Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
Puluhan ribu orang menandatangani petisi yang menyerukan agar Libanon ditempatkan di bawah mandat Prancis. Hingga Jumat (7/8) setidaknya 58.000 orang telah menandatangani petisi online yang dibuat oleh warga Libanon itu sejak Rabu (5/8).
Petisi itu berisikan keinginan untuk menempatkan Libanon di bawah mandat Prancis selama 10 tahun ke depan. Lantaran pemerintahan saat ini dinilai telah gagal dan tidak mampu mengelola negara itu.
"Pejabat Libanon jelas menunjukkan ketidakmampuan total untuk mengamankan dan mengelola negara. Dengan sistem yang gagal, korupsi, terorisme dan milisi, negara baru saja mencapai nafas terakhirnya," demikian bunyi petisi itu seperti dilansir Al Jazeera. "Kami percaya Libanon harus kembali di bawah mandat Prancis untuk membangun pemerintahan yang bersih dan tahan lama."
Baca Juga: Simpati dan Dukungan Mengalir ke Libanon
Namun, warga lainnya mengecam petisi tersebut sebagai sarana untuk melanjutkan kolonialisme Prancis.
Bertepatan dengan kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron membuat warga menaruh harapan baru. Banyak yang merasa tersentuh dengan kedatangan pemimpin dunia pertama ke kota yang hancur akibat ledakan itu.
Bahkan ketika Macron tiba di lokasi ledakan dan menyusuri jalan Gemmamyze, banyak warga mengerumuninya dan menyerukan perubahan rezim sambil berteriak, "Revolusi!" Ada juga yang berkata, "Anda adalah harapan kami satu-satunya."
Baca Juga: KBRI Beirut Pastikan Semua WNI di Libanon Aman dari Ledakan
Warga juga mengungkapkan keputusasaan mereka terhadap kondisi pemerintahan di negara itu. Seorang wanita bahkan menangis dan meminta agar Prancis tidak memberikan sumbangan secara langsung ke pemerintah. Lantaran dikhawatirkan bantuan itu justru akan kembali digunakan untuk korupsi.
Macron pun berusaha menenangkan dan merenspons. "Tidak, saya ingin menyerahkannya kepada kalian, melalui LSM, di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tapi kita perlu mengubah sistem politik," ujarnya seperti dilansir ABC News.
Sebelumnya, di pusat Kota Beirut terjadi demonstrasi massa anti-pemerintah. Aksi itu sempat mengkhwatirkan pihak keamanan karena para demonstran mulai membakar dan merusak fasilitas publik. Kepolisian kota terpaksa membubarkannya dengan menembakan gas air mata. (Van/AlJazeera/ABCNews/OL-10)
AMERIKA Serikat menetapkan organisasi Ikhwanul Muslimin di Mesir, Libanon, dan Yordania sebagai kelompok teroris. Maklum, organisasi itu sudah lama menjadi musuh Israel.
Militer Israel mengklaim serangannya menewaskan tiga anggota Hizbullah.
Presiden Libanon Joseph Aoun menegaskan komitmen pemerintah untuk mengutamakan perdamaian sekaligus menata ulang keamanan domestik.
Militer Israel kembali melancarkan serangan udara di Libanon selatan kurang dari sehari setelah pembicaraan langsung pertama.
Pertemuan yang berlangsung di markas UNIFIL menjadi babak baru dari mekanisme pemantauan gencatan senjata setahun terakhir di tengah perang Israel-Hizbullah.
PAUS Leo XIV menyerukan diakhiri perang antara Israel dan Hizbullah di Libanon, kemarin.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pada Rabu (21/1) bahwa beberapa wilayah di Eropa tidak lagi dapat dikenali. Benua itu disebutnya tidak menuju ke jalan yang benar.
PEMERINTAH Amerika Serikat meminta negara-negara Eropa tidak bereaksi emosional terhadap rencana Presiden Donald Trump terkait Greenland.
Macron dan Uni Eropa bersatu di Davos melawan ambisi Trump atas Greenland. Ketegangan meningkat seiring ancaman tarif dan retorika keras yang mengancam NATO.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mencuri perhatian di World Economic Forum Davos dengan kacamata hitam Louis Vuitton. Ada apa?
Presiden Prancis Emmanuel Macron dan jajaran pemimpin Eropa mengecam keras ambisi Donald Trump menguasai Greenland.
Presiden AS Donald Trump menegaskan ambisinya mengakuisisi Greenland untuk keamanan nasional dan global, meski ditentang warga lokal dan pemimpin Eropa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved