Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
CUACA buruk yang melanda sejumlah wilayah, mulai dari curah hujan tinggi hingga suhu dingin ekstrem, menjadi alarm bagi orangtua untuk memperketat penjagaan kesehatan anak.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Respirologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Darmawan Budi Setyanto, Sp.A (K), memperingatkan bahwa kondisi lingkungan yang tidak mendukung dapat menurunkan daya tahan tubuh secara drastis.
Penurunan imunitas ini menjadi pintu masuk utama bagi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Menurut Darmawan, setiap organ tubuh manusia sebenarnya memiliki mekanisme pertahanan alami, baik itu di kulit, saluran cerna, maupun saluran napas. Namun, faktor eksternal yang ekstrem dapat melumpuhkan pertahanan tersebut.
"Jadi, semua organ tubuh kita punya mekanisme pertahanan. Saluran cerna, kulit, saluran nafas punya mekanisme. Pada keadaan cuaca yang tidak bagus, hujan, dingin, apalagi di daerah yang terkena bencana banjir misalnya, nah itu lebih-lebih lagi, suasana lingkungan seperti itu akan sangat menurunkan kemampuan, daya tahan tubuh, sehingga lebih mudah lagi terjadi ISPA," ujar Darmawan, dikutip Kamis (18/12).
Kondisi lingkungan yang dingin, lembap, dan basah memberikan beban tambahan bagi tubuh anak untuk beradaptasi. Dampak yang paling sering muncul adalah selesma—infeksi virus pada saluran pernapasan yang memicu batuk, pilek, dan demam. Gejala ini merupakan bentuk "peperangan" tubuh saat melawan virus melalui penumpukan lendir di hidung dan tenggorokan.
Meski selesma ringan biasanya membaik dalam dua hingga tiga hari, Darmawan mengingatkan orangtua untuk waspada jika kondisi anak tidak kunjung membaik pada hari keempat atau kelima. Terdapat risiko kecil namun fatal jika virus menyebar hingga ke paru-paru dan menyebabkan pneumonia.
"Pada sebagian kecil kasus ISPA, selain terkena salurannya, kemudian kena ke parunya. Itu yang akan menyebabkan sesak napas, napas cepat dan napas sesak. Itu kejadiannya klasik ya biasanya 3-4 hari sebelumnya demam, batuk pilek. Belum sesak. Nanti hari ke-4 atau ke-5 kemudian jadi sesak. Nah pada hari ke-4 itu terjadi pneumonia," jelasnya.
Dalam menghadapi ancaman cuaca buruk, Darmawan menekankan pentingnya pola hidup bersih dan sehat (PHBS) serta asupan nutrisi yang tepat daripada sekadar mengandalkan suplemen. Kebutuhan vitamin dan mineral anak sebaiknya dipenuhi melalui makanan bergizi seimbang yang terdiri dari protein, sayur, dan buah.
"Dari proteinnya terpenuhi, sayurnya, buahnya. Anak-anak kan suka susah di situ. Nah di situ, kalau itu sudah terpenuhi, dengan sendirinya vitamin dan mineralnya juga cukup. Jadi, tidak perlu lagi mengandalkan vitamin tambahan dari luar. Boleh, tapi jangan sampai salah anggapan, minum vitamin jadi kebal," tegas Darmawan.
Selain pemenuhan nutrisi, langkah preventif seperti rutin mencuci tangan, penggunaan masker, dan istirahat yang cukup tetap menjadi kunci utama dalam menjaga kebugaran, baik bagi anak-anak maupun para sukarelawan yang bertugas di daerah bencana. (Ant/Z-1)
Gelombang tinggi berlangsung di perairan Jawa Tengah hingga 4 meter hingga berdampak mengganggu aktivitas pelayaran.
Pola hujan pada awal tahun 2026 di Pulau Jawa menunjukkan karakter yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
STASIUN Meteorologi pada BMKG Yogyakarta mengimbau masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta waspada cuaca ekstrem hingga 25 Januari mendatang.
Pada awal 2026, Indonesia masih merasakan pengaruh fenomena La Nina.
CUACA ekstrem berupa hujan disertai angin kencang terus melanda Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), dalam beberapa hari terakhir.
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem.
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved