Jumat 10 Mei 2019, 07:40 WIB

Eksekutif Huawei Lawan Ekstradisi ke AS

mediaindonesia | Internasional
Eksekutif Huawei Lawan Ekstradisi ke AS

AFP
Benjamin Howes, Wakil Presiden Hubungan Media Huawei Technologies, berbicara kepada media di Pengadilan Hukum British Columbia

 

 EKSEKUTIF telekomunikasi Tiongkok yang ditangkap di Kanada atas perintah AS yang memicu pertikaian diplomatik yang pahit, pada Rabu (8/5), bersumpah untuk melawan dengan gigih proses ekstradisinya ke AS.

Eksekutif tersebut, Meng Wanzhou, 47, menghadapi dakwaan terkait dengan pelanggaran sanksi Iran. Dia muncul di pengadilan Vancouver untuk mengatur jadwal sidang ekstradisi yang akan datang.

"Kasus kriminal terhadap Miss Meng didasarkan pada tuduhan yang tidak benar," kata juru bicaranya, Benjamin Howes, di luar pengadilan kepada wartawan. Howes akan mengajukan permohonan penundaan persidangan.

Dia menuduh bahwa faktor-faktor politik berada di belakang penangkapannya dan mengatakan hak-haknya telah dilanggar.

Kehadiran Meng awalnya dijadwalkan singkat, tetapi pembela menghabiskan beberapa jam mengulangi keberatan mereka terhadap penangkapan Desember di Vancouver. Sementara itu, jaksa mengindikasikan bahwa mereka ingin mempercepat kasus ini.

Tawar-menawar atas pengungkapan bukti dengan pembelaan setebal 1.742 halaman dokumen yang dirilis sejauh ini berisiko keluar dari proses.

Tanggal pengadilan berikutnya dijadwalkan pada 23 September. Sementara itu, sidang ekstradisi resmi diharapkan akan dimulai pada Januari dan prosesnya bisa bertahun-tahun.

Hubungan antara Ottawa dan Beijing berada dalam krisis akibat penangkapan Meng, kepala keuangan raksasa telekomunikasi Huawei yang juga pewaris perusahaan ayahnya itu.

Washington ingin mengadili Meng atas tuduhan penipuan karena diduga melanggar sanksi Iran dan berbohong tentang hal itu kepada bank-bank AS. Akan tetapi, kasus itu telah menjadi gangguan besar bagi Ottawa.

Setelah penangkapannya, Tiongkok menahan mantan diplomat Kanada, Michael Kovrig, dan pengusaha Michael Spavor yang bisa dilihat sebagai pembalasan.

Dua warga Kanada lainnya dihukum karena perdagangan narkoba, dijatuhi hukuman mati, dan Beijing memblokir pengiriman kanola dan babi Kanada. Selain itu, Kanada juga menyebut hukuman mati bagi warga Kanada, Fen Wei dan Robert Schellenberg, sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan. (AFP/Yan/I-1)

Baca Juga

AFP/Jade Gao

Beijing dan Shanghai Laporkan Nol Kasus Lokal Covid-19 Pertama

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 28 Juni 2022, 23:25 WIB
Beijing juga bisa membuka kembali beberapa tempat rekreasi, termasuk Universal Beijing...
AFP

Kerusuhan Di Penjara Kolombia Tewaskan Puluhan Narapidana

👤Widhoroso 🕔Selasa 28 Juni 2022, 21:02 WIB
SEDIKITNYA 49 narapidana tewas dalam kerusuhan yang terjadi di sebuah penjara di Kota Tulua, Kolombia barat...
John MACDOUGALL / POOL / AFP

G7 Minta Tiongkok Berani Tekan Rusia untuk Akhiri Perang

👤Mediaindonesia 🕔Selasa 28 Juni 2022, 20:57 WIB
G7 mendesak Tiongkok untuk menegakkan prinsip penyelesaian perselisihan secara damai dengan menekan Rusia untuk menghentikan invasi ke...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya