Rabu 26 Januari 2022, 07:45 WIB

IMF: Konflik Rusia-Ukraina akan Membuat Inflasi Tinggi Lebih Lama

mediaindonesia.com | Internasional
IMF: Konflik Rusia-Ukraina akan Membuat Inflasi Tinggi Lebih Lama

dok.ant
Ilustrasi

 

KETEGANGAN yang meningkat antara Rusia dan Ukraina kemungkinan akan semakin meningkatkan biaya energi dan harga komoditas bagi banyak negara, menjaga tingkat inflasi utama meningkat lebih lama, kata seorang pejabat tinggi Dana Moneter Internasional (IMF), Selasa (25/1/2022).

Wakil Direktur Pelaksana Pertama Gita Gopinath mengatakan kepada Reuters yang dikutip LKBN Antara, Rabu (26/1) bahwa situasinya sekarang jauh berbeda dari tahun 2014 ketika Rusia mencaplok wilayah Krimea di Ukraina, dan harga energi turun cukup tajam di tengah rendahnya permintaan dan pasokan gas serpih yang cukup.

"Kali ini ... jika konflik ini terjadi, Anda akan melihat kenaikan harga energi," kata Gopinath. Dia mengingatkan, krisis saat ini berlangsung di musim dingin dan cadangan gas alam jauh lebih rendah di Eropa.

Harga komoditas lain yang diekspor oleh Rusia juga naik, dan dapat memicu "peningkatan yang lebih besar dan luas" dalam harga komoditas jika konflik meningkat, katanya.

Ekonomi Rusia mengalami kontraksi sebesar 3,7 persen pada tahun 2015 karena jatuhnya harga minyak dan sanksi internasional yang diberlakukan setelah aneksasi Krimea. IMF saat ini memperkirakan bahwa ekonomi Rusia akan tumbuh 2,8 persen pada 2022, tetapi perkiraan itu tidak termasuk kekhawatiran tentang konflik, kata Gopinath.

Gopinath mengatakan pada konferensi pers sebelumnya bahwa eskalasi konflik dan potensi sanksi Barat terhadap Rusia kemungkinan akan mendorong harga minyak dan gas alam lebih tinggi, mendorong biaya energi lebih tinggi bagi banyak negara di dunia.

Itu berarti inflasi utama, yang sudah pada tingkat yang sangat tinggi di seluruh dunia, bisa tetap "jauh lebih tinggi lebih lama," katanya.

Itu pada gilirannya, katanya kepada Reuters, dapat memperpanjang "angka inflasi yang sangat tinggi" dan meningkatkan risiko bahwa mereka dapat mengakar dan mulai masuk ke dalam spiral harga upah.

Konflik seperti itu juga akan berdampak pada pasar saham Rusia dan mata uang Rusia, rubel, katanya, seraya menambahkan bahwa pejabat IMF masih mengharapkan resolusi damai.

IMF pada Selasa (25/1/2022) merevisi perkiraan inflasi 2022 untuk negara maju dan berkembang, dan mengatakan tekanan harga yang meningkat kemungkinan akan bertahan lebih lama dari perkiraan sebelumnya, tetapi mengatakan harga akan mereda pada 2023 karena pertumbuhan harga bahan bakar dan makanan moderat. (OL-13)

Baca Juga: AS-Eropa Nyatakan Persatuan Lawan Rusia Atas Ukraina

Baca Juga

AFP/Mihai Barbu

Antisipasi Ancaman Rusia, NATO Bangun Kekuatan Baru

👤Cahya Mulyana 🕔Kamis 30 Juni 2022, 09:57 WIB
Pasukan tempur di bagian timur aliansi hingga tingkat brigade ditingkatkan. Sebuah brigade memiliki sekitar 3.000 hingga 5.000...
AFP/EVARISTO SA

Pengadilan Banding Naikan Denda Kompensasi yang Harus Dibayarkan Bolsonaro ke Wartawati

👤Basuki Eka Purnama 🕔Kamis 30 Juni 2022, 09:15 WIB
Kasus itu berawal pada Februari 2020 ketika Bolsonaro menuding Campos Melo menawarkan imbalan seks kepada sejumlah narasumber untuk...
AFP/GRIGORY SYSOYE

Putin Tuduh NATO Ambil Untung dari Konflik di Ukraina

👤Cahya Mulyana 🕔Kamis 30 Juni 2022, 09:09 WIB
Putin mengatakan hubungan Moskow dengan Helsinki dan Stockholm dipastikan akan memburuk karena status baru kedua negara di...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya