Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Cuaca Ekstrem Sebabkan  Daya Tahan Tubuh Anak Rentan Menurun

Basuki Eka Purnama
18/12/2025 19:42
Cuaca Ekstrem Sebabkan  Daya Tahan Tubuh Anak Rentan Menurun
Ilustrasi(Freepik)

CUACA buruk yang melanda sejumlah wilayah, mulai dari curah hujan tinggi hingga suhu dingin ekstrem, menjadi alarm bagi orangtua untuk memperketat penjagaan kesehatan anak

Dokter Spesialis Anak Konsultan Respirologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Darmawan Budi Setyanto, Sp.A (K), memperingatkan bahwa kondisi lingkungan yang tidak mendukung dapat menurunkan daya tahan tubuh secara drastis.

Penurunan imunitas ini menjadi pintu masuk utama bagi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). 

Menurut Darmawan, setiap organ tubuh manusia sebenarnya memiliki mekanisme pertahanan alami, baik itu di kulit, saluran cerna, maupun saluran napas. Namun, faktor eksternal yang ekstrem dapat melumpuhkan pertahanan tersebut.

"Jadi, semua organ tubuh kita punya mekanisme pertahanan. Saluran cerna, kulit, saluran nafas punya mekanisme. Pada keadaan cuaca yang tidak bagus, hujan, dingin, apalagi di daerah yang terkena bencana banjir misalnya, nah itu lebih-lebih lagi, suasana lingkungan seperti itu akan sangat menurunkan kemampuan, daya tahan tubuh, sehingga lebih mudah lagi terjadi ISPA," ujar Darmawan, dikutip Kamis (18/12).

Dari Selesma Menuju Risiko Pneumonia

Kondisi lingkungan yang dingin, lembap, dan basah memberikan beban tambahan bagi tubuh anak untuk beradaptasi. Dampak yang paling sering muncul adalah selesma—infeksi virus pada saluran pernapasan yang memicu batuk, pilek, dan demam. Gejala ini merupakan bentuk "peperangan" tubuh saat melawan virus melalui penumpukan lendir di hidung dan tenggorokan.

Meski selesma ringan biasanya membaik dalam dua hingga tiga hari, Darmawan mengingatkan orangtua untuk waspada jika kondisi anak tidak kunjung membaik pada hari keempat atau kelima. Terdapat risiko kecil namun fatal jika virus menyebar hingga ke paru-paru dan menyebabkan pneumonia.

"Pada sebagian kecil kasus ISPA, selain terkena salurannya, kemudian kena ke parunya. Itu yang akan menyebabkan sesak napas, napas cepat dan napas sesak. Itu kejadiannya klasik ya biasanya 3-4 hari sebelumnya demam, batuk pilek. Belum sesak. Nanti hari ke-4 atau ke-5 kemudian jadi sesak. Nah pada hari ke-4 itu terjadi pneumonia," jelasnya.

Nutrisi sebagai Perisai Utama

Dalam menghadapi ancaman cuaca buruk, Darmawan menekankan pentingnya pola hidup bersih dan sehat (PHBS) serta asupan nutrisi yang tepat daripada sekadar mengandalkan suplemen. Kebutuhan vitamin dan mineral anak sebaiknya dipenuhi melalui makanan bergizi seimbang yang terdiri dari protein, sayur, dan buah.

"Dari proteinnya terpenuhi, sayurnya, buahnya. Anak-anak kan suka susah di situ. Nah di situ, kalau itu sudah terpenuhi, dengan sendirinya vitamin dan mineralnya juga cukup. Jadi, tidak perlu lagi mengandalkan vitamin tambahan dari luar. Boleh, tapi jangan sampai salah anggapan, minum vitamin jadi kebal," tegas Darmawan.

Selain pemenuhan nutrisi, langkah preventif seperti rutin mencuci tangan, penggunaan masker, dan istirahat yang cukup tetap menjadi kunci utama dalam menjaga kebugaran, baik bagi anak-anak maupun para sukarelawan yang bertugas di daerah bencana. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik