Kamis 28 Januari 2021, 10:40 WIB

PM Inggris akan ke Skotlandia untuk Cegah Perpecahan Britania

Basuki Eka Purnama | Internasional
PM Inggris akan ke Skotlandia untuk Cegah Perpecahan Britania

AFP/Geoff PUGH
PM Inggris Boris Johnson

 

PERDANA Menteri Inggris Boris Johnson bersiap mengunjungi Skotlandia, Kamis (28/1), di tengah kekhawatiran akan perpecahan Inggris Raya dan mengatakan pengalaman pandemi covid-19 menekankan manfaat pentingnya menjadi bagian dari Inggris.

Johnson akan mengunjungi Skotlandia untuk menghadapi dukungan yang semakin besar bagi referendum kemerdekaan Skotlandia dari Inggris Raya.

Ikatan yang menyatukan Inggris Raya telah sangat renggang selama lima tahun terakhir akibat pemisahan Inggris dari Uni Eropa (Brexit), cara penanganan pandemi covid-19 oleh pemerintah, dan seruan berulang kali oleh Partai Nasional Skotlandia agar referendum baru diselenggarakan tentang kemerdekaan.

Baca juga: Regulator UE dan Inggris Izinkan Boeing 737 Kembali Mengangkasa

Menjelang kunjungannya, Johnson mengatakan Skotlandia, sebagai bagian dari Inggris Raya, memperoleh akses ke vaksin covid-19 yang dikembangkan Universitas Oxford dan vaksin-vaksin itu dikelola oleh angkatan bersenjata bersama mereka, yang menciptakan 80 pusat vaksinasi baru di Skotlandia.

"Kita telah bersatu untuk mengalahkan virus. Kerja sama timbal balik di seluruh Inggris selama pandemi ini persis seperti yang diharapkan masyarakat Skotlandia dan itulah yang menjadi fokus saya," kata Johnson.

Perdana Menteri Skotlandia Nicola Sturgeon, Rabu (27/1), mengkritik rencana perjalanan Johnson ke Skotlandia.

Sturgeon mempertanyakan apakah alasan kunjungan Johnson benar-benar penting dan berpendapat langkah itu memberikan contoh yang buruk bagi publik.

Sturgeon, yang menjalankan pemerintahan semiotonom Skotlandia, berharap kekuatan Partai Nasional Skotlandia pimpinannya pada pemilihan parlemen yang dilimpahkan di negara itu pada Mei akan memberinya mandat untuk mengadakan referendum kedua.

Jika Skotlandia memilih merdeka, itu berarti Inggris Raya akan kehilangan sekitar sepertiga dari daratannya dan hampir sepersepuluh populasinya dan saat negara ekonomi terbesar keenam di dunia itu bergulat dengan dampak Brexit.

Johnson, yang mungkin harus menyetujui referendum baru, mengatakan bahwa tidak perlu ada pemungutan suara baru setelah kemerdekaan itu ditolak oleh para pemilih di Skotlandia pada 2014.

Skotlandia, dalam referendum 2014, memilih menentang kemerdekaan dengan persentase 55% berbanding 45%.

Namun, mayoritas orang Skotlandia juga mendukung Inggris untuk tetap bergabung dalam Uni Eropa pada pemungutan suara Brexit 2016.

Keadaan itu memicu para nasionalis Skotlandia menuntut penyelenggaraan pemungutan suara baru untuk kemerdekaan setelah Inggris Raya secara keseluruhan memilih keluar dari Uni Eropa. (Ant/OL-1)

Baca Juga

AFP/Menahem Kahana.

Israel Klaim Gagalkan Rencana Hamas Bunuh Anggota Parlemen Yahudi

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 24 Mei 2022, 22:35 WIB
Kelimanya juga ikut serta dalam kerusuhan di kompleks masjid, kata Shin Bet. Dikatakan petugas menyita pesawat tak berawak yang mereka duga...
Ishara S. KODIKARA / AFP.

Sri Lanka Naikkan Harga Bahan Bakar ke Rekor Tertinggi

👤Nur AivanniĀ  🕔Selasa 24 Mei 2022, 17:11 WIB
Menteri Energi Kanchana Wijesekera mengatakan kabinet menyetujui tarif baru untuk membendung kerugian besar di Ceylon Petroleum Corp yang...
AFP/Jaafar Ashtiyeh.

Israel Nilai Tentaranya yang Bunuh Jurnalis Al Jazeera tidak Bersalah

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 24 Mei 2022, 16:19 WIB
Al Jazeera yang berbasis di Qatar menuduh Israel membunuh Abu Akleh dengan sengaja dan dengan darah...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya