Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Menuju 2026: Strategi Finansial Sehat untuk Amankan Resolusi Tahun Baru

Basuki Eka Purnama
19/12/2025 08:50
Menuju 2026: Strategi Finansial Sehat untuk Amankan Resolusi Tahun Baru
Ilustrasi(Freepik)

PERGANTIAN tahun selalu menjadi momentum yang tepat bagi masyarakat untuk memulai kebiasaan baru, terutama dalam meninjau kembali perencanaan keuangan

Menyambut 2026, Faculty Head Sequis Quality Empowerment Sequis Life, Yan Ardhianto Handoyo, menekankan pentingnya memasukkan strategi finansial ke dalam daftar resolusi tahun baru.

Menurut Yan, perencanaan yang matang merupakan kunci untuk menyeimbangkan antara kebutuhan saat ini dan impian di masa depan. 

"Membuat perencanaan keuangan akan membantu Anda menyiapkan dana untuk memenuhi kebutuhan saat ini dan menentukan tujuan masa depan beserta strategi pendanaannya," jelas Yan.

Agar resolusi keuangan tidak sekadar menjadi wacana, Yan menyarankan lima tahapan terstruktur untuk mewujudkan finansial yang sehat:

1. Evaluasi Menyeluruh dan Identifikasi 'Latte Factor'

Langkah pertama dimulai dengan mencatat seluruh pemasukan dan pengeluaran secara detail. 

Yan mengingatkan untuk tidak mengabaikan pengeluaran kecil namun rutin, seperti kopi kekinian. Meskipun nilainya tampak kecil, jika dilakukan setiap hari, akumulasinya bisa menjadi signifikan dan memengaruhi posisi keuangan. 

Selain itu, evaluasi kembali aset dan liabilitas (utang) Anda untuk melihat apakah instrumen investasi yang dimiliki masih relevan dengan tujuan jangka panjang.

2. Penetapan Tujuan yang Terukur

Perencanaan keuangan akan lebih efektif jika memiliki target yang spesifik. Sebagai contoh, menetapkan angka Rp100 juta untuk biaya pernikahan atau Rp10 juta untuk dana masuk sekolah anak. 

Tujuan yang jelas membantu seseorang dalam mengukur kemampuan finansial dan menentukan skala prioritas jika memiliki lebih dari satu keinginan.

3. Disiplin dalam Anggaran (Metode 50/30/20)

Penyusunan anggaran memerlukan konsistensi agar pengeluaran tetap terkendali. Yan menyarankan penggunaan metode sederhana 50/30/20, yaitu mengalokasikan 50% untuk kebutuhan pokok, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan, investasi, serta dana darurat. 

Dalam tahap ini, masyarakat juga diingatkan untuk menghindari utang konsumtif dan memastikan total cicilan produktif tidak melebihi 30% dari penghasilan.

4. Pengembangan Aset Berbasis Risiko

Mengingat adanya faktor inflasi, mengandalkan pendapatan saja tentu tidak cukup. Aset perlu dikembangkan melalui instrumen investasi yang tepat sesuai dengan profil risiko masing-masing. 

Untuk tujuan jangka pendek dan profil konservatif, instrumen seperti deposito atau obligasi negara dapat menjadi pilihan. 

Namun, untuk tujuan jangka panjang dengan profil agresif, saham atau reksadana saham lebih dipertimbangkan karena potensi pertumbuhan yang lebih tinggi.

5. Proteksi sebagai Jaring Pengaman

Risiko finansial yang tidak terduga selalu ada di setiap tahapan kehidupan. Oleh karena itu, asuransi menjadi elemen krusial untuk melindungi rencana keuangan dari gangguan risiko kesehatan atau musibah. 

Yan menyarankan untuk mengalokasikan minimal 10% dari penghasilan untuk proteksi, terutama bagi mereka yang memiliki rencana besar seperti menikah atau membeli rumah di tahun mendatang.

Dengan perencanaan yang terstruktur, resolusi tahun baru bukan lagi sekadar tradisi, melainkan langkah nyata menuju kemandirian finansial yang berkelanjutan. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik