Headline

Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.

Masalah Finansial Disebut Bisa Picu Serangan Jantung, Ini Penjelasan Pakar

Abi Rama
03/2/2026 10:43
Masalah Finansial Disebut Bisa Picu Serangan Jantung, Ini Penjelasan Pakar
Ilustrasi(Freepik)

MASALAH finansial bukan hanya berdampak pada kondisi mental, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan jantung

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Mayo Clinic Proceedings menunjukkan bahwa stres akibat tekanan ekonomi dan ketidakamanan pangan berpotensi mempercepat penuaan jantung, bahkan setara atau lebih besar dibandingkan faktor risiko penyakit jantung yang selama ini dikenal.

Penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian utama di Amerika Serikat (AS). Temuan ini pun memunculkan perspektif baru bahwa risiko serangan jantung tidak hanya berasal dari faktor medis seperti tekanan darah tinggi atau diabetes, tetapi juga dari kondisi sosial dan ekonomi seseorang.

Melansir dari CNN Health, seorang dokter gawat darurat sekaligus dosen di George Washington University, AS, Dr. Leana Wen menjelaskan bagaimana stres keuangan dapat memengaruhi sistem kardiovaskular.

Stres Keuangan Bisa Buat Jantung Lebih Tua

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menganalisis data lebih dari 280 ribu orang dewasa yang menjalani pemeriksaan kesehatan jantung serta mengisi survei tentang kondisi sosial dan ekonomi mereka. 

Alih-alih hanya melihat apakah seseorang mengidap penyakit jantung, peneliti menggunakan konsep “usia kardiovaskular”.

Usia kardiovaskular menggambarkan seberapa tua kondisi biologis jantung dan pembuluh darah seseorang dibandingkan dengan usia sebenarnya. 

Hasilnya, individu dengan tingkat stres keuangan dan ketidakamanan pangan yang tinggi cenderung memiliki jantung yang “lebih tua” secara biologis.

“Dua orang dengan usia dan faktor risiko medis yang sama bisa memiliki kondisi jantung yang berbeda, tergantung pada seberapa besar tekanan finansial yang mereka alami,” jelas Wen dikutip dari laman yang sama.

Mengapa Stres Bisa Merusak Jantung?

Menurut Wen, stres kronis memicu pelepasan hormon seperti kortisol dan adrenalin yang memengaruhi tekanan darah, denyut jantung, peradangan, hingga metabolisme tubuh. Jika kondisi ini berlangsung lama, jantung dan pembuluh darah akan mengalami keausan, mirip dengan proses penuaan alami.

Stres keuangan dinilai lebih berbahaya dibandingkan stres jangka pendek karena sifatnya yang menetap. Kekhawatiran soal tagihan, biaya kesehatan, utang, hingga kebutuhan keluarga sering kali sulit dihindari dan terus menghantui kehidupan sehari-hari.

Kondisi ini juga dapat mengganggu pola tidur, membatasi akses terhadap makanan sehat dan layanan kesehatan, serta mengurangi kesempatan untuk berolahraga. Kombinasi faktor tersebut secara perlahan meningkatkan risiko penyakit jantung.

Setara Faktor Risiko Medis

Hal yang paling mencolok dari studi ini, kata Wen, adalah besarnya dampak stres keuangan yang sebanding dengan faktor risiko klinis seperti hipertensi, diabetes, dan kebiasaan merokok.

“Stres finansial bukan pengganti faktor risiko medis, tetapi menambah dan memperberatnya,” ujarnya. 

Artinya, seseorang dengan tekanan darah tinggi yang juga berada di bawah tekanan ekonomi berat berpotensi menghadapi risiko serangan jantung yang lebih besar.

Meski demikian, Wen menegaskan bahwa stres keuangan bukan berarti vonis pasti bagi kesehatan jantung. Risiko penyakit jantung dipengaruhi oleh banyak faktor, dan masih ada langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk menurunkannya.

Menjaga aktivitas fisik, menerapkan pola makan sehat, tidak merokok, menjaga berat badan ideal, serta mengontrol tekanan darah, kolesterol, dan gula darah tetap menjadi fondasi utama kesehatan jantung. Pemeriksaan kesehatan rutin juga penting karena banyak penyakit jantung berkembang tanpa gejala awal.

Selain itu, pengelolaan stres melalui tidur yang cukup, menjaga hubungan sosial, serta latihan relaksasi atau mindfulness dapat membantu meredam dampak stres kronis terhadap jantung. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya