Headline
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Kumpulan Berita DPR RI
KOMODITAS kolang-kaling yang selalu menjadi primadona saat bulan suci Ramadan kini menghadapi tantangan serius. Di Desa Salem, Kecamatan Pondok Salam, Purwakarta, para perajin kolang-kaling mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan baku buah aren yang kian langka di pasaran.
Kusnandar, salah seorang perajin kolang-kaling di Kampung Babakan Ngantai, mengungkapkan bahwa kondisi ini berdampak langsung pada kapasitas produksinya.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya ia mampu memproduksi hingga 50 kg per hari, kini ia hanya mampu menghasilkan 15 hingga 20 kg saja.
"Sekarang jauh menurun produksinya. Tahun-tahun sebelumnya bisa mencapai 50 kg dalam sehari, sekarang susah, paling antara 15 hingga 20 kg," ujar Kusnandar.
Kelangkaan bahan baku ini dipicu oleh maraknya penebangan pohon aren. Banyak pohon aren yang tadinya dimanfaatkan untuk buahnya, kini ditebang untuk kebutuhan industri tepung sagu aren atau yang populer dengan sebutan "Aci Kawung" oleh masyarakat setempat.
Selain itu, faktor usia buah saat panen juga menjadi kendala. Buah aren yang terlalu tua saat dipanen memiliki tekstur yang keras sehingga tidak layak untuk diolah menjadi kolang-kaling berkualitas.
"Sudah sulit untuk mendapat bahan baku buah aren untuk diolah jadi kolang-kaling, padahal permintaan kebutuhan di setiap Ramadan cukup banyak," ungkap Kusnandar.
Meski menghadapi kendala pasokan, proses produksi kolang-kaling tetap mengikuti tahapan tradisional yang memakan waktu cukup lama.
Setelah buah aren dipisahkan dari tangkainya, buah tersebut harus direbus dalam air mendidih selama 3 hingga 5 jam. Proses ini bertujuan untuk menghilangkan getah sekaligus memudahkan pemisahan daging buah dari kulitnya.
Kusnandar menuturkan, ia memilih menggunakan alat bantu berupa kayu atau bambu yang dimodifikasi untuk menjepit buah, di mana satu buah aren biasanya menghasilkan 3 hingga 4 biji kolang-kaling. Tahapan akhir adalah perendaman dalam air selama 1 hingga 2 hari.
"Bukan untuk membersihkan saja, proses perendaman juga untuk menghasilkan ukuran kolang-kaling lebih besar," jelas Kusnandar.
Di tengah keterbatasan bahan baku dan proses pengolahan yang menuntut ketelitian, saat ini produk kolang-kaling siap konsumsi tersebut dijual dengan harga Rp20.000 per kilogram.
Kondisi penurunan produksi ini menjadi potret tantangan bagi para perajin musiman di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang bulan suci Ramadan. (Z-1)
Ratusan umat Konghucu memadati Vihara Budi Asih untuk melaksanakan ibadah sembahyang menyambut Tahun Baru Imlek 2577.
Program Perhutanan Sosial memberi akses legal kepada masyarakat untuk mengelola hutan, memanfaatkan hasilnya, dan menjaga kelestariannya.
Mereka berharap hidangan MBG yang diantarkan oleh Satuan-Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ke sekolah-sekolah dan posyandu itu bisa lebih beragam.
Bertani ikan di karamba jaring apung di perairan seperti di Waduk Cirata dan Waduk Jatiluhur memang tidak mudah. Petani ikan harus mempersiapkan modal sekitar Rp20 hingga 30 juta.
Pengurus DPC yang dilantik merupakan representasi dari desa dan kelurahan di kecamatan.
Saat berpuasa perut kosong lebih dari 8 jam, maka saat berbuka harus makan perlahan supaya perut tidak kaget.
Terdapat kecenderungan masyarakat memilih makanan dan minuman manis saat berbuka puasa sebagai upaya mengembalikan kadar gula darah yang menurun setelah berpuasa seharian.
Bagi masyarakat Maluku Utara, Lalampa bukan sekadar makanan, melainkan tradisi yang tak terpisahkan dari momen kebersamaan.
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menghadirkan Program Pesantren Jalan Cahaya pada Ramadan 1447 H di 20 titik se-Indonesia selama bulan suci.
Ini rekomendasi drama dan film Korea yang dapat ditonton untuk menunggu waktu berbuka.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved