Headline
Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%
Kumpulan Berita DPR RI
TALIBAN menyatakan perang di Afghanistan sudah berakhir setelah gerilyawan menguasai istana presiden di Kabul.
Presiden Afghanistan Ashraf Ghani melarikan diri dari negara itu pada hari Minggu (15/8) ketika militan memasuki Kota Kabul. Dikatakannya, dia ingin menghindari pertumpahan darah.
"Hari ini adalah hari besar bagi rakyat Afghanistan dan mujahidin. Mereka telah menyaksikan hasil dari upaya dan pengorbanan mereka selama 20 tahun," kata juru bicara kantor politik Taliban Mohammad Naeem, kepada Al Jazeera TV.
"Terima kasih kepada Tuhan, perang di negara ini sudah berakhir," ucapnya.
Taliban hanya membutuhkan lebih dari seminggu untuk menguasai negara itu setelah serangan kilat yang berakhir di Kabul.
Al Jazeera menyiarkan cuplikan dari apa yang dikatakan komandan Taliban di istana kepresidenan dengan puluhan pejuang bersenjata.
Naeem mengatakan jenis dan bentuk rezim baru di Afghanistan akan segera dijelaskan. Taliban, tambahnya, tidak ingin hidup dalam isolasi dan menyerukan hubungan internasional yang damai.
"Kami telah mencapai apa yang kami cari, yaitu kebebasan negara kami dan kemerdekaan rakyat kami," katanya.
"Kami tidak akan mengizinkan siapa pun menggunakan tanah kami untuk menargetkan siapa pun, dan kami tidak ingin menyakiti orang lain," jelasnya.
Baca juga: Kabul Dikepung Taliban, Presiden Afghanistan Lari Ke Tajikistan
Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan pada Senin pagi bahwa semua personel kedutaan, termasuk Duta Besar Ross Wilson, telah dipindahkan ke bandara Kabul untuk menunggu evakuasi dan bendera Amerika telah diturunkan dan dipindahkan dari kompleks kedutaan.
Ratusan warga Afghanistan menyerbu landasan pacu bandara dalam kegelapan. Mereka berdesak-desakan untuk mendapatkan tempat di salah satu penerbangan komersial terakhir yang meninggalkan negara itu sebelum pasukan AS mengambil alih kontrol lalu lintas udara pada hari Minggu.
"Bagaimana mereka bisa menguasai bandara dan mendikte syarat dan ketentuan untuk Afghanistan?" kata Rakhshanda Jilali, seorang aktivis hak asasi manusia yang berusaha untuk sampai ke Pakistan.
"Ini adalah bandara kami, tetapi kami melihat para diplomat dievakuasi sementara kami menunggu dalam ketidakpastian," kata Jilali, yang telah menerima beberapa ancaman pembunuhan, melalui Whatsapp dari bandara.
Lebih dari 60 negara barat, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Prancis dan Jepang, mengeluarkan pernyataan bersama yang mengatakan semua warga Afghanistan dan warga negara internasional yang ingin meninggalkan negara itu harus diizinkan pergi.(Straits Times/OL-5)
Juru Bicara Taliban Zabiullah Mujahid mengecam serangan udara Pakistan di Kabul dan Kandahar. Kabul klaim lancarkan operasi balasan besar-besaran di perbatasan.
Pakistan melancarkan serangan udara ke Nangarhar dan Paktika di Afghanistan. Kabul menuduh warga sipil tewas dan terluka, sementara Islamabad mengklaim operasi menargetkan TTP dan ISKP.
Jubir Taliban Zabihullah Mujahid tegaskan dukungan bagi Iran jika AS menyerang. Simak analisis hubungan Kabul-Teheran & dinamika keamanan Timur Tengah 2026.
LEDAKAN langka di ibu kota Pakistan, Islamabad, pada Selasa (11/11) menewaskan 12 orang dan melukai 20 orang. Demikian disampaikan Rumah Sakit Institut Ilmu Kedokteran Pakistan.
MANTAN Sekretaris Jenderal NATO dan Menteri Keuangan Norwegia saat ini, Jens Stoltenberg, menyebut penarikan pasukan AS dari Afghanistan sebagai kekalahan terbesar NATO.
Gempa bumi berkekuatan 6,3 magnitudo mengguncang Afghanistan utara dekat Mazar-i-Sharif. Belum ada laporan korban.
Dalam unggahan terbarunya di Truth Social, Trump mengklaim bahwa Departemen Luar Negeri memindahkan ribuan orang dari berbagai negara di Timur Tengah.
Otoritas Seoul telah menetapkan peringatan Level 4 untuk seluruh wilayah Iran.
Menlu periode 2001-2009 Noer Hassan Wirajuda menilai eskalasi serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memperlihatkan kian rapuhnya tatanan global berbasis aturan
JAUH-JAUH hari David Harvey (1989) dalam bukunya, The Condition of Postmodernity, telah menjelaskan dampak kondisi global ekonomi sebuah negara.
Perang akan memicu krisis pangan, disrupsi energi, gelombang pengungsi, kemiskinan ekstrem, pelanggaran hak asasi manusia, serta instabilitas ekonomi global.
Sekitar 200 korban di antaranya adalah anak-anak usia sekolah dasar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved