Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
MAKANAN olahan ultraproses semakin mendominasi pola konsumsi masyarakat modern. Produk-produk, mulai dari minuman ringan, camilan kemasan, sereal sarapan manis, hingga makanan siap saji dipilih karena praktis, mudah ditemukan, dan memiliki masa simpan yang panjang. Namun, di balik kepraktisannya, berbagai penelitian mulai menyoroti dampak buruknya terhadap kesehatan.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Advances in Nutrition menemukan bahwa konsumsi makanan ultraproses berkaitan dengan peningkatan risiko sejumlah penyakit kronis.
Di antaranya adalah diabetes, hipertensi, dislipidemia atau gangguan kadar lemak dalam darah, serta obesitas. Kondisi-kondisi ini diketahui sebagai faktor utama pemicu penyakit jantung dan pembuluh darah.
Melansir laman American Society for Nutrition, Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu contoh negara dengan tingkat konsumsi makanan ultra-proses yang sangat tinggi.
Rata-rata, sekitar 55% asupan energi harian orang dewasa di negara tersebut berasal dari produk ultra-proses. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran karena pola konsumsi serupa juga mulai terjadi di banyak negara lain, seiring meningkatnya gaya hidup serba instan.
Dalam kajian berjudul Ultra-Processed Foods and Human Health: A Systematic Review and Meta-Analysis of Prospective Cohort Studies, para peneliti menganalisis data dari 25 studi kohort.
Analisis ini bertujuan menilai hubungan antara konsumsi makanan ultra-proses dengan risiko diabetes, hipertensi, dislipidemia, dan obesitas. Hasilnya menunjukkan adanya keterkaitan yang konsisten antara tingginya konsumsi makanan ultra-proses dan meningkatnya risiko gangguan kesehatan tersebut.
Meski menunjukkan hubungan yang signifikan, para peneliti mengingatkan bahwa kualitas bukti ilmiah yang tersedia masih tergolong rendah berdasarkan sistem penilaian NutriGrade.
Selain itu, besarnya risiko yang dilaporkan dapat berbeda-beda tergantung pada metode yang digunakan untuk mengukur konsumsi makanan ultra-proses dalam setiap penelitian.
Terlepas dari keterbatasan tersebut, para penulis menilai hasil kajian ini tetap mendukung rekomendasi kesehatan masyarakat untuk membatasi konsumsi makanan ultraproses.
Mereka juga menekankan pentingnya pengembangan metode penilaian yang lebih akurat, termasuk pemetaan jenis produk, kandungan gizi, serta proses dan bahan tambahan yang digunakan dalam pembuatannya.
Kajian ini turut disertai editorial pendamping yang menegaskan bahwa bukti ilmiah terkait dampak buruk makanan ultra-proses terhadap kesehatan sudah cukup kuat untuk mendapat perhatian serius.
Editorial tersebut menyebutkan bahwa variasi hasil penelitian tidak sebesar yang sering diklaim oleh industri makanan ultra-proses dan pihak terkait lainnya.
Dengan semakin banyaknya temuan ilmiah, para ahli mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam memilih makanan.
Membatasi konsumsi makanan ultra-proses, membaca label dengan cermat, serta mengutamakan bahan pangan segar dan minim proses dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan dalam jangka panjang. (American Society for Nutrition/Z-1)
Makanan ultraproses yang padat energi dan sangat menggugah selera merupakan faktor utama yang membuat orang makan berlebihan.
Sebuah studi di Inggris mengungkapkan konsumsi makanan rumahan membuat turun berat badan dua kali lebih banyak.
Sebuah studi menunjukan makanan ultraproses dapat meningkatkan risiko kanker paru sebesar 41% bagi yang sering mengonsumsinya.
Ketua Umum IAKMI menjelaskan mengenai bahaya mengonsumsi makanan ultraproses yang dilakukan terus-menerus. Ia mengatakan berbagai penyakit katastropik mengintai.
Makanan ultra-proses semakin menjadi bagian utama dari pola makan modern. Kepraktisan dan rasa yang menggoda sering kali membuat makanan ini menjadi pilihan favorit banyak orang
Ancaman super flu, infeksi saluran pernapasan akibat virus influenza dengan gejala yang lebih berat dibanding flu biasa, kian menjadi perhatian.
Pekerja lapangan menghadapi risiko penyakit yang cukup serius, mulai dari leptospirosis, infeksi kulit, diare, hingga infeksi saluran pernapasan.
Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan satu anak dengan gizi buruk, satu anak stunting, dan enam anak dengan gizi kurang.
SERANGAN penyakit kutu air (balancat) dan diare mulai menyerang korban banjir di Provinsi Kalimantan Selatan.
Kolesterol yang tinggi sering disebut sebagai silent killer dan dapat menjadi penyebab dari berbagai penyakit serius.
Musim flu di New York tahun ini datang lebih awal dan menyebar lebih cepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved