Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
MARS tidak hanya berbeda dengan Bumi dari segi warna dan jaraknya saja, tetapi juga dari cara waktunya berjalan. Mengutip dari laman Science Alert, para ilmuwan menemukan bahwa jam di Mars berjalan sedikit lebih cepat dibandingkan jam di Bumi. Dalam satu hari, selisihnya mencapai rata-rata 477 mikrodetik.
Perbedaan ini memang sangat kecil dan tidak akan dirasakan manusia secara langsung. Namun, dalam aktivitas antariksa, selisih waktu sekecil ini dapat memengaruhi berbagai sistem penting, mulai dari komunikasi hingga navigasi wahana.
Salah satu penyebab utama perbedaan waktu antara Mars dan Bumi adalah gaya gravitasi. Bumi memiliki massa yang lebih besar sehingga gravitasinya lebih kuat. Sementara itu, Mars memiliki gravitasi yang lebih lemah. Akibatnya, waktu di Mars berjalan sedikit lebih cepat.
Fenomena ini sudah lama dipahami oleh para ilmuwan dan juga terjadi pada teknologi yang sudah digunakan manusia saat ini. Sebagai contoh, jam di satelit navigasi yang mengorbit Bumi harus disesuaikan karena waktunya berjalan lebih cepat dibandingkan jam di permukaan Bumi.
Perbedaan waktu di Mars tidak bersifat konstan. Orbit Mars mengelilingi Matahari berbentuk lebih lonjong dibandingkan orbit Bumi. Kondisi ini menyebabkan gaya tarik Matahari terhadap Mars selalu berbeda sepanjang tahun.
Akibatnya, selisih waktu antara Mars dan Bumi bisa bertambah atau berkurang hingga sekitar 266 mikrodetik per hari selama satu tahun Mars. Artinya, sistem waktu di Mars tidak bisa disamakan begitu saja dengan jam di Bumi, karena perlu penyesuaian yang terus-menerus.
Selain selisih laju waktu, Mars juga memiliki durasi hari dan tahun yang berbeda dari Bumi. Satu hari di Mars berlangsung sekitar 40 menit lebih lama dibandingkan satu hari di Bumi.
Sementara itu, satu tahun di Mars jauh lebih panjang. Planet ini membutuhkan sekitar 687 hari untuk menyelesaikan satu putaran mengelilingi Matahari. Perbedaan durasi ini semakin menambah kompleksitas dalam menyusun jadwal misi, komunikasi, dan aktivitas manusia di Mars.
Dalam eksplorasi antariksa, ketepatan waktu menjadi faktor yang sangat krusial. Kesalahan waktu sekecil apa pun dapat menyebabkan kesalahan posisi, gangguan komunikasi, atau kegagalan navigasi.
Jika manusia suatu saat mendarat di Mars, kendaraan penjelajah, sistem komunikasi, hingga penentuan lokasi harus bekerja dengan sinkron. Tanpa sistem waktu yang akurat dan disesuaikan dengan kondisi Mars, risiko kesalahan teknis akan meningkat.
Menyadari hal tersebut, para ilmuwan mulai merancang sistem penunjuk waktu yang dirancang khusus untuk Mars. Sistem ini bertujuan agar aktivitas di Mars dapat berjalan secara mandiri, tanpa harus selalu bergantung pada jam di Bumi. Menurut para ilmuan langkah inipenting sebagai fondasi bagi masa depan eksplorasi antariksa. Tidak hanya untuk Mars, sistem waktu semacam ini juga akan berguna bagi misi ke Bulan dan objek lain di Tata Surya. (Science Alert/Z-10)
Penelitian terbaru mengungkap meteorit Mars Black Beauty menyimpan air purba jauh lebih banyak, memperkuat bukti Mars pernah basah dan layak huni.
Mars berada pada jarak rata-rata sekitar 140 juta mil atau 225 juta kilometer dari Bumi. Jarak tersebut menyebabkan keterlambatan komunikasi, sehingga pengendalian rover secara langsung
NASA sukses menguji coba navigasi AI pada Rover Perseverance di Mars. Tanpa campur tangan manusia, AI kini mampu memetakan rute aman di medan ekstrem Planet Merah.
Menurut laporan ilmiah dan data dari pengamatan satelit, permukaan Mars terdiri dari campuran berbagai material mineral yang memantulkan cahaya dengan spektrum warna berbeda.
Dari analisis terbaru, para peneliti melaporkan penemuan sebuah kandidat planet berbatu yang ukurannya sedikit lebih besar dari Bumi dan mengorbit sebuah bintang mirip Matahari.
Sekitar 3 miliar tahun lalu, Mars diduga pernah memiliki samudra raksasa yang membentang di seluruh belahan utara planet tersebut.
Selain memengaruhi medan magnet, struktur panas bawah tanah ini mungkin berdampak pada tata letak benua-benua di planet in
Fenomena Bulan yang disebut perlahan menjauh dari Bumi kembali ramai dibahas. Di media sosial, narasinya cepat melebar,
Adanya gaya pasang surut tersebut menyebabkan lautan bergelombang dan membentuk dua tonjolan, mengarah dan menjauhi Bulan.
Salah satu aspek paling penting dari penelitian ini adalah memastikan bahwa hidrogen yang ditemukan bukan hasil kontaminasi dari lingkungan Bumi.
Wahana Luar Angkasa yang Mendarat ke Bumi Berpotensi Rusak Lapisan Atmosfer? Begini Penjelasannya
Dari analisis terbaru, para peneliti melaporkan penemuan sebuah kandidat planet berbatu yang ukurannya sedikit lebih besar dari Bumi dan mengorbit sebuah bintang mirip Matahari.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved