Headline

Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.

Bahan Baku Menipis, Produksi Kolang-Kaling di Purwakarta Terancam Menurun Selama Ramadan

Reza Sunarya
23/2/2026 11:14
Bahan Baku Menipis, Produksi Kolang-Kaling di Purwakarta Terancam Menurun Selama Ramadan
Kusnandar tetap roduksi buah kolang-kaling meski mulai sulit cari bahan baku.(MI/Reza Sunarya)

KOMODITAS kolang-kaling yang selalu menjadi primadona saat bulan suci Ramadan kini menghadapi tantangan serius. Di Desa Salem, Kecamatan Pondok Salam, Purwakarta, para perajin kolang-kaling mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan baku buah aren yang kian langka di pasaran.

Kusnandar, salah seorang perajin kolang-kaling di Kampung Babakan Ngantai, mengungkapkan bahwa kondisi ini berdampak langsung pada kapasitas produksinya. 

Jika pada tahun-tahun sebelumnya ia mampu memproduksi hingga 50 kg per hari, kini ia hanya mampu menghasilkan 15 hingga 20 kg saja.

"Sekarang jauh menurun produksinya. Tahun-tahun sebelumnya bisa mencapai 50 kg dalam sehari, sekarang susah, paling antara 15 hingga 20 kg," ujar Kusnandar.

Kelangkaan bahan baku ini dipicu oleh maraknya penebangan pohon aren. Banyak pohon aren yang tadinya dimanfaatkan untuk buahnya, kini ditebang untuk kebutuhan industri tepung sagu aren atau yang populer dengan sebutan "Aci Kawung" oleh masyarakat setempat. 

Selain itu, faktor usia buah saat panen juga menjadi kendala. Buah aren yang terlalu tua saat dipanen memiliki tekstur yang keras sehingga tidak layak untuk diolah menjadi kolang-kaling berkualitas.

"Sudah sulit untuk mendapat bahan baku buah aren untuk diolah jadi kolang-kaling, padahal permintaan kebutuhan di setiap Ramadan cukup banyak," ungkap Kusnandar.

Meski menghadapi kendala pasokan, proses produksi kolang-kaling tetap mengikuti tahapan tradisional yang memakan waktu cukup lama. 

Setelah buah aren dipisahkan dari tangkainya, buah tersebut harus direbus dalam air mendidih selama 3 hingga 5 jam. Proses ini bertujuan untuk menghilangkan getah sekaligus memudahkan pemisahan daging buah dari kulitnya.

Kusnandar menuturkan, ia memilih menggunakan alat bantu berupa kayu atau bambu yang dimodifikasi untuk menjepit buah, di mana satu buah aren biasanya menghasilkan 3 hingga 4 biji kolang-kaling. Tahapan akhir adalah perendaman dalam air selama 1 hingga 2 hari.

"Bukan untuk membersihkan saja, proses perendaman juga untuk menghasilkan ukuran kolang-kaling lebih besar," jelas Kusnandar.

Di tengah keterbatasan bahan baku dan proses pengolahan yang menuntut ketelitian, saat ini produk kolang-kaling siap konsumsi tersebut dijual dengan harga Rp20.000 per kilogram. 

Kondisi penurunan produksi ini menjadi potret tantangan bagi para perajin musiman di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang bulan suci Ramadan. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya