Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Perempuan dan Anak paling Menderita saat Bencana

Wisnu Arto Subari
23/12/2025 20:21
Perempuan dan Anak paling Menderita saat Bencana
(Dokpri)

BENCANA alam merupakan bagian dari geografi Indonesia. Akan tetapi, bagaimana kita meresponsnya merupakan bagian dari karakter bangsa. Ketika banjir dan longsor melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, yang menjadi sorotan bukan hanya infrastruktur yang runtuh atau jalan yang putus. 

"Lebih dari itu, bencana membuka luka sosial yang lebih dalam, ketika perempuan dan anak-anak sekali lagi menjadi kelompok yang paling menderita dan paling tidak diprioritaskan," ujar Ummu Salamah, dosen Fakultas Hukum Universitas Nasional dan peneliti masalah perempuan dan anak. Menurutnya, gagasan bahwa bencana menimpa semua orang secara setara ialah mitos yang menyesatkan. 

Data dan pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa perempuan dan anak-anak menghadapi dampak berlapis.  Di antara dampaknya yaitu mereka lebih rentan kehilangan akses terhadap air bersih, makanan bergizi, dan sanitasi. Pengungsian yang padat dan tidak terpisah meningkatkan risiko kekerasan seksual dan eksploitasi. 

Untuk itu, ia mengatakan dibutuhkan transformasi pendekatan, bukan hanya tambahan anggaran. Beberapa langkah strategis yang harus segera dilakukan, yaitu audit dan reformasi sistem manajemen bencana berbasis gender dan inklusivitas, wajibnya keterlibatan Kementerian PPPA dalam gugus tugas tanggap darurat, pelibatan organisasi perempuan dan komunitas lokal dalam desain dan eksekusi tanggap bencana, pembangunan shelter pengungsian berbasis kebutuhan keluarga dan ruang aman bagi korban kekerasan, dan pengembangan kurikulum kesiapsiagaan bencana untuk anak-anak dan sekolah.

Menurut dia, ukuran sejati dari keberhasilan penanganan bencana bukan pada banyak logistik yang dikirim, tetapi siapa yang merasa aman dan terlindungi. "Bila perempuan dan anak-anak tetap menjadi yang paling menderita setiap kali bencana datang, kita sedang gagal, bukan hanya sebagai negara, tetapi sebagai komunitas manusia." (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya