Headline

Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.

Konsulat AS di Toronto Ditembaki, Kanada Selidiki Sebagai Insiden Keamanan Nasional

Thalatie K Yani
11/3/2026 08:35
Konsulat AS di Toronto Ditembaki, Kanada Selidiki Sebagai Insiden Keamanan Nasional
CCTV kendaraan yang diduga melakukan tembakan ke kedutaan besar AS di Toronto, Kanada(Toronto Police Service)

OTORITAS keamanan Kanada tengah melakukan penyelidikan intensif setelah gedung Konsulat Amerika Serikat di Toronto menjadi sasaran penembakan pada Selasa pagi waktu setempat. Meski menyebabkan kerusakan pada bangunan, insiden ini dilaporkan tidak memakan korban jiwa.

Kepolisian Toronto mengungkapkan seorang saksi mata melaporkan adanya tembakan di sekitar gedung konsulat pukul 05.29 pagi, sekitar satu jam setelah kejadian tersebut diperkirakan berlangsung.

Wakil Kepala Kepolisian Toronto, Frank Barretto, mengonfirmasi tim investigasi telah menemukan sejumlah bukti di lokasi kejadian. “Kami menemukan bukti pelepasan senjata api, selongsong peluru, serta kerusakan pada gedung,” ujar Barretto.

Kronologi dan Pelaku

Berdasarkan keterangan saksi dan rekaman kamera pengawas (CCTV), dua orang pria diduga melepaskan tembakan menggunakan pistol ke arah bagian depan gedung konsulat. Kedua pelaku kemudian melarikan diri menggunakan mobil Honda CRV berwarna putih.

Meski ada staf yang berada di dalam gedung saat kejadian, Barretto memastikan mereka dalam kondisi aman. Ketatnya pengamanan gedung dengan material logam dan kaca antipeluru membuat para staf kemungkinan besar tidak menyadari adanya serangan tersebut.

“Gedung ini sangat aman dan berbenteng kuat. Tidak ada cedera yang dilaporkan,” tambah Barretto. Saat ini, Satuan Tugas Khusus Senjata Api dan Geng Toronto memimpin penyelidikan dengan dukungan dari lembaga federal.

Kaitan dengan Eskalasi Global

Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan global akibat perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran. Beberapa hari sebelumnya, sebuah ledakan juga mengguncang Kedutaan Besar AS di Oslo, Norwegia.

Kepala Inspektur Royal Canadian Mounted Police (RCMP), Chris Leather, menyatakan pihaknya telah mengaktifkan Tim Penegakan Keamanan Nasional Terpadu (INSET) untuk menangani kasus ini.

“Saat ini, tim INSET telah dilibatkan karena ini adalah insiden keamanan nasional. Kami bekerja sama dengan Polisi Toronto dan pihak lainnya untuk memahami motivasi para pelaku,” kata Leather.

Terkait dugaan keterkaitan dengan konflik di Timur Tengah atau rentetan penembakan di sinagoga di Ontario baru-baru ini, Leather menyebut hal itu masih dalam penyelidikan. "Hal-hal tersebut sangat memengaruhi cara kami mendekati masalah ini," jelasnya.

Spekulasi "Sel Tidur"

Perdana Menteri Ontario, Doug Ford, melontarkan spekulasi bahwa serangan ini mungkin dilakukan oleh jaringan teroris yang terorganisir. "Saya percaya ada 'sel tidur' di seluruh dunia di AS, di Kanada," ujar Ford dalam konferensi pers terpisah.

Namun, RCMP menyatakan belum memiliki informasi valid untuk mengonfirmasi keberadaan sel tidur tersebut. Status apakah serangan ini akan diklasifikasikan sebagai tindakan terorisme atau bukan bergantung pada hasil investigasi akhir.

Respons Diplomatik

Duta Besar AS untuk Kanada, Pete Hoekstra, menyebut insiden ini "sangat mengkhawatirkan." Melalui unggahan di media sosial X, ia menyatakan rasa syukur karena tidak ada korban luka dan menegaskan bahwa misi diplomatik AS tidak akan goyah.

“Tim saya menjalin kontak erat dengan Polisi Toronto dan otoritas Kanada. Kami memiliki kepercayaan penuh pada penyelidikan mereka. Pekerjaan kami berlanjut, kami tidak akan terintimidasi,” tulis Hoekstra.

Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, turut mengecam keras kejadian tersebut. Ia menyebut penembakan itu sebagai "tindakan kekerasan yang tercela dan upaya intimidasi." Carney memastikan pemerintah akan mengerahkan segala sumber daya federal untuk menyeret pelaku ke pengadilan.

Sebagai langkah antisipasi, otoritas Kanada kini meningkatkan status keamanan di seluruh konsulat dan kedutaan besar, khususnya milik Amerika Serikat dan Israel, guna menurunkan tensi situasi dalam beberapa pekan ke depan. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya