Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyampaikan ucapan terima kasih atas undangan menghadiri G20, November tahun ini di Bali. Dirinya mengharapkan forum tersebut dapat menghentikan agresi Rusia di negaranya.
"Saya berterima kasih kepada Presiden Jokowi yang mengundang saya ke forum G20 dan forum ini semoga bisa memberikan solusi bagi dunia dan persoalan di Ukraina," ujarnya pada acara yang digelar Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bertajuk Dari Hati-ke-Hati: Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy Menyapa Indonesia, Jumat (27/5).
Namun Zelenskyy mengaku tidak bisa hadir ke forum tersebut secara langsung. Sebagai presiden dan panglima tertinggi harus tetap berada di negaranya yang tengah diserang Rusia.
"Saya tidak dapat menghadiri acara itu langsung karena harus tetap berada di tengah rakyat saya. Saya akan bergabung dengan saluran virtual," katanya.
Dia meyakini para pemimpin negara-negara yang tergabung dalam G20 memiliki komitmen menjadi stabilitas keamanan dan ekonomi dunia. Jika itu diwujudkan dapat menjadi jalan keluar bagi negara dan keluar dari cengkraman Rusia.
Baca juga: Ukraina Deklarasikan Invasi Rusia sebagai Genosida
"Saya yakin G20 akan menjadi ruang diskusi bersahabat untuk membangun stabilitas dan perdamaian dunia," tegasnya.
Rusia Tak Berniat Berunding
Zelenskyy mengatakan Rusia tidak memiliki itikad baik di meja perundingan. Moskow hanya menipu dunia seolah ingin mengakhiri agresi di Ukraina dengan mengirimkan delegasi.
Padahal, kata dia, Rusia hanya mengulur waktu dengan perundingan untuk merapatkan barisan serdadunya yang tercecer, menambah pasokan senjata dan menentukan sasaran serangan ke daerah lain di Ukraina.
"Rusia tidak memberikan uluran tangan atau tanda-tanda ingin mengakhiri agresinya. Mereka menyukai perang, kehancuran dan ribuan nyawa melayang. Itu sebabnya kita berbeda dengan mereka," tutupnya. (OL-4)
PRESIDEN Ukraina Volodymyr Zelensky melontarkan kritik keras terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin dengan menyebutnya sebagai budak perang setelah serangan Rusia berdampak pada listrik
Sejumlah negara Eropa dilaporkan bahas pengembangan penangkal nuklir pertama sejak Perang Dingin, respons ancaman Rusia dan dinamika NATO.
PERSERIKATAN Bangsa-Bangsa atau PBB dan Rusia menyatakan tidak akan menghadiri pertemuan perdana Board of Peace yang dibentuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump
SERANGAN udara terbaru Rusia menyebabkan gangguan besar pada infrastruktur vital di Ukraina. Listrik dan air dilaporkan tidak dapat diakses di ibu kota Kyiv
Kremlin pastikan Rusia absen dari pertemuan perdana Board of Peace di Washington pada 19 Februari. Moskow masih pelajari urgensi badan pengelola Gaza tersebut.
Iran tingkatkan arsenal rudal balistik dengan bantuan Rusia. Rudal Kheibar Shekan kini mampu jangkau seluruh wilayah Israel, memicu ancaman konflik terbuka.
Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan serangan ke 148 target militer Ukraina, termasuk depot amunisi, formasi militer, dan menembak jatuh ratusan drone.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menilai Rusia tidak menunjukkan itikad untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir tiga tahun.
Kecemasan akan aksi militer sudah berbulan-bulan menghantui warga Venezuela sejak Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump mengerahkan armada laut besar ke Karibia.
Peta diplomasi penyelesaian konflik Ukraina-Rusia semakin rumit, dengan Eropa ingin terlibat, Amerika Serikat ingin memimpin, dan Rusia mencari legitimasi.
Protes yang diselenggarakan oleh partai Sahra Wagenknecht Alliance Reason and Justice (BSW) tersebut berlangsung di Gerbang Brandenburg.
Peimpin Korea Utara, Kim Jong Un, serukan percepatan perluasan kemampuan senjata nuklir di negaranya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved