Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA pemimpin dunia hadir mendengarkan pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) untuk Pakta Pendanaan Global Baru di Paris pada Kamis, (22/6).
Dalam forum itu dismpaikan bahwa tanpa perombakan sistem keuangan global, komunitas internasional akan gagal mengatasi dua tantangan sekaligus yakni kemiskinan dan perubahan iklim.
Konferensi dua hari yang diselenggarakan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron dan dihadiri oleh Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman.
Baca juga : Melirik Potensi Pendanaan Iklim Berbasis Keuangan Syariah
Salah satu agenda penting KTT Paris adalah menemukan cara-cara untuk meningkatkan sistem pinjaman bagi negara-negara berkembang yang terperosok dalam kemiskinan dan terancam oleh bencana iklim.
Dalam pidato pembukaannya, Macron mengatakan kepada para delegasi bahwa dunia membutuhkan guncangan keuangan publik untuk menghadapi tantangan-tantangan ini “Sistem yang ada saat ini tidak cocok untuk mengatasinya,” katanya.
Baca juga : Anggun Secara Resmi Dijadikan Nama Bunga Jenis Mawar Putih
"Para pembuat kebijakan dan negara-negara seharusnya tidak perlu memilih antara mengurangi kemiskinan dan melindungi planet ini," ujar Macron dalam pertemuan tersebut.
Tak memungkiri, negara-negara yang paling rentan terhadap cuaca ekstrem yang disebabkan oleh perubahan iklim sering kali melanda wilayah yang paling tidak siap untuk merespons dalam melindungi populasi mereka atau menerapkan kebijakan pengurangan emisi mereka sendiri.
Tanpa adanya keringanan utang bagi negara-negara berkembang untuk mengatasi tantangan lingkungan hidup, atau metode pembiayaan baru yang memperhitungkan prioritas pengentasan kemiskinan, para ahli percaya bahwa perjuangan melawan perubahan iklim dan kesulitan hidup telah hilang.
Dalam sebuah meja bundar pada hari pertama KTT yang berjudul "Metode baru: kemitraan pertumbuhan hijau” dan dimoderatori oleh Catherine Colonna, Menteri Eropa dan Luar Negeri Perancis. Dihadapan para pemimpin dunia, mereka membahas potensi kemitraan berbagai pemangku kepentingan. (Arabnews/Z-4)
Fenomena Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi dijelaskan secara ilmiah oleh pakar IPB University.
Di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim dan pemanasan laut, diskusi tentang energi dan kelautan kini tidak lagi berdiri sendiri.
Peneliti mengungkap mekanisme seluler yang membantu tanaman tetap tumbuh meski cuaca ekstrem. Temuan ini menjadi kunci masa depan ketahanan pangan global.
Meski perubahan iklim mengancam es laut, beruang kutub di Svalbard justru ditemukan lebih sehat dan gemuk. Apa rahasianya?
Di tengah krisis iklim yang kian nyata, arah kebijakan negara disebut belum beranjak dari pendekatan lama yang justru memperparah kerusakan lingkungan.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
COP-28 belum menghasilkan kesepakatan yang positif untuk penanggulangan perubahan iklim secara nyata.
Norwegia membayarkan kontribusi tambahan senilai US$100 juta kepada Indonesia sebagai hasil pengurangan laju deforestasi Indonesia dari periode 2017-2018, dan 2018/2019.
COP28, yang merujuk pada sesi ke-28 Konferensi Para Pihak Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Perubahan Iklim, dimulai di Dubai, Uni Emirat Arab, Kamis (30/11).
KRISIS iklim yang terjadi di dunia semakin nyata. Hal itu terlihat dari cuaca ekstrem yang menyebabkan bencana alam di berbagai belahan dunia. Senior Campaign Strategist Greenpeace
Banyak pakar meyebut krisis iklim adalah penyebab tren pemanasan global dan perubahan iklim yang menyebabkan gelombang panas akan terjadi lebih sering.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved