Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Surat Al-Muddatstsir: Asbabun Nuzul, Pesan Pokok, dan Keutamaan Membacanya

Wisnu Arto Subari
01/2/2026 15:37
Surat Al-Muddatstsir: Asbabun Nuzul, Pesan Pokok, dan Keutamaan Membacanya
Ilustrasi.(Freepik)

SURAT Al-Muddatstsir (Orang yang Berkemul) menempati posisi yang sangat krusial dalam sejarah kenabian Muhammad SAW. Jika Surat Al-Alaq adalah momen pelantikan beliau sebagai seorang Nabi (penerima wahyu untuk diri sendiri), Surat Al-Muddatstsir adalah mandat resmi pengangkatan beliau sebagai Rasul (utusan yang wajib menyampaikan peringatan kepada umat manusia).

Surat ke-74 dalam Al-Qur'an ini terdiri dari 56 ayat dan tergolong surat Makkiyah. Berikut ulasan mendalam mengenai latar belakang turunnya, intisari kandungan, hingga keutamaannya.

1. Asbabun Nuzul: Kisah Selimuti Aku

Latar belakang turunnya (Asbabun Nuzul) ayat-ayat awal surat ini diriwayatkan secara shahih oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Jabir bin Abdullah RA. Peristiwa ini terjadi setelah masa fatrah (kekosongan wahyu) yang sempat membuat Nabi gelisah setelah wahyu pertama di Gua Hira.

Baca juga : Mengenal Surat Al-Mufashal Pengertian, Pembagian, dan Daftar Lengkap

Kronologi Peristiwa:

  • Nabi Muhammad SAW sedang berjalan, tiba-tiba beliau mendengar suara dari langit.
  • Beliau menengadah dan melihat Malaikat Jibril (sosok yang sama yang beliau temui di Gua Hira) sedang duduk di atas kursi antara langit dan bumi.
  • Pemandangan agung sekaligus dahsyat ini membuat Nabi merasa ketakutan hingga gemetar hebat.
  • Beliau segera pulang menemui istrinya, Khadijah RA, dan berseru: "Zammiluni! Zammiluni!" (Selimuti aku! Selimuti aku!).
  • Saat beliau sedang berselimut untuk menenangkan diri itulah, Allah menurunkan ayat 1-5: "Wahai orang yang berkemul (berselimut)! Bangunlah, lalu berilah peringatan!"

Baca juga : Surat Al-Muzzammil Lengkap Asbabun Nuzul, Pesan Pokok, dan Keutamaannya

2. Pesan Pokok Kandungan Surat

Secara garis besar, Surat Al-Muddatstsir memuat instruksi manajerial dakwah dan peringatan eskatologis (hari akhir). Berikut rinciannya:

Kelompok Ayat Intisari Kandungan
Ayat 1-7 (Perintah Dakwah) Berisi SOP (Standar Operasional Prosedur) bagi seorang pendakwah:
  • Qum fa anzir: Bangun dari kenyamanan, berikan peringatan.
  • Agungkan Tuhanmu: Fokus dakwah adalah Tauhid.
  • Bersihkan Pakaianmu: Kebersihan fisik dan hati adalah syarat utama.
  • Tinggalkan Perbuatan Keji: Menjauhi dosa dan berhala.
  • Ikhlas: Jangan memberi dengan harapan mendapat balasan lebih banyak.
  • Sabar: Tahan banting menghadapi penolakan.
Ayat 8-10 (Hari Kiamat) Gambaran tentang Waktu yang Sulit bagi orang-orang kafir saat sangkakala ditiup.
Ayat 11-26 (Ancaman untuk Walid bin Mughirah) Ayat ini turun merespons tokoh Quraisy, Walid bin Mughirah. Ia mengakui keindahan Al-Qur'an di dalam hatinya. Namun karena kesombongan, ia menuduh Al-Qur'an sebagai sihir yang dipelajari. Allah membantah dan mengancamnya dengan Neraka Saqar.
Ayat 27-47 (Neraka Saqar) Deskripsi mengerikan tentang Neraka Saqar yang membakar kulit manusia tanpa membinasakannya (terus menerus). Disebutkan juga dialog antara penghuni surga dan neraka tentang penyebab masuk neraka (tidak shalat, tidak memberi makan orang miskin, membicarakan kebatilan, dan mendustakan hari pembalasan).

Baca juga: Urutan 30 Surat Juz Amma Lengkap Arab, Latin, dan Arti

3. Misteri Angka 19 dan Penjaga Neraka

Salah satu keunikan Surat Al-Muddatstsir adalah penyebutan spesifik jumlah malaikat penjaga neraka dalam ayat 30-31, "Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)."

Allah menjelaskan dalam ayat selanjutnya bahwa penyebutan angka 19 ini merupakan ujian keimanan:

  • Bagi orang kafir, mereka mengejek, "Mengapa hanya 19? Kita bisa mengalahkan mereka."
  • Bagi orang beriman, ini menambah keyakinan bahwa itu adalah ketetapan Allah yang pasti memiliki hikmah, meskipun tidak masuk logika manusia biasa.

Baca juga: Surat Al-Kahfi Asbabun Nuzul, 4 Pesan Pokok, dan Keutamaan Membacanya

4. Keutamaan Membaca dan Mengamalkannya

Keutamaan surat ini tidak hanya terletak pada pahala membacanya, tetapi pada transformasi karakter yang ditawarkannya:

  1. Pembangun Mentalitas Pejuang: Surat ini mengajarkan kita untuk tidak 'tidur' dalam zona nyaman. Seorang Muslim harus peduli pada kondisi lingkungan dan berani melakukan Amar Ma'ruf Nahi Munkar.
  2. Pedoman Kebersihan (Thaharah): Perintah Dan pakaianmu bersihkanlah menjadi dalil bahwa Islam sangat menjunjung tinggi kebersihan fisik dan penampilan sebagai cerminan kebersihan hati.
  3. Pengingat Dahsyatnya Neraka: Membaca deskripsi Neraka Saqar dalam surat ini menjadi rem bagi hawa nafsu dan motivasi untuk memperbaiki kualitas ibadah (shalat dan sedekah).
  4. Termasuk Al-Mufashal: Ini diberikan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai tambahan, sehingga beliau memiliki keutamaan dibandingkan dengan nabi-nabi pendahulunya.

  5. Tidak akan mengalami kemalangan selama hidupnya.

    Abi Ja’far Muhammad bin Ali Al-Baqir berkata, "Barangsiapa yang membaca Surat Al-Muddatstsir di dalam salat fardu, Allah berhak menjadikannya bersama Nabi Muhammad SAW dalam derajatnya dan ia tidak akan menemui kemalangan dalam hidup di dunia selamanya. Insya Allah." (Tsawabul A’mal, halaman 150).

  6. Peroleh pahala besar.

    Nabi Muhammad SAW bersabda, "Barangsiapa yang membaca surat ini (Surat Al-Muddatstsir), ia akan diberi pahala 10 kali lipat dari jumlah orang yang percaya kepadaku dan sejumlah orang-orang yang mendustakanku." (Tafsirul Burhan, Juz 8, halaman 152).

  7. Wasilah dalam menghafal Al-Qur’an.

    Rasulullah SAW pernah bersabda, "Barangsiapa yang membacanya secara istikamah, ia akan memperoleh pahala yang agung dan barangsiapa yang meminta kepada Allah agar dapat menghafal seluruh surat dalam Al-Qur’an, ia tidak akan meninggal hingga dapat menghafalnya.” (Tafsirul Burhan, Juz 8, halaman 152)

Baca juga: Surat Al-Jin Asbabun Nuzul, Rahasia Alam Ghaib, dan Pesan Pokoknya

Kesimpulan

Surat Al-Muddatstsir adalah seruan abadi bagi setiap jiwa yang 'tertidur'. Ia mengingatkan bahwa tugas manusia bukan hanya untuk menyelimuti diri sendiri dengan kenyamanan, melainkan bangun, bergerak, dan memberikan kontribusi perbaikan bagi umat manusia, sembari menjaga kesucian diri dan mengagungkan Allah SWT.

PENAFIAN

Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya