Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Banyak Dipakai untuk Curhat, Chatbot AI Ternyata Punya Potensi Bikin Depresi

Abi Rama
23/1/2026 11:28
Banyak Dipakai untuk Curhat, Chatbot AI Ternyata Punya Potensi Bikin Depresi
Ilustrasi(Freepik)

PENGGUNAAN chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT, Microsoft Copilot, Google Gemini, Claude, hingga DeepSeek dikaitkan dengan meningkatnya risiko gangguan kesehatan mental, terutama depresi.

Sebuah studi yang dipublikasikan di JAMA Network Open serta dilansir dari laman U.S. News & World Report mengungkap bahwa individu yang menggunakan chatbot AI setiap hari memiliki risiko sekitar 30% lebih tinggi mengalami depresi tingkat sedang atau lebih berat.

“Kami menemukan bahwa penggunaan AI harian cukup umum dan memiliki hubungan yang signifikan dengan depresi serta gejala emosional negatif lainnya,” ujar psikiater Dr. Roy Perlis, Direktur Center for Quantitative Health di Massachusetts General Hospital, Boston, AS.

Selain depresi, penggunaan AI secara intens juga dikaitkan dengan kecemasan dan iritabilitas.

Usia Paruh Baya Lebih Rentan

Penelitian ini juga menemukan bahwa faktor usia turut memengaruhi tingkat risiko. Kelompok usia paruh baya tercatat sebagai kelompok yang paling rentan.

Pengguna AI berusia 45 hingga 64 tahun memiliki risiko depresi hingga 54% lebih tinggi. Sementara itu, kelompok usia 25 hingga 44 tahun menunjukkan peningkatan risiko sebesar 32%.

Dalam studi tersebut, para peneliti menyurvei kurang lebih 20 ribu orang dewasa di Amerika Serikat (AS) pada April hingga Mei 2025. Responden diminta mengisi kuesioner kesehatan mental standar serta melaporkan frekuensi penggunaan AI.

Sekitar 10% responden mengaku menggunakan AI generatif setiap hari, termasuk lebih dari 5% yang mengaksesnya beberapa kali dalam sehari. Namun, para peneliti menegaskan bahwa studi ini belum dapat memastikan hubungan sebab-akibat secara langsung.

Perlis menyebutkan bahwa masih sulit menentukan apakah penggunaan AI memicu depresi atau justru individu yang mengalami depresi lebih sering menggunakan chatbot.

Pandangan serupa disampaikan oleh asisten profesor psikiatri di Feinstein Institutes for Medical Research, Northwell Health, New York, Dr. Sunny Tang.

“Orang yang sudah mengalami gejala gangguan mental mungkin lebih cenderung menggunakan AI generatif untuk mencari bantuan, mengurangi rasa kesepian, atau mendapatkan validasi emosional,” ujar Tang.

Jadi, masih belum jelas apakah berinteraksi dengan chatbot AI dapat membuat orang depresi, atau seseorang yang mengalami depresi lebih sering menggunakan chatbot AI. Penelitian ini masih belum menjawab celah tersebut. 

Kesepian Jadi Faktor Penting

Tang menilai bahwa kesepian bisa menjadi faktor kunci dalam hubungan antara penggunaan AI dan kesehatan mental.

“Banyak orang saat ini merasa semakin terisolasi, entah karena bekerja dari jarak jauh atau alasan lainnya. Kita tahu bahwa kesepian merupakan prediktor yang sangat kuat terhadap gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan mudah marah,” ujar Tang.

Perlunya Pengaman dalam Sistem AI

Tang menambahkan bahwa AI perlu dilengkapi dengan “pengaman” atau batasan yang lebih kuat agar tidak memberikan saran yang justru memperburuk kondisi mental pengguna.

“Perusahaan perlu bertanya pada diri mereka sendiri, apakah ada cara membangun AI agar lebih suportif bagi orang dengan kebutuhan kesehatan mental,” kata Tang. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya