Sabtu 19 September 2020, 06:36 WIB

Asap Karhutla California Selimuti Kanada, Warga Susah Bernapas

Haufan Hasyim Salengke | Internasional
Asap Karhutla California Selimuti Kanada, Warga Susah Bernapas

Don MacKinnon / AFP
Wajah Kota Vancouver diselimuti kabut asap kebakaran hutan kiriman dari California, AS, Kamis (17/9/2020).

 

ASAP kebakaran hutan California dan Oregon di Amerika Serikat menyelimuti kota terbesar ketiga di Kanada, Vancouver. Kota yang terkenal dengan pemandangan pegunungan yang megah dan angin laut segar masuk dalam pemantauan udara terkotor di dunia minggu ini. Warga mulai merasakan susah bernapas, mata perih dan iritasi, dan warga yang memiliki sakit asma semakin susah bernapas. Kondisi ini semakin mempersulit pemerintah setempat melakukan pengujian vaksin covid-19.

Pada Jumat (18/9) ramalan cuaca di Vancouver akan terjadi badai hujan yang bisa menghapus asap kebakaran hutan dikirim dari California, yang jaraknya 1.300 km dari Vancouver. Kota Vancouver untuk kedua kalinya menduduki puncak dalam minggu ini berdasarkan data World Air Quality Index.

"Saya kehabisan napas sepanjang waktu, dada saya terasa seperti meledak, saya merasa seperti akan tercekik," kata Fatima Jaffer, seorang mahasiswa doktoral di Universitas British Columbia kepada AFP.

"Saya takut kerusakan jangka panjang yang mungkin diakibatkan asap ini pada paru-paru dan asma saya," ujarnya.

Pihak berwenang di wilayah metropolitan berpenduduk 2,5 juta jiwa mengeluarkan peringatan kualitas udara setiap hari sejak 8 September. Mengantisipasi hal-hal yang sangat Vancouver membuka lima tempat penampungan udara bersih yang telah disaring. Polusi udara setara dengan merokok delapan batang sehari, catat para peneliti. Pejabat kesehatan mendesak semua warga untuk menutup jendela dan menghindari olahraga berat atau aktivitas luar ruangan, terutama mereka yang menderita penyakit pernapasan.

baca juga: Trump Setujui Dana untuk Dampak Kebakaran Hutan California 

Jaffer, 58, mengatakan asmanya yang memburuk menambah rasa panik dan ketakutan, karena dia baru saja pulih dari covid-19, yang merampas indra penciumannya. Sekarang, dia khawatir kabut asap dapat meningkatkan kemungkinannya untuk terinfeksi ulang atau menyebabkan komplikasi kesehatan baru.

"Saya baru saja sampai di tempat untuk mengatasi ketakutan akan covid-19 dan merasa seperti saya bisa bernapas lagi. Dan sekarang saya benar-benar tidak bisa," ungkapnya.

Armel Castellan, ahli meteorologi kesiapsiagaan federal mengatakan dampak kebakaran hutan pada minggu ini menjadi mengerikan karena kualitas udara memburuk. 
 
"Partikulat halus telah meningkatkan indeks kesehatan kualitas udara. Tidak diragukan lagi ini sangat masif dan sangat memprihatinkan," tandasnya. (OL-3
 

Baca Juga

AFP

Jerman Juga Menuntut Alexei Navalny Segera Dibebaskan

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 18 Januari 2021, 23:30 WIB
Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas menuntut kritikus pemerintah Rusia, Alexei Navalny, untuk segera...
paho.org

Johnson & Johnson Janjikan 9 Juta Vaksin untuk Afrika Selatan

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 18 Januari 2021, 23:00 WIB
Negara itu telah mencatat lebih dari 1,3 juta kasus infeksi korona dan lebih dari 37.000 kematian akibat Covid-19, yang merupakan jumlah...
ultimate-ski.com

Varian Baru Virus Korona Serang Resor Mewah di Swiss

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 18 Januari 2021, 22:35 WIB
St Moritz adalah kota berpenduduk 5.200 orang yang membanggakan dirinya sebagai tempat kelahiran olahraga musim dingin...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya