Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Menag Harap WNI Islam Bisa Baca Al-Qur'an

Abdillah M Marzuqi
18/12/2025 08:10
Menag Harap WNI Islam Bisa Baca Al-Qur'an
Menteri Agama Nasaruddin Umar(Dok.HO)

 

KEMENTERIAN Agama (Kemenag) merilis hasil Asesmen Baca Al-Qur’an bagi Guru dan Pengawas Pendidikan Agama Islam (PAI) se-Indonesia di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (17/12). Temuan ini mengungkapkan data yang cukup mengejutkan. Mayoritas guru PAI di enam provinsi Pulau Jawa masih berada pada tingkat kemampuan pratama atau dasar.

Menanggapi hasil tersebut, Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan komitmen pemerintah untuk melakukan langkah intervensi menyeluruh. "Langkah selanjutnya kita akan menindaklanjuti survei ini dengan sampel seluruh Indonesia, bukan hanya Pulau Jawa," ujar Menag saat ditemui usai acara.

Hasil asesmen itu juga menjadi landasan untuk melaksanakan program Bebas Buta Huruf Al-Qur’an yang menargetkan warga negara Indonesia muslim bisa membaca Al-Qur’an.

“Dan itu nanti akan ada solusi yang kita akan lakukan, ya, bagaimana caranya supaya seluruh warga negara Islam Indonesia itu bisa baca Qur'an. Itu tanggung jawab kita semuanya,” tegasnya.

Target utama program ini adalah anak-anak usia sekolah, mulai dari tingkat TK hingga SMA/SMK, guna memastikan generasi mendatang bebas dari buta huruf Al-Qur'an.

Kemenag menekankan kualitas bacaan murid sangat terkait pada kemampuan gurunya. Oleh karena itu, hasil asesmen ini akan dijadikan landasan pelatihan intensif. Guru yang telah dilatih dan lulus akan diberikan sertifikat (syahadah) sebagai syarat sah mengajar Al-Qur’an di sekolah umum.

Guru mengaji di desan dan peran pemerintah daerah

Menag juga menyatakan akan menyiapkan langkah strategis, termasuk juga melibatkan pemerintah daerah (pemda).

"Nanti kita akan ada imbauan-imbauan juga. Apa yang dilakukan PTIQ ya itu perlu ditindaklanjuti oleh lembaga-lembaga lain untuk menindaklanjuti bagaimana supaya termasuk pemda setempat juga bertanggung jawab untuk mencerdaskan bacaan Quran warganya," tambahnya.

Ia juga menyoroti pentingnya apresiasi bagi para pejuang literasi Al-Qur’an, khususnya guru mengaji di pedesaan yang selama ini bekerja secara sukarela.

"Dan insyaallah ke depan Kementerian Agama akan berkonsentrasi memberikan dorongan motivasi kepada masyarakat untuk membaca Quran dengan fasih, ya kan. Dan guru-guru mengaji di pedesaan, di tingkat desa, di tingkat daerah itu pun juga kalau perlu diberikan apresiasi oleh Pemda," sambungnya.

Menurutnya, guru mengaji di pedesaan masih kurang mendapat perhatian.

"Kalau di sana kan enggak ada gajinya, itu ikhlas lillahi ta'ala. Ya, hanya dapat zakat fitrah sekali setahun. Dia tekun saja mengajar, itu kan adalah amal. Nah, ke depan itu harus diberikan apresiasi. Masa mengajar 24 jam, muridnya berganti silih berganti, nggak ada apresiasi dari pemerintah," pungkasnya. 

Masih level dasar

Asesmen ini menyasar guru-guru PAI yang memegang peran vital sebagai pengawal kemampuan baca Al-Qur’an siswa di sekolah. Namun, kualitas pengajar justru ditemukan masih perlu banyak perbaikan. Di Jawa Barat, misalnya, sebanyak 68% atau 24.162 peserta berada di level pratama, mahir (9%,) dan menengah (22%).

Berikut adalah persentase guru PAI yang masih berada di level pratama (skala nilai 0–90) di enam provinsi:

  • Jawa Barat: 68% (24.162 peserta).
  • DI Yogyakarta: 61% (1.818 peserta).
  • Banten: 60% (4.925 peserta).
  • Jakarta: 57% (2.344 peserta).
  • Jawa Tengah: 54% (15.347 peserta).
  • Jawa Timur: 52% (14.781 peserta).

Asesmen ini dilakukan secara daring terintegrasi yang melibatkan asesor langsung dari Perguruan Tinggi Ilmu Qur’an (PTIQ). Komponen penilaian meliputi makharij al-huruf, shifat al-huruf, ahkam al-huruf, serta ahkam al-mad wa qashr. (M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik