Jumat 05 November 2021, 19:41 WIB

Disiarkan Berbahasa Ibrani, Media Palestina Cari Perhatian Israel

Mediaindonesia.com | Internasional
Disiarkan Berbahasa Ibrani, Media Palestina Cari Perhatian Israel

AFP/Abbas Momani.
Seorang karyawan bekerja di stasiun radio Jerusalem 24 yang baru diluncurkan di kota Ramallah di Tepi Barat yang diduduki Israel.

 

DARI studio modern, Jerusalem 24 yang baru diluncurkan menawarkan siaran unik bagi media Palestina. Pasalnya, ia menyampaikan berita dalam bahasa Ibrani dengan harapan dapat menjangkau audiens Israel.

"Publik Israel mendengarkan media yang berbicara kepada mereka, tetapi mereka tidak mendengarkan pihak lain," kata Rima Mustafa, penyiar di stasiun di kota Ramallah, Tepi Barat yang diduduki Israel. Jerusalem 24 diluncurkan pada September dengan mandat untuk meliput konflik Israel-Palestina, khususnya dampaknya terhadap kehidupan Palestina.

Meskipun perhatian diplomatik dan media internasional besar-besaran secara tradisional ditujukan untuk konflik tersebut, pemimpin redaksi Jerusalem 24 mengatakan kesulitan sehari-hari yang dialami oleh orang-orang Palestina tetap tersembunyi, terutama secara lokal. "Kami ingin mengisi kekosongan dalam peliputan tentang yang terjadi di Jerusalem dan daerah-daerah yang terpinggirkan," kata Mai Abu Assab kepada AFP.

Di Jerusalem, "Ada pembersihan etnis dan pengusiran paksa (warga Palestina dari rumah mereka) tetapi dunia menutup telinga," katanya.

Baca juga: Sambut Abbas, Vatikan: Jerusalem Kota Suci Tiga Agama Ibrahim

Tidak paham

Jerusalem 24, yang mentransmisikan pada 106,1 FM dan memiliki situs web khusus bahasa Inggris untuk saat ini, bukanlah radio Palestina pertama yang disiarkan dalam bahasa Ibrani. Radio Huna al-Quds, diluncurkan pada pertengahan 1930-an di Palestina yang diamanatkan Inggris, juga berusaha melayani orang-orang Yahudi melalui siaran berita Ibrani dan Inggris, selain bahasa Arab.

Namun sejak penutupannya menyusul pembentukan Israel pada 1948, orang Israel yang tidak bisa berbahasa Arab memiliki pilihan terbatas untuk mendapatkan berita langsung dari tetangga Palestina mereka. David Haliva, seorang pelatih pribadi Israel di Tel Aviv, secara teratur mendengarkan Jerusalem 24.

"Orang Israel tidak tahu tentang masyarakat Palestina. Bahkan saya tidak tahu banyak. Ada kesenjangan besar antara apa yang kita pikir kita ketahui dan apa yang disajikan," katanya.
 
Terlepas dari konflik dan kepahitan selama beberapa dekade, Haliva menyoroti tantangan umum yang dihadapi oleh orang Israel dan Palestina, seperti kurangnya perumahan yang terjangkau dan kesulitan dalam mendapatkan izin bangunan. Pelatih itu mengatakan bahwa dia terkesan dengan profesionalisme dari saluran Palestina berbahasa Ibrani tetapi ingin mendengar orang-orang Palestina dengan lebih jelas menolak kekerasan.

Baca juga: Jika Amerika Izinkan, Israel Kuasai Gaza pada 1956

Dia mengaku merasa ngeri dengan istilah pendudukan yang mengacu pada Tepi Barat atau Jerusalem timur yang dicaplok Israel. Israel merebut Tepi Barat dalam Perang Enam Hari 1967 bersama dengan Jerusalem timur, yang kemudian dicaploknya dalam langkah yang tidak diakui oleh sebagian besar masyarakat internasional.

Kritik kedua pihak 

Sesuai dengan mandatnya untuk berbagi perspektif Palestina dengan publik Israel, Jerusalem 24 mengkritik baik Israel maupun Otoritas Palestina (PA). PA menurut jajak pendapat memiliki rekor peringkat persetujuan rendah di Tepi Barat.

PA yang dipimpin oleh presiden Mahmud Abbas dan gerakan sekuler Fatah awal tahun ini menghadapi protes jalanan yang jarang terjadi menyusul kematian seorang aktivis hak asasi terkemuka, Nizar Banat, dalam tahanan Palestina. "Kami mengkritik PA dan Israel, tetapi kami melakukannya secara profesional," kata Mohammed Hamayel, salah satu wartawan radio terkemuka.

Assab, pemimpin redaksi, mengatakan ide untuk meluncurkan Jerusalem 24 dimulai pada 2015, ketika Jerusalem melihat serangkaian serangan 'serigala tunggal' yang dilakukan oleh orang-orang Palestina yang dipersenjatai dengan pisau dan kadang-kadang senjata yang menargetkan orang-orang Yahudi Israel. Untuk mengudarakannya membutuhkan dana dari kelompok masyarakat sipil Denmark Church Aid.

Baca juga: Nasionalisasi Suez Dorong Israel Ingin Kuasai Gaza

Namun dengan hanya enam jurnalis penuh waktu dan jam tayang untuk mengisi, Jerusalem 24 bergantung pada program musik yang panjang yang juga menarik bagi Haliva di Tel Aviv. "Saya suka variasi musiknya," katanya sambil mengetuk-ketukkan jarinya di kemudi sambil mendengarkan lagu dari bintang Inggris Dua Lipa. (AFP/OL-14)

Baca Juga

dok.mi

Presiden AAYG Dukung Pemerintah RI Wujudkan Perdamaian Dunia

👤mediandonesia.com 🕔Rabu 17 Agustus 2022, 14:45 WIB
Presiden Asian African Youth Government (AAYG), Respiratori Saddam Al Jihad mendukung pemerintah RI untuk terlibat aktif mewujudkan...
dok.AFP

Ukraina Klaim Sukses Buat Rusia Kelabakan di Krimea

👤Cahya Mulyana 🕔Rabu 17 Agustus 2022, 11:21 WIB
Ukraina telah menyatakan kesuksesan atas sejumlah serangan di Krimea yang membuat Rusia panik. Kyiv akan melanjutkannya sampai kekuatan...
AFP/MOHAMMED ABED

Israel Akhirnya Akui Membunuh 5 Anak Palestina yang Sedang Bermain

👤Cahya Mulyana 🕔Rabu 17 Agustus 2022, 10:52 WIB
Saat terjadinya serangan, militer Israel sempat mengklaim kelima anak itu tewas akibat terkena roket milik Jihad...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya