Headline

Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.

Simulasi Al-Qur’an Bahasa Isyarat Indonesia Tarik Perhatian di Mesir

Abdillah M Marzuqi
03/2/2026 23:02
Simulasi Al-Qur’an Bahasa Isyarat Indonesia Tarik Perhatian di Mesir
Simulasi Al-Qur’an bahasa isyarat Indonesia(Dok.HO)

SIMULASI Al-Qur’an bahasa isyarat Indonesia menarik perhatian pengunjung Paviliun Indonesia pada ajang Cairo International Book Fair (CIBF) ke-57 di Kairo, Mesir. Inovasi ini menjadi yang pertama di dunia karena mengisyaratkan lafaz dan huruf Al-Qur’an dengan tetap memperhatikan harakat dan kaidah tajwid.

Pentashih Mushaf Al-Qur’an Isyarat, Ditjen Bimas Islam, Kementerian Agama, Hilma Rosyida Ulya, mengatakan, praktik ini berbeda dari metode yang selama ini berkembang, yang umumnya hanya mengisyaratkan makna kandungan ayat.

“Ini pertama di dunia Al-Qur’an diisyaratkan pada level lafaz dan huruf, dengan tetap memperhatikan harakat dan tajwidnya. Tujuannya agar Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu Wicara (PDSRW) dapat membaca Al-Qur’an secara tartil,” ujar Hilma di Kairo, Selasa (3/2).

Hilma menjelaskan, Mushaf Al-Qur’an Isyarat Indonesia mulai dikembangkan sejak 2018. Pengembangannya berangkat dari gagasan inisiator, Ida Zulfiya Choiruddin dari Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kemenag, yang kemudian berkoordinasi dengan Majelis Ta’lim Tuli Indonesia (MTTI) dan Dewan Pimpinan Pusat Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (DPP PPDI).

Mushaf Al-Qur’an Isyarat Indonesia naik cetak pada 2024 dan rampung pada 2025 dengan total produksi 2.000 set Al-Qur’an Isyarat Indonesia 30 juz yang terbagi dalam dua jilid. Selain dalam bentuk cetak, mushaf ini juga tersedia dalam aplikasi Qur’an Kemenag.

Sebelum dipamerkan di Mesir, Mushaf Al-Qur’an Isyarat Indonesia telah diperkenalkan di Malaysia pada 2025 dan mendapatkan respons positif. Di dalam negeri, kehadiran mushaf ini disambut baik oleh komunitas Teman Tuli karena memberikan media baru untuk melafalkan ayat Al-Qur’an secara utuh.

Konsep dasar isyarat

Dalam simulasi yang didemonstrasikan langsung di Paviliun Indonesia, pengunjung diperkenalkan pada konsep dasar isyarat huruf, harakat, dan tajwid, kemudian dilanjutkan dengan praktik menggunakan lafadz basmallah.

“Simulasi ini bertujuan untuk memperkenalkan Al-Qur’an Isyarat, khususnya bagi PDSRW di Mesir, sekaligus bagi pengunjung dengar yang datang ke Paviliun Indonesia,” kata Hilma.

Menurutnya, kehadiran Al-Qur’an Bahasa Isyarat diperlukan karena selama ini teman tuli umumnya hanya mendapatkan akses pengisyaratan makna ayat, bukan pada pelafalan huruf dan tajwidnya. Dengan mushaf ini, PDSRW memiliki media untuk membaca Al-Qur’an secara lebih lengkap dan sesuai kaidah.

Saat ini, Hilma menambahkan, UPQ Kementerian Agama baru memiliki satu ahli Al-Qur’an Isyarat yang secara khusus menangani pengembangan dan pendampingan mushaf tersebut.

Respons pengunjung terhadap simulasi Al-Qur’an Isyarat di Mesir terbilang positif. Sejumlah doktor dan ahli bahasa isyarat dari Mesir tertarik berdiskusi lebih lanjut dan telah terhubung langsung dengan Ida Zulfiya Choiruddin sebagai inisiator.

“Teman Tuli di Mesir merasa senang mengetahui adanya perhatian berupa media yang memungkinkan mereka membaca Al-Qur’an dengan tartil,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Ditjen Bimas Islam, Lubenah, menyebut,  mushaf Al-Qur’an dengan bahasa isyarat merupakan salah satu fitur paling ikonik di paviliun Indonesia. Fitur ini memungkinkan pengunjung dari berbagai negara menyaksikan langsung demonstrasi penggunaan Al-Qur’an bagi komunitas tuli.

“Banyak pengunjung yang tertarik mempelajari Al-Qur’an bahasa isyarat. Ini menjadi bukti bahwa Islam Indonesia memiliki kepedulian kuat terhadap inklusivitas,” katanya. (M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya