Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
MENINGKATNYA intoleransi pemerintah terhadap liputan independen mendorong jumlah jurnalis yang dipenjara di seluruh dunia ke rekor tertinggi mencapai 293 orang di tahun ini.
Jumlah tersebut, yang naik dari 280 pada tahun 2020, adalah rekor tahunan keenam berturut-turut untuk jumlah jurnalis yang dipenjara di seluruh dunia seperti yang dihitung oleh kelompok pemantau, Committee to Protect Journalists yang berbasis di New York.
Sejak kelompok tersebut membuat database pemenjaraan pada tahun 1992, itu telah menjadi tolok ukur global untuk mengukur represi terhadap jurnalis.
Direktur Eksekutif Committee to Protect Journalists, Joel Simon dan Arlene Getz, direktur editorialnya, mengatakan dalam rilis survei bahwa kenaikan tanpa jumlah jurnalis yang dipenjara mencerminkan keadaan yang berbeda di setiap negara.
Tetapi terdapat kesamaan yaitu keengganan yang tumbuh di kalangan pemerintah otoriter untuk menerima rilis publik informasi yang mereka anggap sebagai ancaman.
"Jumlah tersebut mencerminkan dua tantangan yang tak terpisahkan, pemerintah bertekad untuk mengontrol dan mengelola informasi, dan mereka semakin berani dalam upaya mereka untuk melakukannya," kata Simon pada Kamis (9/12).
"Memenjarakan jurnalis karena melaporkan berita adalah ciri rezim otoriter,” imbuhnya.
Survei tersebut menawarkan tandingan terhadap upaya agresif Tiongkok yang bertujuan menampilkan dirinya untuk Olimpiade Musim Dingin Beijing pada Februari 2021 dan menggambarkan Partai Komunis yang berkuasa sebagai pembela kebebasan demokratis.
Lima puluh jurnalis diketahui dipenjara oleh Tiongkok, survei menemukan, lebih dari di tempat lain, dan untuk pertama kalinya termasuk jurnalis dari Hong Kong, wilayah Tiongkok dikenai undang-undang keamanan yang keras pada tahun 2020 setelah protes pro-demokrasi di sana.
Di nomor dua tahun ini adalah Myanmar, junta militer merebut kekuasaan pada Februari 2021 dan menangkap banyak wartawan dan memenjarakan sedikitnya 26 orang.
Mesir dengan 25, Vietnam, 23, dan Belarus, 19, melengkapi lima besar dalam daftar survei, diikuti oleh Turki, 18, Eritrea, 16, Arab Saudi dan Rusia, keduanya 14, serta Iran, 9.
Getz mengakui bahwa beberapa negara yang secara historis pernah menjadi salah satu pemenjara jurnalis terkemuka menentang tren tersebut. Turki, misalnya, yang menduduki peringkat 1 pada 2018, merosot peringkatnya setelah merilis 20 jurnalis tahun lalu.
Namun dalam kasus Turki, Presiden Recep Tayyip Erdogan, secara efektif membungkam media domestik dalam tindakan keras setelah kudeta yang gagal pada 2016.
Banyak wartawan telah beralih ke profesi lain, sementara yang lain menunggu tuntutan dibebaskan bersyarat.
Getz mengatakan bahwa,"Naif jika melihat jumlah tahanan yang lebih rendah sebagai tanda perubahan hati terhadap pers.”
Tidak ada jurnalis yang dipenjara di Amerika Utara pada 1 Desember, kata kelompok itu, tetapi mencatat bahwa Pelacak Kebebasan Pers AS, sebuah kolaborasi dari kelompok itu dan organisasi advokasi pers lainnya, melaporkan setidaknya 56 penangkapan dan penahanan jurnalis di seluruh AS tahun ini, 86% dari mereka melakukan protes.
Jumlah itu hampir sama dengan total gabungan tahun 2017, 2018 dan 2019.
Kelompok itu juga melaporkan bahwa jumlah jurnalis yang terbunuh di seluruh dunia sebagai pembalasan atas pekerjaan mereka berjumlah setidaknya 19 tahun ini sekak 1 Desember, dibandingkan dengan 22 untuk semua tahun 2020.
Tiga wartawan lainnya tewas tahun ini saat meliput dari zona konflik, kata kelompok itu, dan dua lainnya tewas saat meliput protes atau bentrokan jalanan.
Meksiko tetap menjadi negara paling mematikan bagi wartawan di belahan Barat, menurut kelompok itu, dengan tiga orang tewas sebagai pembalasan atas pelaporan mereka.
Kelompok itu mengatakan sedang menyelidiki enam pembunuhan wartawan lainnya di Meksiko untuk menentukan motif para pembunuh.
India adalah rumah bagi jumlah wartawan tertinggi yang terbunuh sebagai pembalasan atas pelaporan mereka, sebanyak empat orang dan yang kelima terbunuh saat meliput protes, kata kelompok itu. (Aiw/Straitstimes/OL-09)
Lilik bercerita, tulisannya mengangkat cerita perjalanan panjang energi. Mulai dari minyak mentah sampai menjadi produk BBM yang ramah lingkungan dan produk gas
WAKIL Menteri Komunikasi dan Digital Angga Raka Prabowo, mengatakan, peningkatan kompetensi jurnalis menjadi hal krusial di tengah gempuran teknologi kecerdasan artifisial (AI).
Di tengah dinamika pendidikan tinggi yang terus berubah, Universitas Terbuka (UT) memperkenalkan wajah baru kepemimpinannya serta arah strategis yang ingin dibangun bersama
Aspek HAM pada Astacita pertama merupakan komitmen yang kuat pemerintahan saat ini untuk membangun peradaban baru.
KETUA Dewan Pers, Komaruddin Hidayat menegaskan bahwa jurnalis memiliki peran penting sebagai penulis sejarah yang dapat mempengaruhi masyarakat dalam memandang dunia.
Pendapat tersebut bukan hanya keliru, tetapi juga mencerminkan sikap abai terhadap hak konstitusional wartawan Indonesia.
MK telah mengambil langkah berani dalam menempatkan posisi wartawan sebagai pilar penting dalam sistem demokrasi.
Departemen Kehakiman AS di bawah Pam Bondi mengambil langkah ekstrem dengan menyita perangkat wartawan Hannah Natanson terkait penyelidikan kebocoran dokumen rahasia.
Demokrasi tak alergi atas masukan dan kritik dari dan oleh rakyat. Demokrasi juga tidak tuna-'teguran' dan 'koreksian'. Sebagai konsep, demokrasi tidak pernah 'kaku' dan 'beku'.
AKADEMISI Usman Kansong mengatakan pencabutan kartu pers liputan istana dengan alasan wartawan bertanya di luar konteks merupakan pelanggaran terhadap kemerdekaan pers.
Dewan Pers mendesak Istana, dalam hal ini, Biro Pers, Media, dan informasi Sekretariat Presiden (BPMI Setpres), memulihkan akses liputan wartawan CNN Indonesia.
BPMI Setpres didesak meminta maaf dan mengembalikan ID liputan Istana milik jurnalis CNN Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved