikit veteran yang selamat dari pertempuran di perbukitan barat laut Vietnam. Pertempuran itu berlangsung selama delapan minggu dan berakhir pada 7 Mei 1954 dengan kemenangan pasukan Viet Minh, sekaligus mengakhiri kekuasaan Prancis di Indochina
Baca juga : Prancis Turut Kecam Rencana Israel Memusnahkan Etnis di Rafah
Viet Minh merupakan Liga Kemerdekaan Vietnam yang didirikan oleh Hồ Chí Minh pada 1941 untuk memperjuangkan Vietnam dari cengkeraman kolonial Prancis.
“Begitu banyak keringat dan darah, begitu banyak pengorbanan dan kesulitan untuk mendapatkan lencana seperti ini,” kata Vinh kepada AFP dari apartemennya di pusat kota Hanoi, di mana foto-foto mendiang presiden Ho Chi Minh dipajang di lemari berdinding kaca.
Vinh mendaftar menjadi tantara ketika ia baru berusia 19 tahun dan tanpa sadar ia akan menghabiskan sebagian besar umurnya dalam pertempuran. Pertama melawan Prancis dan kemudian Amerika Serikat hingga awal tahun 1970-an.
Baca juga : Keinginan Israel Hancurkan Hamas Berisiko Perang Satu Dekade
“Saat masih muda, saya bergabung dengan tentara untuk melawan Prancis karena mereka menyerbu negara kami, rumah kami,” kata Vinh saat Vietnam dan Prancis bersiap memperingati 70 tahun pertempuran tersebut.
“Saya menemukan jalan yang tepat untuk berkontribusi pada kemerdekaan negara saya. Saya tidak menyesal, tidak ada pertanyaan tentang apa yang terjadi.”
Vinh adalah bagian dari resimen senjata antipesawat yang bersama dengan infanteri, menjatuhkan 62 pesawat Prancis selama perang yang berakhir pada 7 Mei 1954.
Baca juga : Uni Eropa Naikkan Konsumsi Energi Terbarukan Dua Kali Lipat, Termasuk Nuklir
Lencana Dien Bien Phu, yang dihiasi dengan bendera merah militer Vietnam, diberikan kepada semua pihak yang terlibat dalam pertempuran selama 56 hari tersebut.
Ho Chi Minh memproklamasikan kemerdekaan Vietnam pada 1945, yang memicu perlawanan panjang terhadap penjajah Prancis.
Pasukan Viet Minh yang dipimpinnya kemudian membuat apa yang disebut Vietnam sebagai "keputusan strategis" pada akhir tahun 1953 untuk melenyapkan benteng pertahanan terbesar Prancis di Indochina, Dien Bien Phu. Ia menunjuk jenderal Vo Nguyen Giap sebagai panglima militernya.
Baca juga : Ukraina Tuduh Perusahaan Prancis Dukung Rusia
Tentara, relawan sipil, dan pejuang di garis depan dimobilisasi untuk mengangkut senjata, artileri, dan pasokan penting lainnya melalui hutan dan pegunungan untuk mencapai lokasi pertempuran terpencil di dekat perbatasan dengan Laos.
Ngo Thi Ngoc Diep, yang kala itu baru berusia 17 tahun dan berasal dari Hanoi, diberi kesempatan berharga untuk berbaris sepanjang malam selama beberapa minggu bersama tentara, membawa lima kilogram (11 pon) beras dan sekop.
Dia bergerak hanya dalam kegelapan, antara jam 5 sore dan 2 pagi setiap hari, agar tidak terlihat oleh musuh.
“Tugas saya adalah berbicara, melontarkan lelucon dan menjaga semangat para prajurit,” kata Diep, yang kini berusia 86 tahun, kepada AFP.
“Kami tidak mempunyai cukup makanan, tidak cukup pakaian hangat, tidak cukup selimut, dan kami tidur di atas Jerami. Tapi tidak ada yang mengeluh. Kami berbicara dan bernyanyi untuk menghibur diri. Sungguh menyenangkan," kenang Vinh.
Sekitar 55 ribu orang, sebagian besar berasal dari pasukan elit Vietnam, terlibat langsung dalam pertempuran tersebut, menurut angka resmi.
Sebanyak 260 ribu orang lainnya membantu logistik, termasuk berjalan kaki atau bersepeda yang mengakut beras, garam, minyak, dan senjata ke Dien Bien Phu.
Vinh teringat saat sebuah bom menghantam kampnya di dekat Dien Bien Phu. “Saya melihat rekan-rekan saya tewas di tempat, mayatnya berserakan di dahan pohon,” ujarnya. “Saya benci orang-orang yang merenggut nyawa rekan-rekan saya,” ujarnya.
Mayat berserakan
Vietnam mengatakan 10 ribu tentara dan warganya tewas atau hilang, sedangkan pihak Prancis mengklaim 3.000 tentaranya tewas dalam pertempuran itu.
Kenangan pertempuran berdarah itu tetap terpatri dalam ingatan Vinh dan Diep, yang keduanya selamat dari pertempuran mengerikan itu.
Keduanya telah mengunjungi Prancis bersama keluarga mereka, namun Vinh mengatakan dia tidak memberi tahu siapa pun tentang pertempuran tersebut selama dia berada di sana.
"Meskipun saya bangga dengan hidup saya, saya bukan pahlawan. Saya hanya menjalankan tugas saya sebagai tentara untuk negara saya, sebuah misi biasa tanpa ada yang perlu dipamerkan, bahkan terhadap Prancis."
Jika diberi kesempatan, Diep mengatakan dia ingin berjabat tangan dengan para veteran perang Prancis.
“Kita tidak akan pernah bisa melupakan sejarah, tapi kita harus menutup masa lalu. Bagian yang menyakitkan harus kita tinggalkan,” ujarnya.(AFP/M-3)
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menilai Rusia tidak menunjukkan itikad untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir tiga tahun.
Kecemasan akan aksi militer sudah berbulan-bulan menghantui warga Venezuela sejak Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump mengerahkan armada laut besar ke Karibia.
Peta diplomasi penyelesaian konflik Ukraina-Rusia semakin rumit, dengan Eropa ingin terlibat, Amerika Serikat ingin memimpin, dan Rusia mencari legitimasi.
Protes yang diselenggarakan oleh partai Sahra Wagenknecht Alliance Reason and Justice (BSW) tersebut berlangsung di Gerbang Brandenburg.
Peimpin Korea Utara, Kim Jong Un, serukan percepatan perluasan kemampuan senjata nuklir di negaranya.
Kepala Negara mengingatkan bahwa meskipun Indonesia tidak menyukai perang, realitas menunjukkan konflik bersenjata terjadi di berbagai belahan dunia.
USULAN Dewan Perdamaian Presiden AS Donald Trump dimulai dengan kurang baik. Presiden Prancis Emmanuel Macron segera menolak undangan menjadi anggota dewan tersebut.
ANGGOTA pertama kelompok yang nanti disebut Garda Revolusi Iran (IRGC) dilatih dalam desa terpencil di luar Paris, Prancis.
AS melancarkan serangan besar-besaran terhadap Venezuela, menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dan membawa mereka ke New York.
Presiden Prancis Emmanuel Macron kecam kebijakan Trump tarik AS dari 66 organisasi internasional & isu Greenland. Peringatkan krisis kepemimpinan global.
Dengan Amerika Serikat dikeluarkan dari NATO, kelompok itu masih memiliki 31 anggota yang memiliki militer untuk berkontribusi.
JURU Bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan Presiden Rusia Vladimir Putin terbuka untuk berdialog dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron terkait perang di Ukraina.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved