Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Bahlil Berencana Setop Ekspor Timah, Alasannya Perkuat Hilirisasi

Ihfa Firdausya
16/2/2026 12:11
Bahlil Berencana Setop Ekspor Timah, Alasannya Perkuat Hilirisasi
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.(Antara Foto)

MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut pihaknya akan mengkaji penyetopan ekspor timah. Ia menegaskan ekspor barang mentah harus digantikan dengan komoditas hasil industri hilirisasi dalam negeri demi memperkuat posisi ekonomi Indonesia.

"Tahun lalu kita melarang ekspor bauksit. Tahun ke depan, kita akan mengkaji untuk beberapa komoditas lain, termasuk timah. Tidak boleh lagi kita ekspor barang mentah. Silakan teman-teman membangun investasi hilirisasi di dalam negeri," kata Bahlil dalam keterangan yang dikutip, Senin (16/2).

Bahlil mencontohkan pelarangan ekspor bijih nikel pada 2018-2019. Ia mengklaim kebijakan itu berbuah manis dengan total ekspor nikel mencapai 10 kali lipat pada periode 2023-2024 dan berharap demikian dengan setop ekspor timah.

"Total ekspor nikel kita tahun 2018-2019 itu hanya US$3,3 miliar. Kemudian begitu kita melarang ekspor, di 2024 itu total ekspor kita sudah mencapai US$34 miliar, 10 kali lipat hanya dalam waktu 5 tahun. Inilah kemudian yang menjadi dorongan pertumbuhan ekonomi yang merata, menciptakan lapangan pekerjaan," ujar Bahlil.

Beberapa waktu lalu, Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan 18 proyek hilirisasi sebagai prioritas nasional 2026 dengan nilai investasi mencapai Rp618 triliun. Proyek-proyek tersebut mencakup berbagai sektor strategis dan ditargetkan mulai berjalan tahun ini, termasuk hlirisasi bauksit, nikel, gasifikasi batu bara, hingga kilang minyak.

Produk hasil hilirisasi ini ditargetkan menjadi barang yang dapat menggantikan barang-barang impor dari luar negeri. Bahlil pun mengundang investor nasional, termasuk sektor perbankan, untuk masuk menyuntikkan dananya pada proyek strategis nasional ini.

"Semua produknya adalah untuk melahirkan substitusi impor. Ini captive market dalam negeri. Nah ini kesempatan perbankan untuk membiayai. Jangan sampai kalian tidak biayai lagi, nanti dikira hilirisasi itu hanya nilai tambahnya dikuasai oleh teman-teman kita dari luar negeri," pungkasnya.

Hingga 2040 mendatang, program hilirisasi di berbagai sektor diprediksi akan mendatangkan investasi hingga US$618 miliar (Sekitar Rp10ribu triliun). Dari jumlah itu, US$498,4 miliar (Rp837 triliun) datang dari subsektor mineral dan batu bara (minerba) dan US$68,3 miliar dari minyak dan gas bumi.

Hilirisasi juga diproyeksikan mendatangkan ekspor US$857,9 miliar, Pendapatan Domestik Bruto (PDB) US$235,9 miliar, hingga lebih dari 3 juta tenaga kerja. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik