Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Prabowo Bahas Perang Iran-AS, Indonesia Siaga Hitung Dampak Energi

M Ilham Ramadhan Avisena
04/3/2026 05:15
Prabowo Bahas Perang Iran-AS, Indonesia Siaga Hitung Dampak Energi
Prabowo Bahas Perang Iran-AS dalam pertemuan bersama sejumlah tokoh nasional, Selasa (3/3/2026)(Dok. Biro Pers Sekretariat Presiden)

MENTERI Luar Negeri periode 2001-2009 Noer Hassan Wirajuda menilai eskalasi serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memperlihatkan kian rapuhnya tatanan global berbasis aturan. Dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto, diungkapkan situasi dunia saat ini menempatkan banyak negara, termasuk Indonesia, dalam posisi serba dilematis.

"Briefing tentang berbagai perkembangan terbaru yang terjadi di dunia, khususnya berkaitan dengan yang selama ini sudah menjadi perhatian banyak antara kita, yaitu mengenai yang paling mutakhir tentunya kembangan perang, perang maksud saya, serangan Amerika dan Israel terhadap Iran. Didiskusikan implikasinya apa terhadap kita, terhadap dunia," ujarnya.

Noer menyoroti kondisi ketika mekanisme global tak lagi efektif. Ia menilai ruang bagi negara korban agresi militer untuk mencari keadilan semakin menyempit.

"Karena PBB sudah tidak berperan dan aturan atau rule based order hanya on paper dan memang tidak ada kekuatan memaksa apalagi kalau itu berkaitan dengan negara-negara besar," kata dia.

Dalam diskusi tersebut, Prabowo menggambarkan tantangan geopolitik yang semakin kompleks. Indonesia, kata Noer, harus mampu menavigasi kepentingan di tengah banyak karang sekaligus.

Noer menambahkan, pemerintah menghitung berbagai skenario, mulai dari dampak terhadap pasokan energi hingga durasi konflik. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang semula menyebut perang akan berlangsung beberapa hari, menurutnya, kini berubah menjadi hitungan minggu dan berpotensi lebih lama bila operasi darat digelar.

"Kita berhitung semua apa efeknya terhadap kita dari sisi itu saja tapi juga dari sisi kalkulasi berapa lama perang ini akan berlangsung, seolah Trump mengatakan akan beberapa hari, sekarang sudah bicara beberapa minggu, tapi juga kalau misalnya mereka akan menggelar pasukan daratnya bisa jadi lebih panjang dan reaksi perlawanan di sekitar negara-negara Timur Tengah juga akan besar membesar dan akan karena itu perang berlangsung lama," ujarnya.

Noer mengingatkan, kawasan Teluk telah tiga kali menjadi arena perang besar dalam tiga dekade terakhir, mulai dari perang Irak-Kuwait era Presiden Bush Senior, invasi Irak 2003 oleh Bush Junior, hingga konflik terbaru ini. Ia menyebut kawasan tersebut tragis karena menjadi sumber energi dunia sekaligus ladang perang.

"Ini yang ketiga. Jadi tragis memang kawasan ini menjadi lahan terang dan perang-perang besar yang membawa dampak besar bagi dunia karena sumber minyak dan gas banyak berasal dari wilayah ini. Itu yang juga kita harus berhitung," kata dia.

Terkait kemungkinan Indonesia menjadi mediator, Noer menegaskan syarat utamanya adalah kepercayaan dari kedua pihak yang bertikai.

"Menjadi mediator itu kan harus bisa dipercaya dua pihak yang lain. Kita tidak membicarakan apa Indonesia mampu atau tidak. Itu kan pemikiran awal. Dengan kata lain untuk menjadi mediator kan harus juga ada penerimaan dari dua pihak yang bertikai. Dan kita belum lihat tanda-tanda itu," ujarnya.

Adapun posisi Indonesia dalam BOP juga dibahas ulang dalam konteks eskalasi terbaru. "Kita bahas. Tapi juga dalam konteks perkembangan mutakhir. Apakah dengan perang yang berkecamuk di Iran ini akan melemahkan, kemungkinan melemahkan posisi dan mandat BOP? Kita akan berhitung lagi dari sisi itu," pungkas Noer. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya