Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Kadin: Gas Jadi Penopang Hilirisasi Industri Strategis

Naufal Zuhdi
05/12/2025 12:22
Kadin: Gas Jadi Penopang Hilirisasi Industri Strategis
Energy Insights Forum bertajuk Gas Outlook 2026: Powering Energy Resilience with Strong Governance(Dok Kadin)

KAMAR Dagang Indonesia (Kadin) menilai keberlanjutan pembangunan akan sangat dipengaruhi ketersediaan energi khususnya gas bumi.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aryo Djojohadikusumo menilai gas semakin strategis bagi masa depan Indonesia. Pasalnya, gas kini berada di jantung agenda ketahanan pangan dan ketahanan energi nasional.

“Tidak mungkin ada ketahanan pangan tanpa pupuk, dan tidak mungkin ada pupuk tanpa gas,” ujarnya dalam Energy Insights Forum bertajuk Gas Outlook 2026: Powering Energy Resilience with Strong Governance, dikutip dari siaran pers yang diterima, Jumat (5/12).

Sebagai informasi, Energy Insights Forum merupakan forum diskusi bulanan hasil kolaborasi Kadin Bidang ESDM dan Katadata Insight Center untuk mendorong ekosistem investasi energi Indonesia yang inklusif, transparan, dan berorientasi ke depan.

Di dalam forum tersebut, Aryo mengingatkan bahwa gas akan menjadi sekitar seperempat bauran energi dalam RUPTL 10 hingga 15 tahun mendatang, utamanya untuk menopang hilirisasi industri strategis yang tengah dikejar pemerintah.

“Oleh karena itu, ketersediaan gas akan menentukankeberlanjutan sejumlah prioritas pembangunan,” kata Aryo.

Kadin mengajak seluruh pelaku usaha di sektor energi untuk berkolaborasi membantu pemerintah mencapai target pertumbuhan dan menciptakan lapangan kerja. 

“Tugas kita memastikan energi tersedia, industri jalan, dan negara maju. Itu bagian dari tanggung jawab kita,” tutur Aryo.

Senada, Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menekankan bahwa ketahanan energi dan ketahanan pangan merupakan dua prioritas utama pemerintahan saat ini. Keduanya, lanjut Eddy, memiliki benang merah yang sama dan titik krusialnya adalah gas.

Sebagaimana diketahui, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi tinggi, industrialisasi besar-besaran, serta produksi pupuk dan energiyang stabil. Semua itu, sambung Eddy, hanya mungkin dicapai bila pasokan gas aman dan didukung dengan infrastruktur yang juga siap.

Sementara itu, Direktur Perencanaan Strategis, Portofolio, dan Komersial Pertamina Hulu Energi (PHE) Edy Karyanto menjelaskan, pihaknya telah memetakan kebutuhan 136 konsumen perjanjian jual beli gas (PJBG) serta proyeksi dari lapangan baru dan yang sedang dikembangkan.

“Demand kita 2.600 MMSCFD, sementara kapasitas lifting hanya 2.000. Tahun ini shorted, 2026 shorted, bahkan sampai 2034,” imbuhnya.

Ia menambahkan, meski secara nasional terlihat potensi oversupply dari project baru, realitas infrastruktur dan alokasi ekspor membuat pasokan domestik tetap ketat. “Ada hal-hal yang harus dikolaborasikan, dari kebijakan sampai kesiapan infra,” bebernya.

Pembahasan mengenai prospek pasokan juga diperkaya paparan Partner EY-Parthenon EY Indonesia, Eric Listyosuputro. Ia menikai, tren global sebenarnya memberikan kombinasi peluang dan tantangan bagi Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa secara global, suplai gas akan berkembang lebih cepat dibanding permintaan, dengan pertumbuhan suplai mencapai 7% per tahun yang sebagian besar berasal dari Amerika Serikat, Kanada, dan Qatar.

Sementara itu, permintaan tumbuh sekitar 2% per tahun, dan Asia termasuk Indonesia menjadi kawasan dengan pertumbuhan tertinggi.

“Gas ini bukan hanya transisi tetapi transisi jangka panjang,” sebut dia.

Sementara dari sisi hilir, Direktur Manajemen Risiko Perusahaan Gas Negara (PGN) Eri Surya Kelana menjelaskan, infrastruktur gas tidak hanya mahal tetapi juga berumur sangat panjang hingga puluhan tahun. Perubahan model bisnis di tengah jalan bisa memicu indikasi impairment dan berujung pada risiko hukum bagi BUMN.

PGN juga harus menghadapi tantangan harga liquefied natural gas (LNG) yang mahal bagi pelanggan domestik. Perseroan mencoba skema blended energy agar harga gas lebih terjangkau, sembari mengantisipasi porsi LNG yang tahun depan bisa mencapai hampir 20% dari portofolio pasokan.

Dari sisi regulator, Kepala Divisi Komersialisasi Minyak dan Gas Bumi SKK Migas, Ufo Budiarius Anwar menyampaikan bahwa kebutuhan gas domestik akan terus meningkat, sementara ruang manuver industri hulu tidak sederhana.

Ia juga mengingatkan bahwa LNG bukan pilihan murah. Pasalnya, gas semestinya dimaksimalkan untuk industri sebagai penggerak multiplier effect. Ufo juga menekankan perlunya kepastian bagi investor, baik dari sisi regulasi maupun insentif, agar proyek-proyek besar seperti Masela, hingga lapangan ENI dapat berjalan tanpa hambatan dan menopang target produksi nasional. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya