Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Warga Venezuela Cari Penghiburan dalam Semarak Natal di Tengah Kekhawatiran Perang

Dhika Kusuma Winata
24/12/2025 21:21
Warga Venezuela Cari Penghiburan dalam Semarak Natal di Tengah Kekhawatiran Perang
Ilustrasi.(AFP/GABRIELA ORAA)

ANCAMAN konflik dengan Amerika Serikat membayangi kehidupan warga Venezuela. Namun, di tengah ketegangan geopolitik itu, banyak orang justru memilih berlindung pada semarak Natal sebagai cara meredam kecemasan dan menjaga kewarasan di tengah krisis berkepanjangan.

Di bawah gemerlap lampu Natal yang menghiasi sebuah bulevar di Caracas, Maria Abreu berjalan santai bersama teman-temannya.

Tawa dan obrolan ringan menjadi pelarian dari kekhawatiran akan kemungkinan serangan militer Amerika Serikat. Perempuan 18 tahun itu mengaku lebih memilih tidak memikirkan ancaman perang yang belakangan kerap dibicarakan secara berbisik

“Saya lebih baik tidak memikirkannya. Kalau memang harus terjadi (konflik), biarlah terjadi. Kami hidup dari hari ke hari,” tutur Abreu.

Kecemasan akan aksi militer sudah berbulan-bulan menghantui warga Venezuela sejak Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump mengerahkan armada laut besar ke Karibia dan mulai menenggelamkan kapal-kapal yang dituduh terlibat penyelundupan narkoba. 

Lebih dari 100 orang dilaporkan tewas. Pasukan AS juga menyita kapal tanker yang mengangkut minyak Venezuela yang dikenai sanksi sebagai bagian dari blokade yang diumumkan Washington.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro menuding Amerika Serikat berupaya menggulingkannya. Tuduhan itu memperkuat kekhawatiran publik akan kemungkinan serangan langsung ke daratan, bahkan invasi.

Topik itu menjadi percakapan sehari-hari, meski sering disampaikan dengan suara rendah di negara yang ribuan warganya sempat ditangkap setelah memprotes klaim kemenangan Maduro dalam pemilu 2024 yang dipersengketakan.

Di tengah tekanan tersebut, Maduro justru membuka musim Natal lebih awal, sejak Oktober. Ia menyebut langkah itu sebagai upaya melindungi hak rakyat untuk bahagia. Sang presiden kerap mengajak warga untuk berpesta bahkan menampilkan slogan 'no war, yes peace' dalam bahasa Inggris yang diiringi musik elektronik dan disiarkan berulang kali di televisi pemerintah.

Nuansa pesta itu terasa di Paseo Los Proceres, monumen nasional di Caracas, yang dipenuhi lampu hias hingga seolah menutupi kenyataan pemadaman listrik yang kerap melanda negara tersebut.

Di antara pepohonan dan patung pahlawan kemerdekaan, pasangan berfoto, anak-anak bermain bola, dan penjual makanan kecil melayani pengunjung.

Pusat-pusat perbelanjaan juga ramai oleh suasana Natal. Etalase toko tampak terang dan penuh barang, menggoda para pengunjung yang sebagian besar hanya mampu melihat-lihat karena daya beli tergerus hiperinflasi.

“Kami mencoba mengabaikan banyaknya persoalan politik. Kami berusaha merayakan,” kata Mara Mendoza, mahasiswa seni berusia 21 tahun, di sebuah mal Caracas.

Psikolog klinis dan sosial Yorelis Acosta memperingatkan risiko krisis kesehatan mental akibat tekanan yang terus-menerus. Menurutnya, Venezuela berpotensi menghadapi pandemi kesehatan mental yang ditandai tingkat kecemasan, stres, keputusasaan, gangguan tidur, dan iritabilitas yang tinggi.

“Untuk bertahan, orang-orang mencoba menemukan stabilitas emosional di tengah krisis,” ujar Acosta. 

Pelarian lain ditemukan di stadion bisbol terbesar di ibu kota, yang penuh sesak saat laga malam dua tim populer digelar. Sorak-sorai penonton sejenak menenggelamkan kesulitan ekonomi dan sosial.

“Kondisinya memang tidak baik,secara ekonomi san sosial, tapi di sini (stadion bisbol) Anda bisa melupakan itu semua,” kata Magda Acosta, penggemar bisbol berusia 52 tahun.

Bagi sebagian warga, iman menjadi penopang utama. Carleimy Gonzalez, 38 tahun, mengatakan ia mengatasi kecemasan soal kekhawatiran konflik dengan berserah diri. Natal pun menjadi ruang aman sementara bagi warga Venezuela sebagai cara sederhana untuk bertahan.

“Kita harus menarik napa, waktu Tuhan selalu sempurna,” tuturnya. (AFP/I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Budi Ernanto
Berita Lainnya