Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
SEORANG pria paruh baya mengalami pembesaran perut yang tidak wajar selama bertahun-tahun. Awalnya, ia mengira kondisi tersebut hanyalah akibat kenaikan berat badan atau obesitas biasa. Namun, hasil pemeriksaan medis justru mengungkap fakta mengejutkan, tumor raksasa seberat 32 kilogram bersarang di dalam rongga perutnya.
Kasus medis langka ini dilaporkan dalam American Journal of Case Reports dan menjadi sorotan dunia kedokteran internasional karena ukuran tumor yang ekstrem serta risiko fatal yang ditimbulkannya.
Pasien mulai menyadari ada yang tidak beres ketika perutnya terus membuncit secara ekstrem, sementara bagian tubuh lain tetap terlihat proporsional. Seiring waktu, ia mulai mengalami sesak napas, kesulitan berjalan, rasa begah berlebihan, serta tekanan berat di area perut.
Kondisi tersebut membuat aktivitas sehari-hari semakin terbatas dan menurunkan kualitas hidup secara signifikan.
Setelah menjalani CT scan di sebuah rumah sakit di Skopje, Makedonia Utara, tim medis menemukan massa padat yang kemudian didiagnosis sebagai Liposarcoma Retroperitoneal. Ini merupakan jenis kanker langka yang berkembang pada jaringan lemak di bagian belakang rongga perut.
Penumpukan jaringan besar yang menggantung tersebut secara medis dikenal sebagai pannus perut ekstrem. Tumor jenis ini dikenal tumbuh perlahan dan minim rasa sakit di fase awal, sehingga sering kali terlambat terdeteksi.
Tumor seberat 32 kilogram ini tercatat sebagai salah satu tumor terbesar yang pernah diangkat dalam dunia medis. Massa tersebut telah mendesak organ vital seperti ginjal, lambung, dan usus ke posisi abnormal, yang berpotensi menyebabkan gagal organ hingga kematian jika tidak segera ditangani.
Proses pengangkatan tumor dilakukan melalui operasi besar yang memakan waktu berjam-jam, melibatkan tim dokter bedah multidisiplin. Tantangan utama bukan hanya ukuran tumor, tetapi juga upaya memisahkan massa dari pembuluh darah besar serta saraf vital yang telah lama terhimpit.
Meski berisiko tinggi, operasi akhirnya berjalan sukses. Tumor raksasa tersebut berhasil diangkat secara utuh, dengan berat setara balita.
Mengutip informasi dari Halodoc, tumor merupakan benjolan yang terbentuk akibat pertumbuhan sel tubuh yang tidak normal dan berlebihan. Tumor dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu tumor jinak dan tumor ganas (kanker).
Pada kasus ini, tumor bersifat ganas dan agresif, sehingga dapat tumbuh hingga ukuran ekstrem dan menekan organ-organ vital seperti ginjal dan lambung.
Setelah melewati masa pemulihan, pasien dilaporkan kini dapat bernapas lebih lega dan kembali menjalani aktivitas sehari-hari tanpa beban berat yang sebelumnya mengancam nyawanya.
Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa deteksi dini tumor, baik jinak maupun ganas, sangat krusial untuk mencegah komplikasi fatal. (American Journal of Case Reports/Z-10)
Satu dari tiga pasien mampu mencapai penurunan berat badan lebih dari 20%, sebuah angka yang selama ini identik dengan hasil terapi suntikan mingguan.
Riset terbaru University of Bristol mengungkap makanan tanpa proses (unprocessed) membantu tubuh mengatur porsi makan secara alami dan mencegah obesitas.
Program ini dirancang sebagai layanan berbasis medis yang aman. Melalui skrining ketat, penentuan dosis personal, hingga pendampingan ahli gizi.
Data kesehatan terbaru menunjukkan 1 dari 4 orang dewasa di Indonesia hidup dengan kondisi obesitas atau kelebihan lemak perut.
Studi terbaru mengungkap tingkat obesitas di AS melonjak drastis hingga 70% setelah standar pengukuran baru yang menggabungkan BMI dengan lingkar pinggang diterapkan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved