Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
GEN Z dikenal sebagai generasi yang melek teknologi, adaptif, dan cepat belajar. Namun, dalam hal manajemen keuangan, mereka masih menghadapi tantangan klasik: gaji yang sekadar "numpang lewat" dan tabungan yang sulit bertumbuh.
Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada Desember 2025 mencatat bahwa proporsi pendapatan yang disimpan (saving to income ratio) hanya sebesar 14,9%. Angka ini kontras dengan porsi konsumsi yang mendominasi hingga 74,3%.
Kemudahan transaksi digital, mulai dari one-click checkout hingga godaan promo di notifikasi ponsel, menjadi pemicu utama tingginya perilaku konsumtif.
Akibatnya, resolusi keuangan yang dicanangkan di awal tahun sering kali kandas di tengah jalan. Data dari Forbes Health bahkan menunjukkan rata-rata resolusi hanya bertahan sekitar 3,7 bulan.
Agar resolusi keuangan di 2026 tidak sekadar menjadi wacana, penting untuk mengenali tujuh kesalahan umum beserta solusi realistisnya:
1. Target yang Terlalu Ambisius
Sering kali kita ingin mencapai semuanya sekaligus: menabung, investasi, liburan, hingga upgrade gadget. Solusinya, fokuslah pada 1–3 prioritas saja. Sebagai langkah awal, cukup prioritaskan dana darurat dan pengendalian belanja.
2. Resolusi Tanpa Angka Konkret
Niat "lebih hemat" sulit diukur. Ubahlah menjadi target spesifik, misalnya menyisihkan Rp300.000 hingga Rp500.000 atau 10 persen dari penghasilan setiap bulan agar progresnya dapat dilacak secara nyata.
3. Menabung dari Sisa Gaji
Menunggu akhir bulan untuk menabung adalah kesalahan klasik. Solusinya, sisihkan uang tepat saat gaji diterima melalui fitur auto-transfer agar tabungan berjalan lebih disiplin.
4. Mencampur Semua Dana di Satu Rekening
Mencampur uang jajan dengan tabungan menciptakan ilusi bahwa saldo masih aman. Gunakan rekening terpisah sesuai fungsinya. Fitur seperti Celengan dari Amar Bank dapat membantu memisahkan tabungan berdasarkan tujuan, lengkap dengan pengingat dan auto-debit.
5. Menganggap Pendapatan Ekstra sebagai "Uang Gratis"
Bonus atau hasil side hustle sering kali langsung habis untuk belanja impulsif. Padahal, ini adalah kesempatan mempercepat target finansial. Memasukkan dana ekstra ke instrumen seperti deposito dapat "mengunci" uang tersebut agar tidak terpakai sekaligus mendapatkan bunga yang kompetitif.
6. Mengabaikan Dana Darurat
Rencana keuangan bisa hancur seketika saat terjadi keadaan darurat, seperti sakit atau kerusakan alat kerja. Gunakan bantuan fitur seperti Saving Insight untuk menghitung kebutuhan dana darurat ideal berdasarkan pola pemasukan dan pengeluaran Anda.
7. Menunda Investasi
Banyak yang menunggu mapan untuk mulai berinvestasi. Padahal, memulai dengan nominal kecil, seperti Rp300.000 per bulan, jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.
Kunci utama resolusi keuangan Gen Z bukanlah menjadi dewasa secara finansial dalam semalam, melainkan membangun sistem yang konsisten. Dengan memisahkan pos anggaran dan melakukan otomatisasi, stabilitas finansial bukan lagi sekadar impian. (Z-1)
Sentimen global masih cukup kondusif bagi penguatan harga emas dalam jangka pendek.
SCAM Kamboja bukan sekadar cerita kriminal lintas negara atau kisah tragis warga negara yang terjerat pekerjaan palsu di luar negeri.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan giro sebesar 19,13%, tabungan 8,19%, dan deposito 14,28%.
Memahami dinamika harga emas tidak hanya sekadar melihat grafik harian.
Perencanaan yang matang merupakan kunci untuk menyeimbangkan antara kebutuhan saat ini dan impian di masa depan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved