Headline

Presiden mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan gugurnya para prajurit TNI.

Pasien TB Wajib Disiplin Minum Obat, Waspada Risiko Kuman Resisten

Basuki Eka Purnama
06/4/2026 07:54
Pasien TB Wajib Disiplin Minum Obat, Waspada Risiko Kuman Resisten
Ilustrasi(Freepik)

KEDISIPLINAN dalam menjalani pengobatan menjadi kunci utama kesembuhan bagi pasien Tuberkulosis (TB). Dokter Spesialis Paru dari Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Sulianti Saroso, dr. Titi Sundari, Sp.P(K) FISR, menekankan pentingnya konsistensi mengonsumsi obat setiap hari tanpa terputus.

Menurut Titi, karakteristik kuman penyebab TB cukup unik karena tidak semuanya aktif secara bersamaan. Ada kuman yang aktif berkembang biak (multiplikasi), namun ada pula yang berada dalam kondisi tidur atau dorman.

"Sehingga pengobatannya membutuhkan waktu yang lama untuk membunuh kuman tersebut. Pengobatan harus teratur, diminum setiap hari," ujar Titi, dikutip Senin (6/4).

Risiko Putus Obat dan Ancaman Resistensi

Secara umum, pengobatan TB standar memerlukan waktu minimal enam bulan. Jika pasien lalai atau sengaja menghentikan konsumsi obat sebelum waktunya, risiko terbesar yang dihadapi adalah kuman TBC menjadi kebal atau resisten terhadap obat-obatan yang ada.

Kondisi resistensi ini jauh lebih berbahaya karena memerlukan durasi pengobatan yang berkali-kali lipat lebih lama dan dosis obat yang lebih kompleks. Berikut adalah rincian durasi pengobatan TB berdasarkan kategorinya:

Kategori Pasien Estimasi Durasi Pengobatan Keterangan
TB Standar (Sensitif Obat) 6 Bulan Metode standar yang umum digunakan saat ini.
TB Resisten (Jangka Pendek) Sekitar 9 Bulan Untuk pasien yang sudah mengalami kekebalan kuman.
TB Resisten (Jangka Panjang) Hingga 20 Bulan Memerlukan pengawasan ketat dan dosis lebih banyak.
Metode Baru (Penelitian) 4 Bulan Masih dalam proses penelitian lebih lanjut.

Mengenal Dua Fase Pengobatan

Dalam proses penyembuhan, Titi menjelaskan bahwa pasien akan melewati dua fase krusial:

  1. Fase Awal: Bertujuan untuk membunuh kuman secara cepat dan mencegah terjadinya mutasi kuman yang memicu kekebalan obat.
  2. Fase Lanjutan: Berfokus pada pembersihan sisa-sisa kuman (kuman persisten) guna mencegah kekambuhan di masa depan.

Pada fase awal, pasien dengan gejala berat atau kondisi resisten biasanya akan mendapatkan dosis obat yang lebih banyak. Sementara pada fase lanjutan, jumlah obat cenderung lebih sedikit, biasanya hanya terdiri dari dua macam obat saja.

Ia kembali mengingatkan bahwa ketidakteraturan minum obat hanya akan memicu kondisi kekebalan kuman yang merugikan pasien dalam jangka panjang.

"Itu harus diminum dengan teratur karena kalau tidak, akan memicu terjadinya kondisi kekebalan terhadap kuman tersebut," pungkasnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya